Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Makanan yang dibakar atau dipanggang punya sifat karsinogenik atau bisa memicu kanker.
Makanan yang dibakar atau dipanggang punya sifat karsinogenik atau bisa memicu kanker. (pexels.com/Askar Abayev)

Intinya sih...

  • Banyak hal di lingkungan sehari-hari mengandung zat yang diklasifikasikan sebagai karsinogen.

  • Paparan terhadap zat-zat ini secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko kanker melalui kerusakan DNA atau mutasi sel.

  • Memahami sumber paparan ini dan menerapkan langkah pencegahan dapat membantu menurunkan risiko jangka panjang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kanker berkembang ketika sel-sel tubuh mengalami kerusakan pada DNA mereka, sehingga mereka tumbuh dan membelah secara tidak terkendali. Banyak faktor dapat memicu kanker, termasuk genetika, gaya hidup, dan lingkungan sekitar.

Organisasi kesehatan dunia seperti International Agency for Research on Cancer (IARC) telah menetapkan daftar zat fisik, kimia, dan biologis yang diklasifikasikan sebagai karsinogen, yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker pada manusia.

Beberapa karsinogen mudah dikenali, tetapi banyak lagi yang mungkin tersembunyi dalam kegiatan atau objek sehari-hari yang biasanya dianggap aman. Paparan berulang atau jangka panjang terhadap zat-zat ini dapat merusak DNA sel dan membuat tubuh menjadi lebih rentan terhadap kanker.

Yuk, ketahui hal-hal di lingkungan sekitar yang ternyata dapat memicu kanker jika kamu terpapar dalam jangka panjang, serta mekanisme bagaimana paparan itu bekerja dan cara meminimalkan risikonya.

1. Polusi udara dan emisi kendaraan

Polusi udara, terutama dari asap kendaraan dan pembakaran bahan bakar fosil, termasuk dalam karsinogenik lingkungan karena mengandung campuran bahan kimia berbahaya seperti benzena, 1,3-butadiena, dan partikulat halus yang dapat merusak DNA sel paru-paru.

Paparan kronis terhadap polusi meningkatkan risiko kanker paru-paru dan kanker saluran pernapasan lainnya. Zat-zat kecil yang masuk ke dalam paru dapat menyebabkan peradangan dan mutasi sel akibat stres oksidatif, sehingga memicu pertumbuhan sel abnormal.

Minimalkan risiko dengan cara mengurangi waktu di area dengan lalu lintas tinggi, dukung kebijakan pengurangan emisi, dan gunakan filter udara dalam ruangan untuk memperbaiki kualitas udara di rumah atau kantor.

2. Radiasi ultraviolet (UV) dari matahari

ilustrasi berjemur di pantai (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Radiasi UV dari sinar matahari adalah karsinogen fisik yang telah dikaitkan dengan kanker kulit, termasuk melanoma. IARC mengklasifikasikan paparan sinar matahari sebagai penyebab kanker kulit karena partikelnya dapat langsung merusak DNA di kulit.

Paparan UV menyebabkan mutasi pada gen regulasi proliferasi sel kulit. Sel kulit yang rusak bisa berubah menjadi sel kanker jika paparan terjadi berulang tanpa perlindungan.

Kamu bisa meminimalkan risiko dengan rutin pakai tabir surya SPF tinggi, kenakan pakaian pelindung, dan batasi paparan matahari terutama saat intensitasnya paling kuat.

3. Radon di rumah

Radon merupakan gas radioaktif alami yang dapat menumpuk di dalam rumah dari peluruhan bahan radioaktif di tanah. IARC mengklasifikasikannya sebagai penyebab penting kanker paru-paru karena paparan inhalasi partikelnya yang memancarkan radiasi ionisasi.

Radon cenderung terkumpul di ruang bawah tanah atau bangunan yang kurang ventilasi. Paparan jangka panjang terhadap radiasi ini meningkatkan kerusakan DNA sel paru dan selanjutnya risiko karsinogenesis.

Cara mencegahnya, kamu bisa melakukan tes radon di rumah, terutama di daerah yang dikenal memiliki kadar radon tinggi, dan ventilasi ruang dengan baik jika ditemukan peningkatan kadar.

4. Asbes dalam material bangunan

ilustrasi rumah beratapkan asbes (commons.wikimedia.org/Harald Weber)

Asbes adalah mineral yang dulunya umum digunakan dalam material bangunan seperti isolasi, plafon, dan ubin lantai. Asbes diklasifikasikan sebagai karsinogen kuat karena hubungan yang kuat dengan mesotelioma dan kanker paru-paru.

Serat-serat kecil asbes dapat terlepas dan terhirup ketika material tua rusak atau dibongkar. Serat ini kemudian menyusup ke jaringan paru dan menyebabkan peradangan kronis serta mutasi sel.

Sebagai pencegahan, jangan mengganggu material yang mengandung asbes. Jika perlu renovasi, gunakan jasa profesional berlisensi untuk penanganan dan pembuangan yang aman.

5. Formaldehida dalam produk rumah tangga

Formaldehida adalah bahan kimia yang ditemukan di banyak produk rumah tangga, mulai dari kayu lapis, bahan bangunan hingga beberapa produk pembersih. Formaldehida diklasifikasikan sebagai karsinogenik karena data kuat yang menunjukkan kaitannya dengan kanker nasofaring dan leukemia.

Paparan formaldehida secara terus-menerus dapat mengiritasi jaringan dan memicu perubahan molekuler pada sel yang akhirnya mengarah pada kanker.

Untuk meminimalkan risikonya, pilihlah produk dengan kadar formaldehida rendah, ventilasi ruang secara rutin, dan kurangi penggunaan pembersih yang mengandung formaldehida.

