Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang laki-laki mengalami flu.
ilustrasi flu (pexels.com/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Gejala super flu: batuk, pilek, demam, nyeri otot, kelelahan, dan lemas.

  • Kelompok berisiko: anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

  • Kapan harus menemui dokter: sesak napas, tubuh lemah, nafsu makan menurun drastis, demam tinggi dan batuk pilek tidak kunjung membaik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Super flu belakangan ramai diperbincangkan dan memicu kekhawatiran di beberapa negara. Penyakit ini disebut menyebar cepat dan dikaitkan dengan lonjakan kasus di beberapa wilayah. Banyak orang bertanya-tanya apakah super flu benar benar berbahaya dan perlu kewaspadaan ekstra.

Menanggapi hal ini, IDN Times menghadirkan dr. Albert Sedjahtera, MRes, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RS Atma Jaya, membahas apa saja gejala dan tanda bahaya super flu yang perlu dikenali dalam program Health Talk yang disiarkan langsung di Instagram @idntimes pada Rabu (7/1/2026).

1. Gejala super flu

Menurut dr. Albert, super flu memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi akibat mutasi virus, sehingga lebih mudah menyebar antarindividu. Meski demikian, dari sisi keparahan, gejalanya secara umum masih sebanding dengan varian influenza lainnya.

Seperti flu pada umumnya, batuk dan pilek menjadi gejala yang paling dominan, disertai demam, nyeri otot, kelelahan, serta rasa lemas yang cukup mengganggu aktivitas. Ia menegaskan, influenza memiliki spektrum gejala yang sangat luas, mulai dari tanpa gejala, ringan, hingga berat.

Pada sebagian besar orang, flu bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan pasien dengan penyakit penyerta, risiko munculnya gejala yang lebih berat perlu diwaspadai.

"Yang perlu diperhatikan adalah terjadi gejala yang parah. Maksudnya, flu itu bisa sembuh dengan sendirinya, tapi di populasi yang khusus atau yang lebih rentan itu akan lebih berisiko untuk menjadi gejala yang lebih berat," dr. Albert menjelaskan.

2. Kelompok yang berisiko

ilustrasi lansia (pexels.com/cottonbro studio)

Super flu bisa berdampak lebih serius pada kelompok tertentu yang memiliki kerentanan lebih tinggi, kata dr. Albert. Anak-anak, terutama balita, serta lansia berusia di atas 65 tahun termasuk kelompok yang paling berisiko.

Selain itu, ibu hamil dan orang dengan penyakit kronis seperti gangguan kardiovaskular, hipertensi, diabetes, kanker, hingga kondisi yang berkaitan dengan sistem imun juga perlu lebih waspada.

Pada kelompok rentan ini, infeksi influenza berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, sehingga penting untuk segera memperhatikan tanda perburukan gejala dan tidak menunda penanganan medis.

3. Kapan harus menemui dokter?

Menurut dr. Albert, super flu perlu segera ditangani oleh tenaga medis jika muncul tanda-tanda infeksi yang mengarah pada kondisi berat. Salah satu yang paling diwaspadai adalah sesak napas, karena virus influenza dapat menyebabkan peradangan paru atau pneumonia. Risiko ini jauh lebih tinggi pada kelompok rentan, sehingga dalam kondisi tertentu pasien bisa memerlukan terapi antivirus.

Selain itu, penanganan medis juga dianjurkan jika aktivitas harian terganggu karena tubuh terasa sangat lemah, nafsu makan menurun drastis hingga sulit memenuhi kebutuhan nutrisi, atau demam tinggi dan batuk pilek tidak kunjung membaik setelah beberapa hari.

Gejala-gejala tersebut menjadi sinyal bahwa infeksi tidak lagi ringan dan membutuhkan evaluasi dokter secepatnya.

Super flu memang menimbulkan kekhawatiran karena penularannya yang cepat, tetapi dengan mengenali gejala serta tanda bahaya sejak dini, dampak yang lebih berat dapat dicegah. Jangan ragu memeriksakan diri ke dokter jika keluhan memburuk atau tidak kunjung membaik, terutama pada kelompok rentan.

Editorial Team