Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Badan Terasa Lemas di Jam 2–4 Sore saat Puasa?
ilustrasi lemas pada siang hari saat puasa Ramadan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Tubuh terasa lemas di sore hari saat puasa karena cadangan glukosa menurun, membuat otak dan otot kekurangan energi untuk berfungsi optimal.

  • Ritme sirkadian alami tubuh turut memengaruhi penurunan energi di jam 2–4 sore, diperparah oleh perubahan jadwal makan dan tidur selama puasa.

  • Dehidrasi, menu sahur kurang seimbang, serta kualitas tidur yang menurun menjadi faktor tambahan yang memperkuat rasa lemas pada siang-sore hari saat puasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat menjalani puasa, terutama yang berlangsung lebih dari 12 jam seperti puasa Ramadan, tubuh menjalani fase adaptasi metabolik yang cukup kompleks.

Karena tidak ada asupan makanan dan cairan sejak sahur hingga berbuka, tubuh beralih menggunakan cadangan energi internal untuk mempertahankan fungsi dasar seperti berpikir, bergerak kecil, dan bahkan bernapas.

Salah satu alasan utama tubuh terasa lemas di sore hari adalah karena cadangan glukosa (gula darah) mulai menurun setelah beberapa jam tanpa makan. Otak dan jaringan tubuh butuh glukosa sebagai bahan bakar utama, dan ketika tubuh telah menggunakan cadangan glukosa, kemampuan untuk mempertahankan energi menurun.

Selain itu, tubuh akan mengubah sumber energi dari glukosa ke lemak yang disimpan melalui proses metabolisme alternatif seperti glukoneogenesis dan peningkatan oksidasi lemak. Penelitian pada atlet menunjukkan bahwa pada lebih dari 6 jam setelah makan terakhir, terjadi penurunan cadangan glikogen dan penurunan level glukosa darah yang relevan terhadap performa fisik dan kognitif, termasuk di sore hari selama puasa. Ini bisa membuat otot dan otak merasa kurang “bertenaga”, sehingga tubuh terasa lemas.

Ritme tubuh dan kebutuhan energi

Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal yang mengatur hormon, suhu tubuh, energi, dan kewaspadaan sepanjang hari. Puasa membawa perubahan besar dalam jadwal makan dan tidur, yang dapat memengaruhi ritme ini.

Meskipun beberapa studi menunjukkan puasa tidak secara langsung mengubah ritme tidur, tetapi perubahan jadwal tidur dan pola makan dapat menyebabkan gangguan ringan dalam ritme harian, yang tercatat memengaruhi kewaspadaan dan rasa energi di siang sampai sore hari.

Sore hari juga merupakan periode saat banyak orang mengalami post-lunch dip atau penurunan energi alami sebagai bagian dari ritme sirkadian biasa. Karena puasa membatasi makan hanya pada malam dan dini hari, tubuh harus menjalankan ritme energi dengan cadangan yang makin menipis di siang hari. Kombinasi antara ritme biologis dan kurangnya asupan energi membuat rasa lemas lebih terasa, terutama di sekitar jam 14.00–16.00 sore.

Faktor lain yang memperparah lemas

ilustrasi seorang yang merasa lemas (freepik.com/freepik)

Selain metabolisme dan ritme tubuh, beberapa faktor lain berkontribusi pada rasa lemas sore hari, seperti:

Air dan elektrolit membantu menjaga volume darah, suhu tubuh, dan fungsi otot. Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan cairan sejak sahur sampai berbuka, sehingga volume cairan tubuh menurun. Dehidrasi ringan saja dapat menyebabkan rasa lelah, pusing, atau kesulitan berkonsentrasi di siang sampai sore hari.

  • Menu sahur yang kurang tepat

Makanan tinggi karbohidrat sederhana cepat dicerna menjadi gula, tetapi tidak menyediakan energi yang tahan lama. Karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat cenderung melepaskan energi lebih bertahap, membantu mengurangi lonjakan dan penurunan gula darah yang tajam, yang bisa memengaruhi kekuatan energi di sore hari.

Tidur yang terpotong karena sahur atau ibadah malam dapat mengurangi jumlah tidur total namun tetap memengaruhi kewaspadaan di siang hari. Meski puasa tidak secara langsung mengubah struktur tidur secara dramatis, tetapi perubahan pola tidur selama Ramadan dapat memperparah perasaan lemas karena kualitas tidur menurun.

Lemas di sore hari saat berpuasa adalah hasil dari kombinasi terbatasnya cadangan energi tubuh, perubahan ritme biologis, dan faktor gaya hidup seperti hidrasi dan kualitas makanan sahur.

Tubuh bekerja keras untuk mempertahankan fungsi utama dalam kondisi tanpa asupan makanan dan minuman, tetapi perubahan pola makan dan tidur lepas sahur membawa tantangan tersendiri bagi ritme energi sepanjang hari.

Rasa lemas ini umumnya sementara dan adaptif, terutama pada minggu awal puasa, saat tubuh menyesuaikan diri. Memahami penyebab fisiologisnya membantu menentukan langkah yang tepat, seperti memilih menu sahur yang sehat dan seimbang, menjaga hidrasi, dan mempertahankan kualitas tidur yang baik agar energi lebih stabil hingga waktu berbuka.

Referensi

Shaden O. Qasrawi, Seithikurippu R. Pandi-Perumal, and Ahmed S. BaHammam, “The Effect of Intermittent Fasting During Ramadan on Sleep, Sleepiness, Cognitive Function, and Circadian Rhythm,” Sleep and Breathing 21, no. 3 (February 11, 2017): 577–86, https://doi.org/10.1007/s11325-017-1473-x.

Syrine Khemila et al., “Effects of Ramadan Fasting on the Diurnal Variations of Physical and Cognitive Performances at Rest and After Exercise in Professional Football Players,” Frontiers in Psychology 14 (March 28, 2023): 1148845, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1148845.

Editorial Team