Berita baiknya, tidur itu faktor risiko yang bisa diubah. Beberapa langkah sederhana namun efektif yang bisa kamu coba:
Targetkan 7–9 jam tidur per malam.
Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
Matikan layar HP/laptop minimal 30–60 menit sebelum tidur.
Buat kamar gelap, sejuk, dan tenang.
Kurangi kafein sore-malam.
Rutin olahraga (tapi jangan terlalu dekat jam tidur).
Kalau kamu sering susah tidur atau terbangun terus pada malam hari, terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) terbukti lebih efektif untuk jangka panjang dibanding obat tidur. Dan, yang tak kalah penting, cek tekanan darah secara rutin, apalagi kalau kamu sering kurang tidur.
Kurang tidur bukan hanya soal capek atau mengantuk, tetapi soal kesehatan jantung jangka panjang. Tidur yang cukup dan berkualitas adalah obat alami yang murah, aman, dan efeknya besar. Kalau kamu ingin tekanan darah tetap stabil, pastikan selalu jaga pola makan, olahraga rutin, dan jaga jam tidurmu. Karena ternyata, tidur adalah investasi kesehatan.
Referensi
American Heart Association. Diakses pada Januari 2026. "Insomnia, Lack of Sleep Linked to High Blood Pressure in Teens."
Bock, J. M., Vungarala, S., Covassin, N., & Somers, V. K. (2021). "Sleep duration and hypertension: Epidemiological evidence and underlying mechanisms." American Journal of Hypertension, 35(1), 3–11. https://doi.org/10.1093/ajh/hpab146.
Cardiology Advisor. Diakses pada Januari 2026. "Exploring the Connection Between Sleep Patterns and Hypertension."
Cleveland Clinic. Diakses pada Januari 2026. "How a Lack of Sleep Contributes to High Blood Pressure."
Mayo Clinic. Diakses pada Januari 2026. "Sleep Deprivation: A Cause of High Blood Pressure?"
Palagini, L., Bruno, R. M., Gemignani, A., Baglioni, C., Ghiadoni, L., & Riemann, D. (2013). "Sleep Loss and Hypertension: A Systematic review." Current Pharmaceutical Design, 19(13), 2409–2419. https://doi.org/10.2174/1381612811319130009.