Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Hal yang Harus Dihindari saat Mengalami Demam Berdarah

Seorang anak sakit demam berdarah.
ilustrasi seorang anak sakit demam berdarah (freepik.com/peoplecreations)
Intinya sih...
  • Mengabaikan gejala awal DBD adalah kesalahan fatal, bisa menyebabkan komplikasi serius dan meningkatkan risiko kematian.
  • Diagnosis mandiri dan menunda kunjungan ke dokter berbahaya karena bisa menutupi perkembangan penyakit dan menghambat perawatan rumah sakit.
  • Pengobatan sendiri dengan obat tanpa panduan yang tepat dapat meningkatkan risiko pendarahan, kerusakan lambung, dan gangguan pembekuan darah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Demam berdarah (DBD/DB) bukanlah demam biasa yang bisa sembuh cuma dengan istirahat dan minum obat warung. Walaupun beberapa orang bisa sembuh sendiri setelah terkena DBD, tetapi tak jarang penyakit ini berkembang cepat dan menimbulkan komplikasi serius jika ditangani dengan cara yang keliru. Sayangnya, masih banyak orang yang justru melakukan hal-hal yang tanpa sadar memperparah kondisi saat mengalami DBD.

Padahal, dalam kasus DBD, bukan hanya soal apa yang harus dilakukan, tetapi juga apa saja yang harus dihindari supaya tubuh pulih secara optimal. Agar kondisi tidak makin parah, kenali apa saja hal yang harus dihindari saat mengalami DBD.

1. Mengabaikan gejala

Mengabaikan gejala awal DBD adalah kesalahan fatal. Penyakit ini sering dimulai dengan demam tinggi mendadak. Banyak orang menganggap gejala awal yang tiba-tiba ini, bersamaan dengan sakit kepala, nyeri otot/sendi, mual, dan kelelahan, sebagai penyakit biasa sehingga menunda konsultasi medis selama berhari-hari.

Kelalaian ini memiliki konsekuensi serius, karena DBD yang tidak diobati dapat berkembang ke fase kritis dengan tanda-tanda peringatan, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, pendarahan, pernapasan cepat, dan syok, yang berpotensi menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti demam berdarah dengue atau gagal organ.

Diagnosis dan pemeriksaan yang cepat memungkinkan intervensi tepat waktu seperti hidrasi dan pemantauan, yang secara signifikan meningkatkan hasil dan mencegah rawat inap.

2. Diagnosis mandiri dan menunda kunjungan ke dokter

Menunda pergi ke dokter sangat berisiko karena bahaya self-diagnosis. Banyak orang salah menafsirkan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri badan sebagai flu biasa, lalu mencoba pengobatan rumahan atau minum obat bebas. Padahal, pemeriksaan darah sejak awal sangat penting karena bisa mendeteksi penurunan trombosit, peningkatan hematokrit, dan tanda-tanda kebocoran plasma lainnya. Ini memungkinkan pemantauan dan penanganan tepat waktu pada fase kritis hari ke-3 sampai ke-7, saat virus berada di puncaknya.

Penundaan ini meningkatkan risiko komplikasi, seperti DBD berat, sindrom syok dengue, perdarahan hebat, gagal organ, bahkan kematian.

Pengobatan sendiri bisa menutupi perkembangan penyakit dan menghambat orang mendapatkan perawatan rumah sakit, seperti cairan infus atau terapi suportif. Evaluasi medis yang cepat, terutama setelah hari ketiga demam, terbukti menurunkan angka kematian karena dokter bisa lebih dini mengenali tanda bahaya seperti nyeri perut atau muntah terus-menerus.

3. Pengobatan sendiri dengan obat penurun demam tanpa panduan yang tepat

Ilustrasi termometer dan obat-obatan.
ilustrasi termometer dan obat-obatan penurun demam (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Kesalahan umum saat sakit DBD adalah penggunaan ibuprofen atau obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) lainnya untuk menurunkan demam. Penggunaan produk yang tidak tepat meningkatkan risiko pendarahan, kerusakan lambung, dan gangguan pembekuan darah.

Gunakan parasetamol untuk menurunkan demam dengan dosis yang tepat sesuai petunjuk dokter.

4. Makan makanan berwarna gelap

Mengonsumsi makanan atau minuman berwarna gelap bisa membuat tinja menjadi berwarna gelap. Hal ini menyulitkan untuk membedakan tinja yang bercampur darah dalam kasus pendarahan gastrointestinal.

Terkadang, orang yang DBD mungkin muntah zat berwarna gelap, sehingga sulit untuk membedakan apakah itu makanan atau darah akibat pendarahan gastrointestinal.

5. Minum teh, kopi, alkohol, atau merokok

Semua minuman ini mengandung kafein, yang merangsang otak untuk meningkatkan tekanan darah, menyebabkan detak jantung cepat, dan membuat tubuh lebih lelah. Mengonsumsi teh kental selama DBD dapat mengganggu efektivitas antipiretik tertentu. Selain itu, teh mengandung zat yang meningkatkan suhu tubuh sehingga dapat memperburuk demam.

6. Minum terlalu sedikit air atau tidak mengganti elektrolit

Ilustrasi memegang gelas air minum.
ilustrasi gelas berisi air minum (pexels.com/Lisa)

Hidrasi yang cukup adalah salah satu faktor kunci yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan dukungan efektif dalam pengobatan DBD. Jadi, wajib untuk minum berbagai cairan, seperti air murni, jus buah, atau larutan pengganti elektrolit untuk meminimalkan risiko dehidrasi berat. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menghindari stimulan seperti teh, kopi, dan minuman ringan berkarbonasi.

7. Berolahraga terlalu dini

Banyak orang berpikir bahwa setelah sembuh dari sakit, mereka dapat segera kembali bekerja atau sekolah. Namun, ini tidak disarankan.

Orang yang baru sembuh dari sakit harus memprioritaskan istirahat total sampai tubuh pulih sepenuhnya, memastikan pola makan yang bergizi dan menghindari aktivitas berat setidaknya selama seminggu setelah sembuh.

Intinya, saat terkena DBD, tubuh butuh perhatian ekstra dan keputusan yang tepat. Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang keliru bisa jadi langkah kecil yang berdampak besar untuk mencegah kondisi makin parah. Jadi, jangan remehkan gejala, jangan asal minum obat, dan jangan memaksakan diri. Lebih baik sedikit lebih waspada daripada menyesal karena terlambat bertindak.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada Januari 2026. "Symptoms of Dengue and Testing."

Trucare Medical and Surgery. Diakses pada Januari 2026. "What To Do and Not To Do during Fengue Fever."

Vietnam.VN. Diakses pada Januari 2026. "Common Misconceptions about Dengue Fever."

Vinmec. Diakses pada Januari 2026. "Things to Avoid When Having Dengue Fever."

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Kenapa Tenggorokan Sakit saat Menelan? Ternyata Ini Penyebabnya

22 Jan 2026, 08:06 WIBHealth