Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jenis Tikus Pembawa Hantavirus di Indonesia
ilustrasi tikus di rumah yang dapat membawa hantavirus (pixabay.com/Kapa65)
  • Hantavirus ditemukan pada beberapa spesies tikus di Indonesia seperti tikus rumah, tikus got, dan tikus sawah yang hidup dekat dengan manusia di area permukiman hingga pertanian.

  • Penularan terjadi saat manusia menghirup partikel udara terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus tanpa perlu gigitan langsung, menyebabkan penyakit serius.

  • Pencegahan meliputi pengendalian populasi tikus, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area berisiko, serta memastikan ventilasi baik sebelum memasuki ruangan tertutup.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Karena tergolong langka, bagi banyak orang hantavirus terdengar seperti ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, reservoir utamanya justru hewan yang hidup sangat dekat dengan manusia, yaitu hewan pengerat seperti tikus.

Dalam banyak kasus di berbagai negara, paparan terhadap urine atau kotoran tikus menjadi titik awal infeksi yang kemudian berkembang menjadi penyakit serius jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan cepat.

Di Indonesia, sudah ada laporan keberadaan hantavirus pada beberapa spesies hewan pengerat lokal, dan jenis tikusnya umum ditemukan di permukiman, pasar, gudang, area pelabuhan, hingga saluran air perkotaan.

Walaupun kasus hantavirus pada manusia tergolong jarang terdiagnosis, tetapi para peneliti menilai kemungkinan infeksinya bisa lebih besar daripada yang dilaporkan karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain.

Hantavirus dan penularan dari tikus yang sering diabaikan

Hantavirus adalah kelompok virus yang secara alami hidup pada rodensial tertentu, terutama tikus dan hewan pengerat lain. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), manusia biasanya tertular ketika menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran rodensia yang terinfeksi.

Berbeda dari banyak virus lain, hantavirus tidak bergantung pada nyamuk atau serangga sebagai perantara utama. Reservoir alaminya adalah hewan pengerat. Setiap strain hantavirus biasanya berkaitan erat dengan spesies tikus tertentu.

Infeksi hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama, yaitu hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang lebih sering ditemukan di Asia dan Eropa, serta hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang lebih banyak dilaporkan di benua Amerika.

Hantavirus menyebar melalui sesuatu yang sering dianggap sepele, yaitu melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urine, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.

Penularan hantavirus biasanya terjadi lewat udara yang tercemar oleh kotoran atau urine tikus yang mengering dan menjadi debu. Jadi, kamu tidak perlu digigit tikus untuk tertular, cukup berada di tempat yang ada tanda‑tanda tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.

Ketahui beberapa jenis tikus yang diketahui dapat membawa hantavirus lewat paparan di bawah ini.

1. Tikus rumah (Rattus tanezumi)

ilustrasi tikus Rattus tanezumi (pexels.com/Siegfried Poepperl)

Salah satu tikus yang paling sering ditemukan di lingkungan manusia di Indonesia adalah Rattus tanezumi, yang kerap dijuluki tikus rumah Asia.

Penelitian menemukan adanya antibodi dan materi genetik hantavirus pada spesies ini. Karena hidup dekat dengan manusia, tikus ini dianggap memiliki potensi penting dalam penularan.

Tikus rumah biasanya ditemukan di plafon, gudang, dapur, pasar, atau area penyimpanan makanan. Kemampuannya beradaptasi di lingkungan padat penduduk membuat kontak tidak langsung dengan manusia menjadi lebih mungkin terjadi.

2. Tikus got (Rattus norvegicus)

Tikus got termasuk spesies tikus urban paling terkenal di dunia. Hewan ini banyak hidup di saluran air, area sampah, pelabuhan, dan lingkungan perkotaan yang lembap.

Menurut penelitian regional Asia Tenggara, Rattus norvegicus diketahui dapat membawa Seoul virus, salah satu hantavirus yang dapat menginfeksi manusia.

Yang membuat spesies ini penting untuk diwaspadai adalah mobilitas dan populasinya yang tinggi di kota-kota besar. Tikus got juga sering masuk ke bangunan untuk mencari makanan atau tempat berlindung.

3. Tikus sawah (Rattus argentiventer)

ilustrasi tikus (pexels.com/Daniil Komov)

Indonesia memiliki populasi besar tikus sawah yang hidup di area pertanian. Selain menjadi hama utama padi, beberapa penelitian juga menyoroti potensi rodensial pertanian sebagai reservoir berbagai patogen zoonosis.

Meski keterkaitan langsung dengan kasus hantavirus manusia di Indonesia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, tetapi keberadaan rodensial liar di area pertanian tetap menjadi perhatian epidemiologis.

Paparan terhadap tikus sawah bisa terjadi saat panen, membersihkan gudang hasil tani, atau bekerja di area dengan infestasi tikus tinggi.

