Langkah paling penting adalah mengurangi keberadaan tikus di sekitar rumah dan tempat kerja.
Tutup celah masuk tikus, simpan makanan dalam wadah tertutup, dan kelola sampah dengan baik. Tikus tertarik pada sumber makanan dan tempat persembunyian.
Lingkungan yang bersih dan minim akses makanan dapat membantu menurunkan populasi tikus secara signifikan.
Para ahli menyarankan agar area yang terkontaminasi tidak langsung disapu atau divakum karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara.
Sebagai gantinya, gunakan disinfektan atau larutan pemutih terlebih dahulu untuk membasahi area tersebut sebelum dibersihkan.
Gunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area dengan infestasi tikus.
Jika hendak membersihkan gudang, loteng, atau ruangan lama yang tertutup, buka ventilasi terlebih dahulu sekitar 30 menit sebelum masuk.
Langkah ini membantu mengurangi konsentrasi partikel udara yang mungkin terkontaminasi.
Area lembap dan tertutup dengan banyak kotoran tikus memiliki risiko paparan lebih tinggi.
Simpan bahan makanan dalam wadah tertutup rapat dan hindari meninggalkan makanan terbuka semalaman.
Kontaminasi makanan oleh urine atau kotoran tikus dapat meningkatkan risiko berbagai infeksi zoonosis.
Kebersihan dapur dan area penyimpanan menjadi bagian penting dari pencegahan.
Petugas kebersihan, pekerja gudang, petani, hingga pekerja pelabuhan termasuk kelompok yang lebih sering kontak dengan rodensia.
Penggunaan sarung tangan, masker, dan prosedur sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi risiko paparan.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, pendekatan ini menjadi bagian penting dari pencegahan zoonosis berbasis lingkungan.
Meski risiko infeksi pada manusia tergolong rendah dibandingkan penyakit menular lain, tetapi langkah pencegahan tetap penting karena hantavirus dapat menyebabkan komplikasi berat. Menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan memahami cara aman membersihkan area terkontaminasi menjadi perlindungan paling sederhana sekaligus paling efektif.
Referensi
World Health Organization. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.
Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.
Nurhayati Lukman et al., “A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus,” Viruses 11, no. 8 (July 31, 2019): 698, https://doi.org/10.3390/v11080698.
Suya Cao et al., “Genetic Characterization of Hantaviruses Isolated From Rodents in the Port Cities of Heilongjiang, China, in 2014,” BMC Veterinary Research 12, no. 1 (April 2, 2016): 69, https://doi.org/10.1186/s12917-016-0695-7.
B. Klempa, “Hantaviruses and Climate Change,” Clinical Microbiology and Infection 15, no. 6 (June 1, 2009): 518–23, https://doi.org/10.1111/j.1469-0691.2009.02848.x.
Frédéric Bordes et al., “The Diversity of Microparasites of Rodents: A Comparative Analysis That Helps in Identifying Rodent-borne Rich Habitats in Southeast Asia,” Infection Ecology & Epidemiology 3, no. 1 (January 1, 2013): 20178, https://doi.org/10.3402/iee.v3i0.20178.
Centers for Disease Control and Prevention. “Preventing Hantavirus.” Diakses Mei 2026.