- 1984–1985: Survei tikus di pelabuhan besar seperti Padang dan Semarang mengejutkan para peneliti. Ditemukan bahwa 7,9 persen hingga 40,3 persen populasi tikus positif terpapar virus jenis Hantaan atau Seoul. Ini membuktikan reservoir virus sudah ada ekosistem urban Indonesia.
- 1989: Indonesia mencatatkan kasus hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) pertama di Yogyakarta, menandakan virus mulai melompat dari inang hewan ke manusia.
- 1991: Data menunjukkan tingginya risiko bagi pekerja di sektor maritim, dengan prevalensi mencapai 28,9 persen pada pekerja pelabuhan di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Kasus Hantavirus Ada di Indonesia, Sudah Ditemukan Sejak 1980-an

Hantavirus telah ada di Indonesia sejak 1980-an, awalnya terdeteksi pada populasi tikus pelabuhan dan kemudian menular ke manusia dengan kasus pertama HFRS tercatat di Yogyakarta tahun 1989.
Perkembangan riset menunjukkan peningkatan akurasi deteksi dari survei serologi hingga konfirmasi molekuler melalui PCR, termasuk temuan strain lokal seperti Serang Virus yang memperkuat bukti endemisitas nasional.
Tahun 2025 menandai lonjakan kasus di berbagai daerah, mendorong pemerintah memperketat pengawasan sanitasi, edukasi pekerja berisiko tinggi, serta memperkuat laboratorium daerah untuk deteksi dini hantavirus.
Pada Mei 2025 alarm sistem kesehatan publik di Indonesia berbunyi. Seorang buruh bangunan di Bandung Barat dilarikan ke rumah sakit dengan gejala demam tinggi, nyeri otot hebat, dan penurunan drastis fungsi ginjal. Awalnya, ia diduga terkena leptospirosis atau demam berdarah dengue (DBD). Namun, hasil tes mengonfirmasi temuan yang jauh lebih serius, yakni infeksi hantavirus.
Hantavirus bukan patogen baru. Dunia mengenalnya melalui fenomena field nephritis pada Perang Dunia I (1913) dan identifikasi virus Hantaan saat Perang Korea pada 1950-an. Di Indonesia, virus yang dibawa oleh tikus (rodent-borne) ini telah lama bersifat endemik, tetapi sering kali tidak terlaporkan. Dengan prevalensi pada manusia yang tercatat berkisar antara 1,1 persen hingga 28,9 persen di berbagai wilayah, hantavirus adalah ancaman tersembunyi yang kerap salah didiagnosis sebagai DBD.
Table of Content
Empat era krusial hantavirus
Evolusi pemahaman terhadap hantavirus di Indonesia dibagi menjadi empat era krusial, dari sekadar pengamatan populasi hewan hingga konfirmasi infeksi pada manusia secara molekuler.
1. Era survei awal (1984–1990): fokus pada pintu masuk negara
Pada pertengahan 1980-an, perhatian otoritas kesehatan difokuskan di pelabuhan sebagai gerbang utama penyebaran penyakit melalui kapal dagang.
2. Puncak survei epidemiologi (1995–2009): pemetaan nasional
Memasuki era 90-an akhir, deteksi mulai meluas melampaui area pelabuhan.
- 1995–1996: Di Tanjung Priok, Jakarta, ditemukan bahwa 28,4 persen tikus got (Rattus norvegicus) membawa virus. Secara bersamaan, 10 kasus serologi positif ditemukan pada pasien di Semarang dan Yogyakarta.
- 2002: Sebuah temuan penting di Semarang mengungkap bahwa 10 persen pasien yang awalnya didiagnosis DBD ternyata positif hantavirus setelah diuji ulang secara spesifik. Ini memperkuat teori bahwa gejala klinis penyakit ini sering tersamarkan oleh penyakit tropis lainnya.
- 2000-2009: Para ilmuwan menemukan Serang virus (SERV) di Banten, sebuah strain lokal yang mengonfirmasi keberagaman genetik hantavirus di Indonesia.
3. Era konfirmasi molekuler (2015–2019): akurasi diagnostik
Sebelum 2015, sebagian besar deteksi bergantung pada uji antibodi (serologi). Namun, teknologi RT-PCR mulai mengubah peta deteksi.
- 2015–2016: Dua kasus infeksi Seoul virus dikonfirmasi lewat PCR di Jakarta dan Surabaya. Ini adalah bukti virus aktif bereplikasi pada pasien lokal.
- 2017: Seorang turis Jerman yang baru kembali dari Sulawesi didiagnosis HFRS. Melalui uji immunoblot dan PCR, terdeteksi strain virus identik dengan yang ditemukan di wilayah Indonesia Tengah, memicu perhatian internasional terhadap keamanan wisata di Indonesia.
4. Ledakan kasus dan awareness (2025–2026)
Tahun 2025 menjadi titik balik di mana hantavirus tidak lagi dianggap sebagai kasus sporadis langka.
- Maret 2025: Empat kasus muncul hampir bersamaan di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Yogyakarta. Pola penyebaran yang tersebar menunjukkan pengawasan lingkungan (sanitasi) sedang mengalami tekanan besar.
- Mei–Juni 2025: Klaster di Jawa Barat mencatatkan 8 kasus HFRS yang dikonfirmasi. Kasus buruh bangunan di Bandung Barat menjadi headline yang memaksa pemerintah meningkatkan protokol deteksi dini di puskesmas.
- 2026: Munculnya kasus-kasus sporadis di kawasan pemukiman padat sekitar pelabuhan, mengonfirmasi bahwa tikus urban tetap menjadi ancaman utama dalam transmisi virus ini.
Mitigasi dan pencegahan

Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan hasil 'impor', melainkan penyakit asli yang selama ini terabaikan. Perbedaan gejala yang tipis dengan leptospirosis dan DBD menuntut tenaga medis untuk lebih jeli dalam melakukan pemeriksaan laboratorium, terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal akut.
Adapun pencegahan utama yang harus dilakukan, di antaranya:
- Pengendalian tikus: Memutus rantai kontak antara manusia dan tikus di area pergudangan, pelabuhan, dan pemukiman padat.
- Edukasi pekerja risiko tinggi: Buruh bangunan dan pekerja pelabuhan harus menggunakan APD standar saat bekerja di area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
- Penguatan lab daerah: Memastikan fasilitas kesehatan di tingkat daerah mampu melakukan deteksi antigen atau PCR hantavirus agar tidak terjadi salah diagnosis.
Referensi
"Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?". Kemenkes BKPK. Diakses Mei 2026.
Lukman, Nurhayati, Herman Kosasih, Ima Nurisa Ibrahim, Antonius Arditya Pradana, Aaron Neal, and Muhammad Karyana. “A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus.” Viruses 11, no. 8 (July 31, 2019): 698.
"Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Kupas Tuntas Risiko Zoonosis Penyakit Hantavirus." IPB University. Diakses Mei 2026.
Son, Kornelius Langga. “Studi Prevalensi, Gambaran Spasial Dan Identifikasi Faktor Risiko Kasus Leptospirosis Dan Infeksi Hantavirus Di Daerah Istimewa Yogyakarta,” 2020.
Kusumawardani, Syahrani Tri Buwana Putri. “‘Gambaran Epidemiologis Pada Kasus Hantavirus di Indonesia: Studi Case Series Penyelidikan Epidemiologi Infeksi Emerging Tahun 2025.’” Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat, 2026.
Lie, Khie Chen, Mochamad Helmi Aziz, Herman Kosasih, Aaron Neal, Caleb Leonardo Halim, Wahyu Nawang Wulan, Muhammad Karyana, and Usman Hadi. “Case Report: Two Confirmed Cases of Human Seoul Virus Infections in Indonesia.” BMC Infectious Diseases 18, no. 1 (November 16, 2018): 578.


![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Mengelola Amarah](https://image.idntimes.com/post/20230413/pexels-cottonbro-studio-9063608-799c959c8a681bc3037abd5954852522.jpg)






![[QUIZ] Warna Tas Ungkap Mentalmu, Seberapa Kuat Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20241211/img-20241211-164225-eff61138268aec2cdba89c9106fb0e85.jpg)








