Comscore Tracker

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  

Kondisi ini dapat dialami orang dewasa hingga anak-anak

Disartria adalah kondisi kesulitan bicara yang disebabkan oleh gangguan sistem saraf, sehingga berdampak pada koordinasi dan pengendalian otot untuk memproduksi suara.

Menurut American Speech Language Hearing Association (ASHA), disartria adalah bentuk kelainan yang menyebabkan penderita kesulitan berbicara akibat kelemahan otot. Akibatnya, orang lain akan kesulitan memahami pesan yang disampaikan.

Penderita umumnya kesusahan dalam mengendalikan lidah, laring, pita suara, dan otot untuk menciptakan dan mengucapkan kata-kata. Menarik untuk diketahui, simak ulasan tentang disartria berikut ini!

1. Disebabkan oleh kerusakan otak dan organ bicara

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  unsplash.com/Priscilla Du Preez

Melansir dari laman Cleveland Clinic, terdapat dua jenis disartria yaitu disartria sentral dan disartria perifer. Jenisnya ini bergantung pada area sistem saraf yang terdampak dan tingkat keparahan kondisi.

Disartria sentral mengacu pada kerusakan otak, termasuk trauma dan bawaan sejak lahir atau berkembang seiring berjalannya waktu. Penyebabnya meliputi: cedera otak traumatis, cerebral palsy, demensia, distrofi otot, efek samping konsumsi obat tertentu, penyakit Lou Gehrig atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit Huntington, penyakit degeneratif otak, multiple sclerosis, dan stroke.

Sementara itu, disartria perifer terjadi akibat kerusakan organ bicara, sehingga mengakibatkan perubahan cara bicara. Penyebabnya meliputi: kondisi bawaan sejak lahir, trauma di daerah wajah atau mulut, dan pembedahan di area kotak suara, lidah, leher, serta kepala.

2. Gejala disartria bisa ringan hingga berat, dan cadel adalah salah satunya

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  unsplash.com/Alexis Brown

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Seputar Cadel yang Tak Banyak Diketahui 

Gejala yang tampak pada penderita disartria bervariasi, dari ringan sampai berat. Dirangkum dari beberapa sumber, gejalanya meliputi:

  • Kesulitan mengubah volume bicara
  • Kesulitan mengendalikan otot-otot di area wajah
  • Sulit mengunyah
  • Susah menelan
  • Sulit mengendalikan lidah
  • Kualitas vokal serak
  • Irama bicara tidak normal
  • Bicara cadel
  • Bicara tidak jelas
  • Ucapan cenderung lambat

3. Cara diagnosis disartria

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  unsplash.com/Tim Gouw

Bila ada dugaan disartria, dokter akan memberi rujukan ke ahli patologi untuk melakukan beberapa pemeriksaan dan tes. Ini merupakan prosedur diagnosis dan menilai tingkat keparahan.

Beberapa prosedur yang bisa digunakan antara lain tes darah dan urine, tes pencitraan seperti MRI dan CT scan, tes neuropsikologis, studi otak seperti elektroensefalografi (EEG) dan elektromiografi (EMG), biopsi otak, hingga pungsi lumbal.

4. Bisa mengancam segala usia, baik orang dewasa maupun anak-anak

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  unsplash.com/Antena

Meski bisa menyerang segala usia, dilansir dari Healthline, risiko disartria meningkat bila kamu:

  • Berisiko mengalami stroke (misalnya obesitas, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit kardiovaskular, termasuk COVID-19)
  • Memiliki penyakit otak degeneratif (demensia dan penyakit Alzheimer)
  • Menderita penyakit neuromuskuler (multiple sclerosis, ALS, miopati)
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan
  • Kesehatan tubuh yang buruk

5. Bisa dicegah dengan pola hidup sehat

Disartria, Kesulitan Bicara akibat Gangguan Saraf yang Bikin Cadel  unsplash.com/Eliott Reyna

Mengingat penyebabnya yang beragam, kemungkinan pencegahannya terbilang sulit. Akan tetapi, dengan menerapkan pola hidup sehat, kita dapat meminimalkan terjadinya berbagai penyakit yang menyebabkan kelainan bicara ini, salah satunya stroke.

Selain itu, pola hidup sehat akan menjaga daya tahan tubuh tetap fit, sehingga kamu bisa terlindungi dengan baik dari COVID-19.

Pola hidup sehat yang dimaksud adalah olahraga rutin, menjaga berat badan tetap ideal, tingkatkan konsumsi buah dan sayur, serta jaga kebersihan diri.

Batasi pula konsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh, kolesterol, dan tinggi garam. Hentikan pula kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, serta jangan mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan dokter.

Ketimbang mengobati, mencegah jauh lebih baik bukan?

Baca Juga: 7 Pola Hidup Sehat yang Mudah dan Seru untuk Kamu Lakukan

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya