Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Overview of Shigellosis,” diakses 9 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Shigella Infection Among Sexually Active People,” diakses 9 Oktober 2026.
Naeemah Logan et al., “Emergence of Extensively Drug-Resistant Shigellosis—United States, 2011–2023,” Morbidity and Mortality Weekly Report 75, no. 13 (April 9, 2026): 173–78, https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/75/wr/mm7513a1.htm.
Julia E. Marshall, Noemie Lefrancq, Lewis C. E. Mason, Fariha Jawed, Yi Ling Tam, Claire Jenkins, Henrik Salje, and Kate S. Baker, “The Spread of Sexually Transmissible Drug-Resistant Shigellosis in England: A Genomic Epidemiology Study,” The Lancet Infectious Diseases, published online July 8, 2026, https://doi.org/10.1016/S1473-3099(26)00227-6.
Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of Shigella Infection,” diakses 9 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Shigella Infection,” diakses 9 Oktober 2026.
Kasus Shigella Resisten Antibiotik Naik di AS, Bisa Menular lewat Seks

Shigella dapat menyebar saat bakteri dari tinja masuk ke mulut, termasuk melalui makanan, air, benda tercemar, atau kontak seksual; penularan dapat berlanjut hingga dua minggu setelah diare berhenti.
Analisis CDC atas data AS 2011–2023 menemukan 3 persen isolat Shigella tergolong XDR, dengan proporsi naik menjadi 8,5 persen pada 2023; bakteri ini resisten terhadap lima antibiotik.
Infeksi XDR belum memiliki antibiotik oral yang disetujui; dokter dapat memakai uji kepekaan obat. Pencegahan mencakup menunda seks dua minggu setelah diare berhenti dan menjaga kebersihan.
Saat mengalami diare, kontak seksual bukan jalur pertama yang biasanya terpikirkan. Namun, bakteri Shigella dapat berpindah ketika tinja orang yang terinfeksi—bahkan dalam jumlah sangat kecil—masuk ke mulut orang lain.
Penularan tersebut tidak cuma bisa terjadi saat aktivitas seksual, tetapi juga melalui makanan, air, tangan, atau benda yang tercemar.
Table of Content
1. Shigella dapat menular lewat seks, tetapi bukan satu-satunya cara penularan
Shigella adalah bakteri penyebab infeksi saluran cerna yang disebut shigellosis. Penularan terjadi ketika bakteri dari tinja orang yang terinfeksi masuk ke mulut orang lain.
Selain melalui makanan atau air yang terkontaminasi, bakteri dapat berpindah saat kontak seksual—misalnya melalui kontak oral-anal, tangan, atau alat bantu seks yang tidak dibersihkan.
Meski diare sudah berhenti, tetapi bakteri Shigella dapat terus dikeluarkan melalui tinja selama hingga dua minggu. Karena itu, penularan masih dapat terjadi setelah seseorang pulih. Jalur penularannya ditentukan oleh adanya paparan bakteri, bukan oleh identitas maupun orientasi seksual.
2. Data Amerika Serikat menunjukkan kenaikan resistensi
Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang terbit pada 2026 menganalisis 16.788 isolat Shigella dengan data resistensi antibiotik di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2011–2023. Sebanyak 510 isolat—3 persen dari sampel yang dianalisis—tergolong extensively drug-resistant (XDR). Proporsi isolat XDR meningkat dari 0 persen pada periode 2011–2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
Dalam laporan tersebut, XDR berarti bakteri resisten terhadap lima antibiotik, yaitu ampisilin, azitromisin, seftriakson, siprofloksasin, dan trimetoprim-sulfametoksazol.
Namun, ada batasan penting, bahwa paparan seksual tidak rutin dicatat dalam data yang dianalisis CDC, sehingga laporan tersebut tidak dapat memastikan berapa banyak infeksi XDR yang ditularkan melalui seks atau apakah penularan seksual Shigella sedang meningkat di AS. Sebagian besar pasien XDR dengan data jenis kelamin dan usia yang tersedia adalah laki-laki dewasa, tetapi temuan itu tidak menunjukkan bagaimana mereka tertular.
3. Penelitian Inggris mengurai penularan dalam jejaring seksual

