Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi peringatan hari kanker anak internasional.
ilustrasi peringatan hari kanker anak internasional (freepik.com/Freepik)

Intinya sih...

  • Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak dan remaja di dunia. Padahal, banyak kasus dapat disembuhkan jika terdeteksi dan ditangani tepat waktu.

  • Ketimpangan akses diagnosis dan pengobatan membuat angka kelangsungan hidup sangat berbeda antara negara berpenghasilan tinggi dan rendah.

  • Hari Kanker Anak Sedunia menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran, akses perawatan, dan dukungan bagi penyintas serta keluarga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap tanggal 15 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Anak Sedunia atau International Childhood Cancer Day (ICCD). Hari ini bukan sekadar seremoni global, tetapi pengingat bahwa ribuan anak di seluruh dunia sedang berjuang melawan penyakit yang kompleks dan sering kali datang tanpa peringatan.

Di ruang-ruang perawatan, anak-anak tetap membawa buku gambar, mainan kecil, dan harapan sederhana mereka ingin sembuh dan kembali bermain. Di sisi lain, orang tua menghadapi ketidakpastian, biaya, dan beban emosional yang besar. Hari Kanker Anak Sedunia menjadi ruang solidaritas global untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk hidup.

Momentum tahun 2026 melanjutkan komitmen global untuk meningkatkan akses diagnosis dini, pengobatan yang aman, serta dukungan jangka panjang bagi penyintas kanker anak.

1. Sejarah Hari Kanker Anak Sedunia

Hari Kanker Anak Sedunia pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 oleh Childhood Cancer International (CCI), jaringan organisasi orang tua dan penyintas kanker anak terbesar di dunia. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran global serta mendorong akses perawatan yang setara.

Seiring waktu, kampanye ini mendapat dukungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang pada 2018 meluncurkan Global Initiative for Childhood Cancer (GICC). Inisiatif ini menargetkan peningkatan angka kelangsungan hidup kanker anak hingga minimal 60 persen secara global pada 2030.

WHO menekankan bahwa banyak kanker anak sebenarnya dapat disembuhkan dengan intervensi yang tepat, terutama jika terdeteksi lebih awal dan ditangani sesuai protokol standar.

2. Seberapa besar beban kanker anak?

ilustrasi kanker anak (pexels.com/Tara Winstead)

Menurut WHO, setiap tahun sekitar 400.000 anak dan remaja usia 0–19 tahun didiagnosis kanker di seluruh dunia. Jenis yang paling umum meliputi leukemia, tumor otak, limfoma, dan tumor padat seperti neuroblastoma dan tumor Wilms.

Namun, peluang bertahan hidup sangat bergantung pada lokasi geografis. Di negara berpenghasilan tinggi, tingkat kelangsungan hidup dapat mencapai lebih dari 80 persen. Sebaliknya, di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, angka tersebut bisa turun hingga di bawah 30 persen.

Penelitian global menunjukkan bahwa sebagian besar kematian akibat kanker anak terjadi karena keterlambatan diagnosis, kurangnya akses obat esensial, serta fasilitas perawatan yang terbatas. Ketimpangan ini menjadi fokus utama advokasi Hari Kanker Anak Sedunia.

3. Tema Hari Kanker Anak Sedunia 2026

Tahun 2026 menandai puncak kampanye tiga tahun (2024–2026) yang diusung CCI yang bertajuk “Demonstrating Impact: From Challenge to Change.”

Tema ini adalah bagian dari strategi advokasi global untuk menunjukkan bahwa perubahan nyata dalam tata kelola kanker anak memang mungkin terjadi, dan sudah mulai terlihat di berbagai negara.

Selama periode 2024–2026, kampanye ini berfokus pada:

  • Menunjukkan dampak konkret advokasi dan kolaborasi global.

  • Mendorong perubahan kebijakan berbasis bukti.

  • Mengurangi kesenjangan angka kelangsungan hidup antara negara berpendapatan tinggi dan rendah-menengah.

