Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Checklist Haji 2026: Vaksin dan Skrining Kesehatan

Checklist Haji 2026: Vaksin dan Skrining Kesehatan
ilustrasi penyuntikan vaksin (IDN Times/Halbert Caniago)
Intinya Sih
  • Haji 2026 mewajibkan vaksin meningokokus ACWY dan polio bagi jemaah Indonesia.

  • Vaksin influenza, COVID-19, dan pneumokokus sangat dianjurkan untuk mencegah infeksi pernapasan, terutama bagi lansia serta jemaah dengan penyakit kronis.

  • Pemeriksaan kesehatan mencakup skrining penyakit kronis, kebugaran fisik, dan penyakit menular untuk memastikan jemaah layak secara fisik dan mental melalui sertifikat istitha’ah kesehatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Persiapan menuju Tanah Suci tidak berhenti di niat, koper, dan dokumen perjalanan. Kesiapan kesehatan juga harus matang. Di tengah jutaan manusia yang berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama, tubuh menjadi garis pertahanan pertama.

Musim haji selalu membawa tantangan yang unik, seperti suhu ekstrem, kepadatan tinggi, serta aktivitas fisik yang intens dalam waktu singkat. Kombinasi ini menjadikan haji sebagai salah satu peristiwa berkumpulnya massa dengan risiko kesehatan tertinggi di dunia. Karena itu, standar medisnya pun tidak bisa dianggap biasa.

Memasuki Haji 2026, ada vaksin wajib, ada yang sangat dianjurkan, dan ada pemeriksaan kesehatan yang menentukan apakah seseorang benar-benar siap berangkat.

Table of Content

Vaksin wajib

Vaksin wajib

1. Vaksin meningokokus (ACWY)

Ini adalah syarat wajib global bagi seluruh jemaah haji.

  • Melindungi dari meningitis yang mudah menyebar di kerumunan.
  • Harus diberikan minimal 10 hari sebelum keberangkatan.
  • Bukti vaksinasi menjadi syarat pengajuan visa.

Secara ilmiah, risiko penularan meningokokus meningkat drastis dalam kondisi padat seperti haji, bahkan pada individu sehat.

2. Vaksin polio

Untuk Haji 2026, jemaah dari Indonesia wajib mendapatkan vaksin polio.

  • Minimal satu dosis sebelum keberangkatan.
  • Biasanya diberikan 2–4 minggu sebelumnya.
  • Berlaku karena Indonesia masuk kategori pengawasan polio global.

Kebijakan ini mengikuti regulasi Arab Saudi untuk negara dengan riwayat kasus polio dalam periode tertentu.

Vaksin yang sangat dianjurkan

Ilustrasi vaksin.
ilustrasi vaksin (pexels.com/MFRANK MERIÑO)

1. Influenza

  • Direkomendasikan untuk semua jemaah.
  • Terutama lansia dan komorbid.

Penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza menurunkan kejadian infeksi saluran napas selama haji.

2. COVID-19

  • Disarankan sudah vaksin lengkap dan booster.
  • Kebijakan bisa berubah sesuai situasi global.

3. Pneumokokus

Dianjurkan untuk:

  • Usia ≥60 tahun.
  • Jemaah dengan penyakit kronis.

Pneumonia adalah salah satu penyebab rawat inap saat haji.

Pemeriksaan kesehatan

1. Skrining penyakit kronis

Ini meliputi:

  • Tekanan darah.
  • Gula darah.
  • Fungsi jantung dan ginjal.

Ini penting karena aktivitas haji setara dengan olahraga intensitas sedang–berat. Penyakit kronis yang tidak terkontrol meningkatkan risiko komplikasi selama haji.

2. Pemeriksaan kebugaran fisik

  • Tes jalan (endurance).
  • Evaluasi kapasitas paru.

Tujuannya memastikan jemaah mampu menjalani tawaf, sa’i, dan lempar jumrah.

3. Skrining penyakit menular

Contohnya:

  • Tuberkulosis (TBC).
  • Hepatitis (pada kelompok risiko).

4. Sertifikat istitha’ah kesehatan

Dokumen ini menandakan bahwa jemaah:

  • Layak secara fisik dan mental.
  • Aman untuk menjalani ibadah tanpa risiko besar.

Kelompok risiko tinggi: perlu evaluasi lebih ketat

Ilustrasi jemaah haji.
ilustrasi jemaah haji (IDN Times/Aditya Pratama)

Kelompok berikut membutuhkan perhatian khusus:

  • Lansia.
  • Pengidap penyakit jantung.
  • Jemaah dengan diabetes.
  • Jemaah dengan penyakit paru.

Mereka lebih rentan terhadap:

  • Heatstroke.
  • Dehidrasi.
  • Infeksi pernapasan.

Persiapan kesehatan untuk haji bukan sekadar formalitas administratif, melainkan termasuk bentuk perlindungan diri di tengah kondisi ekstrem. Vaksinasi bekerja sebagai perisai awal, sementara pemeriksaan kesehatan memastikan tubuh mampu bertahan selama beribadah.

Dengan kesiapan mental, kondisi fisik optimal, serta mengikuti panduan medis, jemaah tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada keselamatan jutaan orang lain di Tanah Suci.

Referensi

World Health Organization. "International Travel and Health. Geneva: WHO, 2022." Diakses April 2026.

Mohammad Alfelali et al., “Influenza Vaccine Effectiveness Among Hajj Pilgrims: A Test-negative Case-control Analysis of Data From Different Hajj Years,” Expert Review of Vaccines 18, no. 10 (July 19, 2019): 1103–14, https://doi.org/10.1080/14760584.2019.1646130.

Centers for Disease Control and Prevention. Pneumococcal Disease. Atlanta: CDC, 2023. Diakses April 2026.

Qanta A Ahmed, Yaseen M Arabi, and Ziad A Memish, “Health Risks at the Hajj,” The Lancet 367, no. 9515 (March 1, 2006): 1008–15, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(06)68429-8.

Ziad A Memish et al., “Reducing Risks From Respiratory Pathogens at the 2024 Hajj,” The Lancet Infectious Diseases 24, no. 6 (April 23, 2024): 573–75, https://doi.org/10.1016/s1473-3099(24)00260-3.

Ziad A Memish et al., “Hajj: Infectious Disease Surveillance and Control,” The Lancet 383, no. 9934 (May 20, 2014): 2073–82, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60381-0.

Gulf News. “Hajj 2026: Vaccinations and Health Checklist for Pilgrims Travelling to Mecca.” Diakses April 2026.

Ministry of Health Saudi Arabia. “Health Requirements for Hajj and Umrah Pilgrims.“ Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More
Apakah Bisul Bisa Menular?

Apakah Bisul Bisa Menular?

08 Apr 2026, 07:48 WIBHealth