6. Benzena dari emisi gas dan asap rokok

ilustrasi asap rokok (pexel.com/Pixabay)

Benzena adalah bahan kimia yang dilepaskan melalui asap kendaraan, pembakaran industri, dan terutama asap rokok. IARC mengklasifikasikan benzena sebagai karsinogen yang jelas karena hubungannya dengan leukemia dan kanker darah lainnya.

Benzena memengaruhi sumsum tulang dan sistem darah, merusak struktur DNA sel hematopoietik dan memicu pertumbuhan sel kanker darah.

Cara mencegahnya jelas, yaitu tidak merokok dan hindari paparan asap rokok, serta kurangi waktu di sekitar kendaraan bermotor dalam lalu lintas padat.

7. Vinyl klorida pada produk plastik

Vinyl klorida adalah gas yang digunakan untuk membuat PVC (polyvinyl chloride), yaitu bahan plastik umum dalam pipa, kabel, dan furnitur. IARC menggolongkannya sebagai karsinogen yang diketahui karena kaitannya dengan angiosarkoma hati dan kanker hati lainnya.

Paparan terjadi terutama melalui lingkungan kerja atau di dekat pembuatan PVC, tetapi jejaknya juga dapat ditemukan di lingkungan kontaminasi air atau tanah. Mutagenesis akibat metabolit vinil klorida di hati menyebabkan perubahan genetik sel yang memicu kanker.

Cegah dengan cara menghindari paparan industri langsung, serta pastikan ventilasi pada ruang dengan plastik PVC yang diolah atau disolder.

8. Akrilamida dalam makanan yang dipanggang atau digoreng

ilustrasi menggoreng kentang (unsplash.com/Wine Dharma)

Akrilamida terbentuk ketika makanan kaya pati dipanggang atau digoreng pada suhu tinggi, terutama sampai krem/gelap pada kentang atau roti. Akrilamida dicatat sebagai karsinogen yang diduga berdasarkan bukti dari hewan laboratorium.

Zat ini dapat menyebabkan perubahan pada DNA melalui pembentukan adduct DNA (“jejak” paparan zat berbahaya dalam DNA) yang merusak struktur genetis sel. Risiko ini lebih tinggi bila paparan terus-menerus selama bertahun-tahun dari makanan sehari-hari.

Kamu bisa meminimalkan risiko dengan mengurangi konsumsi makanan goreng/bakar dan pilih metode memasak rendah suhu seperti mengukus atau merebus.

9. Radiasi ionisasi dari sumber medis atau lingkungan

Paparan radiasi ionisasi seperti sinar X, sinar gamma, atau radiasi dari sumber seperti radon, berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker karena kemampuan radiasi ini merusak langsung struktur DNA dalam sel.

Paparan medis seringkali terkontrol, tetapi paparan ulang atau tidak perlu terhadap sinar X atau CT scan dapat menambah beban radiasi total tubuh.

Batasilah paparan medis hanya saat diperlukan dan gunakan perlindungan saat terpapar sinar radiasi yang tidak perlu.

10. Polutan kimia lainnya seperti polychlorinated dioxins

ilustrasi menyemprot pestisida (pexels.com/Rosyid Arifin)

Senayawa seperti dioksin (TCDD) yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna atau limbah industri merupakan karsinogen yang sangat berpotensi karena bioakumulasi di jaringan tubuh.

Paparan kronis terhadap dioksin berkaitan dengan semua situs kanker utama karena mereka dapat memengaruhi jalur pengatur hormon dan deteksi sel abnormal.

Cara mencegahnya adalah dengan menghindari sumber pembakaran bahan berbahaya, serta dukung upaya pengurangan limbah industri berbahaya.

Cara meminimalkan risiko kanker

Meminimalkan risiko kanker yang dipicu oleh lingkungan sekitar bukan berarti menghindari semua paparan, tetapi lebih pada mengurangi paparan kumulatif melalui langkah-langkah praktis, seperti:

  • Ventilasi dan filtrasi udara dalam rumah untuk mengurangi polusi dan radon.

  • Perlindungan kulit dari sinar UV dengan tabir surya dan pakaian pelindung.

  • Menghindari asap rokok dan penggunaan produk tembakau di rumah.

  • Pilihan makanan yang lebih sehat, kurangi makanan yang tinggi akrilamida.

  • Periksa dan tindak lanjuti deteksi radon di rumah, serta batasi paparan radiasi medis yang tidak perlu.

Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi paparan terhadap karsinogen tertentu, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan secara keseluruhan.

Banyak hal di lingkungan sekitar mengandung zat yang dapat meningkatkan risiko kanker jika terpapar dalam jangka panjang. Memahami sumber-sumber karsinogen dan menerapkan langkah pencegahan sederhana dapat membantu kamu mengurangi paparan yang tidak perlu dan menjaga kesehatan jangka panjang.

Risiko kanker bersifat kumulatif, sehingga setiap pengurangan paparan terhadap zat-zat penyebab kanker merupakan investasi penting bagi kualitas hidup.

Referensi

"Known and Probable Human Carcinogens." American Cancer Society. Diakses Februari 2026.

Lorenzo Cohen and Alison Jefferies, “Environmental Exposures and Cancer: Using the Precautionary Principle,” Ecancermedicalscience 13 (April 16, 2019): ed91, https://doi.org/10.3332/ecancer.2019.ed91.

"Air Pollution and Cancer (PDF)" International Agency for Research on Cancer (IARC). Diakses Februari 2026.

"The causes of cancer (PDF)" IARC. Diakses Februari 2026.

"Pencegahan Kanker." MSD Manual. Diakses Februari 2026.

Editorial Team