Menurut sebuah tinjauan, puasa intermiten dapat menurunkan berat badan sekitar 0,8 persen hingga 13 persen dari berat awal. Namun, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa setelah sekitar 6 bulan, berat badan sering meningkat kembali sekitar 1–2 persen dari titik terendah, meskipun biasanya masih lebih rendah dibanding berat awal sebelum puasa.
Itu menunjukkan bahwa kenaikan berat badan setelah puasa merupakan fenomena yang cukup umum, terutama jika perubahan gaya hidup/pola makan tidak dipertahankan dalam jangka panjang.
Kenaikan berat badan setelah puasa dapat terjadi karena berbagai faktor biologis dan perilaku, mulai dari metabolisme yang melambat, perubahan hormon lapar, kehilangan massa otot hingga pemulihan berat air dalam tubuh. Jadi, menjaga pola makan seimbang, cukup protein, serta tetap aktif secara fisik menjadi kunci agar berat badan tetap stabil setelah puasa Ramadan.
Referensi
"The Fasting Trap: Why Extreme Diets Often Lead to Rebound Weight Gain". Ubie. Diakses Maret 2026.
Welton, Stephanie, Robert Minty, Teresa O’Driscoll, Hannah Willms, Denise Poirier, Sharen Madden, and Len Kelly. “Intermittent Fasting and Weight Loss: Systematic Review,” February 1, 2020.
Hollstein, Tim, Takafumi Ando, Alessio Basolo, Jonathan Krakoff, Susanne B Votruba, and Paolo Piaggi. “Metabolic Response to Fasting Predicts Weight Gain during Low-Protein Overfeeding in Lean Men: Further Evidence for Spendthrift and Thrifty Metabolic Phenotypes.” American Journal of Clinical Nutrition 110, no. 3 (March 26, 2019): 593–604.
"4 ways to minimize weight gain after a fast". LMNT. Diakses Maret 2026.