Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, inilah hal-hal yang dapat meningkatkan risiko kadar kolesterol yang tidak sehat.
1. Gaya hidup yang tidak sehat
- Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan LDL. Lemak jenuh terkandung dalam daging berlemak dan produk susu. Konsumsi lemak jenuh jangan lebih dari 10 persen dari asupan kalori harian.
- Kurang aktivitas fisik.
- Merokok menurunkan HDL, terutama pada perempuan, dan meningkatkan HDL.
- Stres dapat meningkatkan kadar hormon tertentu, seperti kortikosteroid. Ini bisa menyebabkan tubuh membuat lebih banyak kolesterol.
- Minum terlalu banyak alkohol (lebih dari dua gelas untuk laki-laki dan satu gelas untuk perempuan).
2. Riwayat keluarga
Anggota keluarga biasanya memiliki kadar kolesterol yang sama. Ini menunjukkan bahwa gen dapat meningkatkan risiko kamu memiliki kadar kolesterol yang tidak sehat.
Mutasi pada gen bisa diturunkan dari orang tua ke anak, yang dapat menyebabkan hiperkolesterolemia familial. Jika ada riwayat kolesterol tinggi dalam keluarga, mungkin lebih sulit bagi tubuh kamu untuk menghilangkan LDL dari darah atau memecahnya di hati.
3. Kondisi medis
Banyak masalah kesehatan yang meningkatkan risiko kolesterol darah tinggi disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya, kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas, yang terkait dengan diabetes dan sleep apnea.
Bagi orang dengan kondisi seperti lupus dan HIV, kondisi itu sendiri dan obat yang digunakan untuk mengobatinya dapat menyebabkan kadar kolesterol tidak sehat.
Konsultasikan dengan dokter tentang risiko kolesterol tinggi jika kamu memiliki salah satu dari kondisi berikut ini:
- Penyakit ginjal kronis.
- Diabetes.
- Infeksi HIV.
- Hipotiroidisme.
- Lupus.
- Kelebihan berat badan dan obesitas.
- Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
- Sleep apnea.
4. Obat-obatan
Beberapa obat untuk masalah kesehatan lain dapat meningkatkan kadar LDL atau menurunkan kadar LDL. Contohnya:
- Obat aritmia, seperti amiodarone.
- Beta-blocker untuk meredakan nyeri dada angina atau mengobati tekanan darah tinggi.
- Obat kemoterapi.
- Obat diuretik seperti thiazide untuk mengobati tekanan darah tinggi.
- Obat imunosupresif, seperti cyclosporine, untuk mengobati penyakit radang atau untuk mencegah penolakan setelah transplantasi organ.
- Retinoid untuk mengobati jerawat.
- Steroid, seperti prednisone, untuk mengobati penyakit peradangan seperti lupus, artritis reumatoid, dan psoriasis
5. Usia
Kadar kolesterol yang tidak sehat dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia, bahkan anak-anak. Namun, kolesterol tinggi paling sering didiagnosis pada usia antara 40 dan 59 tahun.
Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh berubah. Hati tidak menghilangkan LDL seperti saat usia lebih muda. Perubahan normal ini dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi seiring bertambahnya usia.
6. Ras atau etnis
- Secara keseluruhan, orang kulit putih non-Hispanik lebih cenderung memiliki kadar kolesterol total yang tinggi dibandingkan kelompok lain.
- Asia-Amerika, termasuk keturunan India, Filipina, Jepang, dan Vietnam, lebih cenderung memiliki kadar LDL yang tinggi dibandingkan kelompok lain.
- Hispanik-Amerika lebih cenderung memiliki kadar HDL yang lebih rendah daripada kelompok lain.
- Orang Afrika-Amerika lebih cenderung memiliki kadar HDL yang tinggi dibandingkan kelompok lain. Namun, mereka lebih cenderung memiliki faktor risiko lain, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, atau diabetes, yang dapat melemahkan manfaat kesehatan dari kadar HDL yang lebih tinggi.
7. Jenis kelamin
Antara usia 20 dan 39, laki-laki memiliki risiko kolesterol total yang lebih tinggi daripada perempuan. Sementara itu, risiko perempuan meningkat setelah menopause.
Menopause menurunkan kadar hormon perempuan yang dapat melindungi dari kolesterol tinggi. Setelah menopause, kadar LDL perempuan biasanya naik, sementara kadar HDL turun.