Kesenjangan tingkat kelangsungan hidup di negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah-menengah inilah yang menjadi latar belakang kampanye “From Challenge to Change.” Tantangannya nyata: keterlambatan diagnosis, akses obat esensial yang terbatas, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, hingga beban finansial keluarga. Namun, perubahan juga nyata. Melalui implementasi program penguatan sistem kesehatan, registri kanker berbasis populasi, serta integrasi kanker anak dalam kebijakan kesehatan nasional.

Sejalan dengan itu, inisiatif seperti GICC yang diluncurkan WHO pada 2018 menargetkan peningkatan angka kelangsungan hidup global menjadi setidaknya 60 persen pada 2030. Kampanye Hari Kanker Anak Sedunia 2026 mempertegas pesan bahwa target tersebut merupakan komitmen kolektif yang perlu terus dikawal.

Dengan menjadikan 2026 sebagai titik kulminasi, Hari Kanker Anak Sedunia tahun ini mengajak kita melihat bukti bahwa dari tantangan, perubahan bisa diwujudkan.

4. Mengapa diagnosis dini sangat penting?

ilustrasi pasien kanker anak (freepik.com/rawpixel.com)

Berbeda dengan kanker dewasa, sebagian besar kanker anak tidak dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup. WHO menjelaskan bahwa penyebabnya sering kali tidak diketahui dan jarang terkait faktor lingkungan atau perilaku.

Karena itu, deteksi dini dan rujukan cepat menjadi kunci. Gejala seperti demam berkepanjangan, memar tanpa sebab, nyeri tulang terus-menerus, atau pembengkakan yang tidak biasa perlu mendapat evaluasi medis segera.

Studi menegaskan bahwa sistem rujukan yang cepat dan akses pengobatan standar secara signifikan meningkatkan angka kelangsungan hidup.

5. Aksi yang bisa dilakukan

Hari Kanker Anak Sedunia bukan hanya untuk tenaga medis atau pembuat kebijakan. Ada langkah konkret yang bisa dilakukan oleh masyarakat:

  • Meningkatkan literasi kesehatan: Mengenali tanda awal kanker anak dan tidak menunda pemeriksaan dapat menyelamatkan nyawa.

  • Mendukung organisasi dan program global: Di Indonesia ada Yayasan Kanker Anak Indonesia, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, dan lain-lain.

  • Mengurangi stigma: Anak dengan kanker dan penyintas sering menghadapi stigma sosial. Dukungan komunitas membantu pemulihan mental dan sosial.

  • Advokasi kebijakan: WHO melalui GICC menekankan pentingnya ketersediaan obat esensial dan penguatan sistem kesehatan. Masyarakat dapat mendorong kebijakan publik yang mendukung layanan kanker anak.

6. Harapan untuk 2026 dan seterusnya

ilustrasi kanker anak (IDN Times/NRF)

Perkembangan terapi, termasuk kemoterapi yang lebih presisi dan terapi target, telah meningkatkan angka kelangsungan hidup secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Namun, kemajuan ini belum dirasakan merata.

Hari Kanker Anak Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa di balik statistik ada wajah-wajah kecil dengan mimpi besar. Upaya global hanya akan bermakna jika diterjemahkan menjadi akses nyata, dukungan berkelanjutan, dan komitmen kolektif untuk menutup kesenjangan perawatan.

Referensi

"The Global Initiative for Childhood Cancer." World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

"Childhood cancer." WHO. Diakses Februari 2026.

Zachary J Ward et al., “Global Childhood Cancer Survival Estimates and Priority-setting: A Simulation-based Analysis,” The Lancet Oncology 20, no. 7 (May 23, 2019): 972–83, https://doi.org/10.1016/s1470-2045(19)30273-6.

"ICCD 2024-2026 Campaign." International Society of Paediatric Oncology. Diakses Februari 2026.

Nickhill Bhakta et al., “Childhood Cancer Burden: A Review of Global Estimates,” The Lancet Oncology 20, no. 1 (January 1, 2019): e42–53, https://doi.org/10.1016/s1470-2045(18)30761-7.

Editorial Team