Kerumunan manusia dalam jumlah jutaan menciptakan dinamika yang tidak biasa bagi tubuh. Di satu sisi, ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang sakral, sementara di sisi lain juga menjadi salah satu kumpulan massa terbesar di dunia, dengan konsekuensi kesehatan yang tidak bisa diabaikan.
Dalam kondisi seperti ini, penyakit menular berpeluang lebih besar untuk menyebar. Kontak dekat, kelelahan fisik, perubahan cuaca ekstrem, hingga sistem imun yang menurun menjadi kombinasi yang membuka celah bagi infeksi. Di antara berbagai risiko tersebut, meningitis meningokokus menjadi salah satu yang paling diwaspadai.
Sejak awal tahun 2000-an, otoritas kesehatan global dan Arab Saudi menetapkan vaksin meningokokus sebagai syarat wajib bagi jemaah haji, yang lahir dari pengalaman menghadapi wabah yang nyata dan berdampak luas.
