Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iklim Menghangat, Ini Dampaknya bagi Dengue dan Malaria
ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pexels.com/Icono Com)
  • Perubahan suhu, hujan, dan kelembapan dapat mengubah wilayah serta musim yang mendukung kehidupan nyamuk.

  • Dampak iklim tidak selalu sama: suhu yang lebih tinggi hanya mendukung penularan sampai batas tertentu, sedangkan banjir dan kekeringan pun bisa memengaruhi tempat nyamuk berkembang biak.

  • Tinjauan ilmiah terbaru menekankan bahwa iklim hanyalah salah satu faktor. Urbanisasi, mobilitas manusia, pengendalian nyamuk, dan akses layanan kesehatan turut membentuk risiko penyakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan iklim dapat mengubah kondisi hidup nyamuk. Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 2 Oktober 2026 mengulas hubungan perubahan iklim dengan malaria dan dengue.

Para peneliti dari Monash University merangkum temuan dari berbagai penelitian sebelumnya. Mereka menjelaskan bagaimana suhu, curah hujan, dan kelembapan dapat memengaruhi nyamuk Anopheles—pembawa parasit malaria—dan Aedes, yang menularkan virus dengue.

“Namun, selama abad terakhir, di tengah pemanasan yang jelas, angka malaria menurun sementara dengue meningkat,” kata penulis utama studi, Toby Cumming, dalam keterangan Monash University.

1. Iklim dapat mengubah wilayah dan musim yang cocok bagi nyamuk

Suhu, hujan, dan kelembapan memengaruhi tempat nyamuk dapat hidup, jumlahnya, serta lamanya musim penularan. Jika suatu wilayah menjadi lebih sesuai bagi nyamuk pembawa penyakit, risiko penularan bisa muncul di area atau waktu yang sebelumnya kurang mendukung.

Dalam rentang 1951–1960 hingga 2015–2024, analisis yang dirangkum para peneliti menunjukkan potensi penularan dengue berdasarkan kondisi iklim meningkat 12 persen untuk Aedes aegypti dan 49 persen untuk Aedes albopictus.

Sementara itu, area dengan iklim yang sesuai bagi malaria meningkat sekitar 2 persen untuk Plasmodium falciparum dan 1,8 persen untuk P. vivax.

2. Suhu lebih hangat bisa mempercepat penularan

Dalam kondisi tertentu, suhu yang lebih hangat dapat mempercepat perkembangan nyamuk dan meningkatkan frekuensi gigitannya. Suhu juga dapat mempercepat perkembangan parasit malaria atau virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Akibatnya, nyamuk yang terinfeksi bisa menjadi mampu menularkan penyakit dalam waktu lebih singkat.

Namun, suhu yang terus naik tidak otomatis membuat penularan terus meningkat. Berbagai model yang dibahas dalam tinjauan itu memperkirakan penularan malaria paling optimal pada kisaran 25–28 derajat Celsius, sementara untuk dengue sekitar 26–29 derajat Celsius. Meski demikian, ini bukan kisaran ambang universal untuk semua wilayah. Jenis nyamuk, perubahan suhu dari siang ke malam, dan keadaan lingkungan setempat turut berpengaruh. Suhu yang terlalu tinggi juga dapat menurunkan kelangsungan hidup nyamuk.

Pola hujan pun memiliki pengaruh yang beragam. Air dapat menyediakan tempat bagi nyamuk untuk bertelur dan larva untuk berkembang. Namun, hujan yang sangat deras bisa menghanyutkan telur atau larva. Saat kekeringan, sebagian orang menyimpan air dalam wadah terbuka; genangan atau tempat penampungan itu dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk dengue.

3. Tren dengue dan malaria tidak selalu bergerak searah

ilustrasi byamuk Anopheles (wikipedia.org/Nyamuk Anopheles

Dengue meningkat dalam beberapa dekade terakhir, sementara malaria menurun dalam jangka panjang. Salah satu penjelasan yang dibahas para peneliti adalah perbedaan faktor di luar iklim.

Pengendalian nyamuk dan pengobatan malaria telah membantu menekan penularan. Sebaliknya, urbanisasi dapat menyediakan banyak wadah buatan yang menjadi tempat berkembang biak Aedes aegypti, nyamuk yang banyak hidup di perkotaan. Perpindahan manusia, pertumbuhan penduduk, dan perubahan penggunaan lahan juga turut membentuk penyebaran penyakit.

Penurunan malaria dalam jangka panjang bukan berarti risikonya sudah hilang. Laporan menyebut insiden malaria global meningkat 8,5 persen dalam satu dekade terakhir. Perbedaan antara tren jangka panjang dan kenaikan pada periode yang lebih baru memperlihatkan bahwa pola penyakit dapat berubah ketika iklim, lingkungan, perilaku manusia, dan program pengendalian berinteraksi.

4. Pencegahan perlu menggabungkan beberapa pendekatan

Pengendalian tempat perkembangbiakan nyamuk tetap penting.

Buang benda yang dapat menampung air, serta menutup, mengosongkan, dan membersihkan wadah penampungan air secara rutin.

Upaya perlindungan dari gigitan nyamuk juga membantu mengurangi paparan.

Vaksin dapat menjadi bagian dari pencegahan di kelompok dan wilayah yang sesuai dengan rekomendasi kesehatan, tetapi tidak menggantikan pengendalian nyamuk.

Salah satu pendekatan yang diteliti di Indonesia adalah penggunaan nyamuk Aedes aegypti yang membawa bakteri Wolbachia. Bakteri ini dapat mengurangi kemampuan nyamuk menularkan virus dengue. Dalam uji acak berkelompok di Yogyakarta, pendekatan tersebut dikaitkan dengan penurunan 77,1 persen kasus dengue terkonfirmasi secara virologis dan penurunan 86,2 persen rawat inap akibat dengue pada kelompok intervensi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa respons juga perlu mencakup faktor yang lebih luas, termasuk pengendalian vektor, penggunaan vaksin, dan pengurangan emisi gas rumah kaca untuk membatasi pemanasan global. Bagi masyarakat, langkah sehari-hari seperti mengelola wadah air dan melindungi diri dari gigitan nyamuk tetap berguna. Namun, pencegahan penyakit yang peka terhadap iklim juga butuh pengawasan dan program kesehatan masyarakat yang disesuaikan dengan keadaan tiap wilayah.

Referensi

World Health Organization Indonesia, “Mengarahkan Jalan Indonesia menuju Nol Kematian akibat Dengue pada 2030,” diakses 10 Oktober 2026.

Toby B. Cumming, Henry Surendra, Karin Leder, and Katherine L. Anders, “How Climate Change Affects Mosquito-Borne Infectious Disease: The Different Trajectories of Malaria and Dengue,” Science Advances 12, no. 40 (October 2, 2026): eaei0953.

Monash University, “Itching for a Solution: Addressing Mosquito-Borne Disease as Climate Change Bites,” diakses 10 Oktober 2026.

World Health Organization, “Dengue and Severe Dengue,” diakses 10 Oktober 2026.

Adi Utarini et al., “Efficacy of Wolbachia-Infected Mosquito Deployments for the Control of Dengue,” New England Journal of Medicine 384, no. 23 (2021): 2177–86.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Apa Itu Pneumonic Plage?10 Oct 2026, 20:38 WIB