ilustrasi perempuan terlihat cemas (magnific.com/freepik)
Sebaiknya temui dokter jika mengalami lelah ekstrem yang tidak membaik, nyeri atau bengkak pada sendi yang berulang, ruam yang memburuk setelah terpapar matahari, rambut rontok tidak biasa, sariawan berulang, mata atau mulut sangat kering, demam ringan tanpa sebab jelas, mati rasa/kesemutan, diare kronis, atau berat badan berubah tanpa alasan.
Pemeriksaan autoimun tidak bisa mengandalkan satu tes saja. Dokter biasanya akan menilai pola gejala, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, tes darah peradangan, fungsi organ, autoantibodi tertentu, dan rujukan ke spesialis jika perlu.
Jadi, yang membuat perempuan lebih rentan terkena penyakit autoimun karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan: dua kromosom X, hormon, respons imun yang lebih aktif, kerentanan genetik, dan pemicu dari luar tubuh.
Namun, risiko lebih tinggi bukan berarti perempuan pasti terkena penyakit autoimun. Yang terpenting, jangan menyepelekan gejala yang menetap. Makin cepat dikenali, makin besar peluang penyakit dikendalikan sebelum merusak organ atau kualitas hidup.
Referensi
Office of Autoimmune Disease Research, Office of Research on Women’s Health, National Institutes of Health. “Office of Autoimmune Disease Research.” Diakses Juli 2026.
Fairweather, DeLisa, Karen Cihakova, and colleagues. “Mechanisms Underlying Sex Differences in Autoimmunity.” Journal of Clinical Investigation 134, no. 18 (2024).
Dou, Diana R., Xiaoyu Zhao, Siyuan Zhang, et al. “Xist Ribonucleoproteins Promote Female Sex-Biased Autoimmunity.” Cell 187, no. 3 (2024): 733–749.e16.
National Institutes of Health. “Understanding Sex Differences in Autoimmune Disease.” Diakses Juli 2026.
Ferrayé, Léa, and colleagues. “The Inactive X Chromosome: A Genetic Driver of Female-Biased Autoimmunity.” Clinical & Translational Immunology 14, no. 5 (2025).
National Institute of Environmental Health Sciences. “Autoimmune Diseases.” Diakses Juli 2026.
Office on Women’s Health. “Autoimmune Diseases.” Diakses Juli 2026.