Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Fakta Wabah Pes yang Pernah Jadi Pandemik Mematikan Dunia
ilustrasi sakit (pexels.com/RDNE Stock Project)
  • Dugaan wabah pes di Siberia dibantah pemerintah Rusia; pekerja fasilitas riset biologis dilaporkan meninggal akibat radang paru-paru berat, tanpa bakteri pes terdeteksi.
  • Black Death, pandemi pes di Eropa abad ke-14, menewaskan lebih dari 50 juta orang. Penyakit akibat Yersinia pestis ini kala itu terutama menyebar melalui kutu dari hewan terinfeksi.
  • Pes memiliki bentuk bubonik, septikemik, dan pneumonik; jenis pneumonik dapat menular antarmanusia. Penyakit ini masih ditemukan, tetapi dapat diobati dengan antibiotik bila terdeteksi dan ditangani dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabar soal dugaan wabah pes di Siberia, Rusia, baru-baru ini menjadi perhatian setelah seorang pekerja fasilitas riset biologis meninggal dunia. Pemerintah Rusia kemudian membantah adanya status darurat wabah pes di wilayah tersebut dan menyatakan kondisi kesehatan masyarakat tetap stabil. Hasil pemeriksaan juga menyebut pekerja tersebut meninggal akibat radang paru-paru berat dan tidak ditemukan bakteri penyebab pes dalam tubuhnya.

Meski kasus tersebut bukan wabah pes, penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini memang pernah menjadi salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia. Pes bahkan pernah menyebar luas hingga menyebabkan pandemik dan menewaskan jutaan orang. Lalu, seperti apa fakta tentang wabah pes yang pernah mengguncang dunia? Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!

1. Black death pernah menewaskan jutaan orang

ilustrasi tengkorak manusia (pexels.com/Boris Hamer)

Black death merupakan nama yang digunakan untuk menyebut pandemik pes besar yang melanda Eropa pada abad ke-14. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa ketika penyakit pes menyebar luas dan menewaskan jutaan orang. Mengutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), black death menyebabkan lebih dari 50 juta kematian di Eropa pada abad ke-14.

Penyakit pes sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang bisa menginfeksi manusia dan sejumlah jenis hewan. Pada masa itu, penyakit ini menyebar melalui kutu yang membawa bakteri setelah mengisap darah hewan yang terinfeksi. Ketika kutu tersebut menggigit manusia, bakteri bisa masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi.

Salah satu bentuk pes yang paling umum adalah pes bubonik, yang ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening atau benjolan yang terasa sakit. Wabah pes pada masa black death menjadi salah satu pandemik paling mematikan dalam sejarah manusia. Meski begitu, pes saat ini bisa diobati dengan antibiotik jika penyakit dikenali dan ditangani sejak dini.

2. Pes bisa menyerang kelenjar getah bening hingga paru-paru

ilustrasi sakit (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pes memiliki tiga bentuk utama, yaitu pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik. Dilansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum dan menyerang kelenjar getah bening hingga menyebabkan pembengkakan yang terasa nyeri. Pes septikemik terjadi ketika bakteri Yersinia pestis menginfeksi aliran darah dan bisa menyebabkan kondisi serius.

Sementara itu, pes pneumonik terjadi ketika bakteri menginfeksi paru-paru dan dapat berkembang dari pes bubonik atau septikemik yang tidak ditangani. Bentuk pneumonik juga menjadi satu-satunya jenis pes yang bisa menular langsung dari manusia ke manusia melalui percikan pernapasan. Karena dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan gangguan pernapasan berat, pes pneumonik membutuhkan penanganan medis segera.

3. Pes masih ada hingga sekarang, tapi bisa diobati

ilustrasi antibiotik (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Pes bukan hanya penyakit yang tercatat dalam sejarah, tetapi masih ditemukan hingga saat ini di sejumlah wilayah dunia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang umumnya menyebar melalui gigitan kutu yang terinfeksi. CDC menjelaskan bahwa pes bisa diobati dengan antibiotik, terutama jika pengobatan diberikan sedini mungkin.

Penanganan yang cepat penting karena penyakit ini dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan kondisi serius. Tanpa pengobatan, pes bisa menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Karena itu, deteksi dini dan pemberian antibiotik menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi berkembang menjadi lebih parah.

Pes memang pernah menjadi penyebab pandemik besar yang menewaskan jutaan orang, tetapi penyakit ini bukan sekadar bagian dari sejarah. Hingga kini, pes masih ditemukan di sejumlah wilayah dan tetap perlu diwaspadai, terutama karena beberapa bentuknya bisa berkembang sangat cepat. Kabar baiknya, pes bisa diobati dengan antibiotik jika diagnosis dan penanganan dilakukan sedini mungkin.

Referensi

"Plague". World Health Organization (WHO). Diakses pada Oktober 2026.

"Signs and Symptoms of Plague". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Oktober 2026.

"About Plague". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article