4. Hewan pengerat lainnya

Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang sangat besar. Sejumlah penelitian surveilans menemukan antibodi hantavirus pada beberapa spesies rodensial liar lain di berbagai pulau.

Ini menunjukkan bahwa ekosistem hantavirus di Indonesia kemungkinan lebih kompleks daripada yang dipahami saat ini.

Para peneliti menilai pentingnya pemantauan rodensia secara berkala untuk memahami pola penyebaran virus dan risiko zoonosis di masa depan.

Kenapa tikus di lingkungan rumah perlu diwaspadai?

Banyak orang menganggap adanya tikus rumah sebagai hal biasa, terutama di area perkotaan padat. Namun, masalah utamanya bukan hanya kerusakan barang atau makanan, melainkan potensi penyakit zoonosis.

Ingat, tikus dapat membawa berbagai patogen selain hantavirus, termasuk leptospira dan salmonella.

Yang membuat hantavirus cukup mengkhawatirkan adalah sebagian orang tidak sadar sudah terpapar. Virus dapat berasal dari partikel mikroskopis di udara yang tidak terlihat.

Gejala infeksi hantavirus

ilustrasi demam bisa menandakan infeksi hantavirus (pexels.com/cottonbro studio)

Gejala awal infeksi hantavirus sering tampak seperti flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas.

Pada beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas berat atau gangguan ginjal serius tergantung jenis hantavirus yang menginfeksi.

Karena gejalanya tidak spesifik, riwayat paparan terhadap tikus atau area terkontaminasi menjadi informasi penting dalam proses diagnosis.

Langkah-langkah pencegahan paparan hantavirus

  • Kendalikan populasi tikus

Langkah paling penting adalah mengurangi keberadaan tikus di sekitar rumah dan tempat kerja.

Tutup celah masuk tikus, simpan makanan dalam wadah tertutup, dan kelola sampah dengan baik. Tikus tertarik pada sumber makanan dan tempat persembunyian.

Lingkungan yang bersih dan minim akses makanan dapat membantu menurunkan populasi tikus secara signifikan.

  • Jangan menyapu kotoran tikus secara langsung

Para ahli menyarankan agar area yang terkontaminasi tidak langsung disapu atau divakum karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara.

Sebagai gantinya, gunakan disinfektan atau larutan pemutih terlebih dahulu untuk membasahi area tersebut sebelum dibersihkan.

Gunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area dengan infestasi tikus.

  • Pastikan ventilasi baik sebelum membersihkan ruangan tertutup

Jika hendak membersihkan gudang, loteng, atau ruangan lama yang tertutup, buka ventilasi terlebih dahulu sekitar 30 menit sebelum masuk.

Langkah ini membantu mengurangi konsentrasi partikel udara yang mungkin terkontaminasi.

Area lembap dan tertutup dengan banyak kotoran tikus memiliki risiko paparan lebih tinggi.

  • Lindungi makanan dan sumber air

Simpan bahan makanan dalam wadah tertutup rapat dan hindari meninggalkan makanan terbuka semalaman.

Kontaminasi makanan oleh urine atau kotoran tikus dapat meningkatkan risiko berbagai infeksi zoonosis.

Kebersihan dapur dan area penyimpanan menjadi bagian penting dari pencegahan.

  • Gunakan alat pelindung di area berisiko

Petugas kebersihan, pekerja gudang, petani, hingga pekerja pelabuhan termasuk kelompok yang lebih sering kontak dengan rodensia.

Penggunaan sarung tangan, masker, dan prosedur sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi risiko paparan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, pendekatan ini menjadi bagian penting dari pencegahan zoonosis berbasis lingkungan.

Meski risiko infeksi pada manusia tergolong rendah dibandingkan penyakit menular lain, tetapi langkah pencegahan tetap penting karena hantavirus dapat menyebabkan komplikasi berat. Menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan memahami cara aman membersihkan area terkontaminasi menjadi perlindungan paling sederhana sekaligus paling efektif.

Referensi

World Health Organization. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Nurhayati Lukman et al., “A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus,” Viruses 11, no. 8 (July 31, 2019): 698, https://doi.org/10.3390/v11080698.

Suya Cao et al., “Genetic Characterization of Hantaviruses Isolated From Rodents in the Port Cities of Heilongjiang, China, in 2014,” BMC Veterinary Research 12, no. 1 (April 2, 2016): 69, https://doi.org/10.1186/s12917-016-0695-7.

B. Klempa, “Hantaviruses and Climate Change,” Clinical Microbiology and Infection 15, no. 6 (June 1, 2009): 518–23, https://doi.org/10.1111/j.1469-0691.2009.02848.x.

Frédéric Bordes et al., “The Diversity of Microparasites of Rodents: A Comparative Analysis That Helps in Identifying Rodent-borne Rich Habitats in Southeast Asia,” Infection Ecology & Epidemiology 3, no. 1 (January 1, 2013): 20178, https://doi.org/10.3402/iee.v3i0.20178.

Centers for Disease Control and Prevention. “Preventing Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

Editorial Team