Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang laki-laki mengalami kelelahan akibat kardiomiopati hipertrofi.
ilustrasi kelelahan (pexels.com/ShotPot)

Intinya sih...

  • Kardiomiopati hipertrofi sering menunjukkan gejala ringan dan tidak spesifik.

  • Tanda-tandanya kerap muncul saat beraktivitas sehari-hari, bukan kondisi ekstrem.

  • Deteksi dini penting untuk mencegah komplikasi serius, termasuk henti jantung mendadak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kardiomiopati hipertrofi (hypertrophic cardiomyopathy/HCM) adalah penyakit otot jantung yang ditandai dengan penebalan abnormal dinding jantung, terutama pada bilik kiri. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah keluar dari jantung dan memengaruhi fungsi listrik jantung. Meski tergolong penyakit genetik paling umum pada jantung, tetapi banyak orang hidup bertahun-tahun tanpa menyadari mereka mengalaminya.

Berbeda dari serangan jantung yang datang tiba-tiba dan dramatis, kardiomiopati hipertrofi sering berkembang perlahan dengan gejala yang samar. Banyak pengidapnya masih mampu bekerja, berolahraga ringan, dan menjalani rutinitas harian tanpa keluhan mencolok. Namun, justru karena itulah penyakit ini kerap luput.

Padahal, pada sebagian orang, kardiomiopati hipertrofi dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung, gagal jantung, hingga henti jantung mendadak. Mengenali tanda-tanda halus yang muncul dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk diagnosis lebih dini dan pencegahan komplikasi serius.

1. Mudah lelah saat beraktivitas ringan

Rasa lelah yang datang lebih cepat dari biasanya sering dianggap wajar, apalagi di tengah ritme hidup yang padat. Namun, pada kardiomiopati hipertrofi, kelelahan muncul karena jantung yang menebal kesulitan memompa darah secara efisien ke seluruh tubuh.

Ketika otot dan organ tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup, tubuh merespons dengan rasa cepat lelah, meski aktivitasnya tergolong ringan, seperti menaiki tangga, berjalan agak jauh, atau melakukan pekerjaan rumah. Kondisi ini berbeda dari kelelahan biasa karena tidak selalu membaik meski sudah cukup istirahat.

Kelelahan merupakan salah satu gejala paling umum pada kardiomiopati hipertrofi, terutama pada fase awal ketika gejala lain belum jelas terlihat.

2. Napas pendek saat beraktivitas atau berbaring

ilustrasi napas pendek saat berbaring (freepik.com/jcomp)

Sesak napas yang muncul perlahan sering disalahartikan sebagai kurang olahraga atau faktor usia. Pada kardiomiopati hipertrofi, penebalan otot jantung membuat bilik jantung menjadi lebih kaku, sehingga pengisian darah saat relaksasi terganggu.

Akibatnya, tekanan di dalam jantung dan paru-paru meningkat. Hal ini memicu napas pendek, terutama saat beraktivitas atau ketika berbaring telentang. Sebagian orang bahkan merasa harus menggunakan bantal tambahan agar bisa bernapas lebih lega saat tidur.

Sesak napas merupakan gejala penting kardiomiopati hipertrofi dan sering kali menjadi alasan seseorang akhirnya menemui dokter.

3. Jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur

Palpitasi atau sensasi jantung berdebar kencang bisa muncul tiba-tiba, bahkan saat sedang duduk santai. Pada kardiomiopati hipertrofi, struktur otot jantung yang abnormal dapat mengganggu sistem listrik jantung dan memicu aritmia.

Denyut jantung bisa terasa lebih cepat, tidak beraturan, atau seperti “meloncat”. Meski kadang berlangsung singkat, tetapi kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena aritmia tertentu dapat meningkatkan risiko stroke atau henti jantung mendadak.

Gangguan irama jantung merupakan komplikasi penting pada kardiomiopati hipertrofi dan perlu evaluasi medis menyeluruh.

4. Pusing atau hampir pingsan

ilustrasi pusing (freepik.com/8photo)

Rasa pusing, melayang, atau hampir pingsan bisa muncul saat berdiri tiba-tiba atau setelah aktivitas fisik. Pada kardiomiopati hipertrofi, aliran darah keluar dari jantung bisa terhambat, terutama saat tubuh membutuhkan peningkatan suplai darah.

Kondisi ini menyebabkan otak menerima aliran darah yang tidak mencukupi dalam waktu singkat. Meski tidak selalu berujung pingsan, tetapi gejala ini merupakan sinyal penting adanya gangguan sirkulasi.

Pusing dan pingsan merupakan gejala yang perlu diwaspadai karena berkaitan dengan risiko aritmia serius pada kardiomiopati hipertrofi.

5. Nyeri dada yang tidak khas

Tidak semua nyeri dada menandakan serangan jantung. Pada kardiomiopati hipertrofi, nyeri dada sering muncul saat aktivitas fisik dan mereda saat istirahat, mirip angina. Namun, nyerinya bisa terasa ringan, menekan, atau hanya berupa rasa tidak nyaman.

Nyeri ini terjadi karena otot jantung yang menebal membutuhkan lebih banyak oksigen, sementara aliran darah ke jaringan tersebut terbatas. Akibatnya, muncul ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen.

Nyeri dada pada kardiomiopati hipertrofi sering kali tidak khas dan dapat terjadi bahkan tanpa adanya penyumbatan pembuluh darah koroner.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?

ilustrasi berkonsultasi dengan dokter (freepik.com/freepik)

Pertimbangkan untuk membuat janji temu dengan dokter jika kamu mengalami satu atau beberapa gejala di atas secara berulang, terutama jika muncul saat aktivitas ringan atau memburuk seiring waktu. Riwayat keluarga dengan kardiomiopati hipertrofi, gagal jantung, atau kematian mendadak pada usia muda juga menjadi alasan kuat untuk melakukan skrining.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), dan ekokardiografi untuk menilai struktur dan fungsi jantung. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih tepat, mulai dari pengobatan hingga modifikasi aktivitas.

Referensi

"Hypertrophic cardiomyopathy." American Heart Association. Diakses Januari 2026.

"Hypertrophic cardiomyopathy." Mayo Clinic. Diakses Januari 2026.

"Hypertrophic Cardiomyopathy," n.d., https://www.escardio.org/education/resources/imaging-toolboxes/cardiomyopathies-and-the-athletes-heart/hypertrophic-cardiomyopathy/.

"Hypertrophic Cardiomyopathy." Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.

Hajira Basit et al., “Hypertrophic Cardiomyopathy,” StatPearls - NCBI Bookshelf, June 7, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430788/.

Editorial Team