Fotomikrograf ini menunjukkan eksudat tinja pada pasien dengan shigelosis, atau juga dikenal sebagai disentri Shigella atau disentri bakteri. (commons.wikimedia.org/Dwaipayanc) Temuan mengenai penularan seksual berasal dari studi di Inggris yang menganalisis 3.514 sampel Shigella sonnei yang dikumpulkan pada 2004-2020. Dalam penelitian ini, sebagian kasus dikelompokkan sebagai dugaan penularan pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki berdasarkan karakteristik epidemiologis tertentu. Pengelompokan tersebut dibuat untuk keperluan analisis dan bukan berarti menentukan identitas setiap pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus dalam kelompok dugaan penularan seksual cenderung tersebar lebih luas dan memiliki lebih banyak rantai penularan dibandingkan kelompok infeksi domestik lainnya di Inggris.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa bakteri yang resisten terhadap antibiotik azitromisin lebih sering bertahan dan menyebar dalam kelompok tersebut. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan bystander resistance, yaitu kondisi ketika penggunaan antibiotik untuk satu infeksi ikut memberi tekanan seleksi pada bakteri lain. Temuan ini bukan berarti antibiotik harus dihindari, melainkan menjadi pengingat bahwa antibiotik perlu digunakan sesuai diagnosis dan anjuran tenaga kesehatan.
4. Resistensi membuat pilihan obat terbatas
Belum ada antibiotik oral yang disetujui untuk mengobati infeksi XDR Shigella, dan terapi optimalnya belum ditetapkan. Karena itu, pemeriksaan kepekaan antibiotik dapat membantu dokter menilai obat yang mungkin bekerja.
Sebagian besar infeksi Shigella dapat membaik tanpa antibiotik. Antibiotik mungkin dipertimbangkan oleh dokter pada kasus tertentu, misalnya jika penyakit berat. Jangan menggunakan antibiotik sisa atau memilih obat sendiri karena jenis obat yang tepat bergantung pada kondisi pasien dan hasil pemeriksaan.
Selain itu, orang dengan diare berdarah tidak disarankan untuk memakai obat yang memperlambat kerja usus, seperti loperamid, tanpa arahan dokter.
5. Kenali gejalanya dan kapan perlu mencari pertolongan
Gejala infeksi Shigella biasanya muncul 1–2 hari setelah terpapar. Keluhan yang umum meliputi diare—yang bisa berdarah atau berlangsung lebih dari tiga hari—demam, sakit perut, serta rasa ingin buang air besar meski usus terasa kosong. Banyak orang pulih dalam beberapa hari, tetapi gejala dapat berlangsung lebih lama.
Hubungi dokter jika diare disertai darah, demam, kram atau nyeri perut berat, berlangsung lebih dari tiga hari, atau muncul tanda dehidrasi.
Pemeriksaan sampel tinja dapat membantu mengidentifikasi Shigella. Jika antibiotik akan digunakan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan untuk membantu memilih pengobatan.
6. Pencegahan tetap perlu dilakukan setelah diare mereda

ilustrasi cuci tangan (vecteezy.com/papan saenkutrueang) Orang yang mengalami diare berdarah atau berkepanjangan sebaiknya menghindari aktivitas seksual saat masih sakit.
Untuk mengurangi risiko penularan, tunggu setidaknya dua minggu setelah diare berhenti sebelum berhubungan seks.
Cuci tangan, area genital, dan anus dengan sabun dan air sebelum maupun sesudah aktivitas seksual; bersihkan alat bantu seks setelah digunakan; dan gunakan penghalang seperti kondom atau dental dam saat kontak oral-anal.











![[QUIZ] Dari Posisi Duduk Saat Kerja, Kami Tebak Risiko Kesehatan Kmu](https://image.idntimes.com/post/20221024/pexels-thirdman-7181187-7dc273c135a9419c4df8c9f0f777a2c3-e5503d0b87e14b9fdd9a21a54fd5462b.jpg)











