Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang pasien dirawat di rumah sakit akibat infeksi pernapasan berat.
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (freepik.com/DC Studio)

Intinya sih...

  • Defisiensi vitamin D berat meningkatkan risiko rawat inap akibat infeksi pernapasan hingga 33 persen.

  • Setiap kenaikan kadar vitamin D 10 nmol/L dikaitkan dengan penurunan risiko rawat inap sebesar 4 persen.

  • Kelompok usia paruh baya dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap dampaknya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Vitamin D dikenal luas sebagai nutrisi penting untuk kesehatan tulang dan otot. Namun, perannya ternyata melampaui itu. Vitamin D juga terlibat aktif dalam sistem pertahanan tubuh, termasuk dalam melawan infeksi.

Sebuah studi besar dari Inggris menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D, terutama pada tingkat yang berat, berkaitan erat dengan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan serius, seperti bronkitis dan pneumonia. Infeksi jenis ini bisa berujung pada perawatan di rumah sakit dan bahkan kematian, terutama pada kelompok usia lanjut.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran lama bahwa kekurangan/defisiensi vitamin D bukan masalah sepele. Pada populasi yang menua dan makin rentan terhadap penyakit pernapasan, kadar vitamin D bisa menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan seberapa berat dampak infeksi yang dialami seseorang.

Bukti kuat dari studi populasi skala besar

Penelitian ini dipimpin oleh tim dari University of Surrey, bekerja sama dengan University of Reading dan University of Oxford. Para peneliti menganalisis data 36.258 peserta dari UK Biobank, menjadikannya salah satu studi terbesar yang meneliti hubungan antara status vitamin D dan risiko rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan.

Hasilnya cukup mencolok. Individu dengan defisiensi vitamin D berat, yaitu kadar di bawah 15 nmol/L, memiliki risiko rawat inap akibat infeksi pernapasan 33 persen lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki kadar vitamin D cukup (≥75 nmol/L).

Tak hanya itu, tim peneliti juga menemukan hubungan yang bersifat bertahap. Setiap peningkatan kadar vitamin D sebesar 10 nmol/L dikaitkan dengan penurunan risiko rawat inap akibat infeksi pernapasan sebesar 4 persen. Artinya, bahkan peningkatan kecil pada kadar vitamin D dapat membawa manfaat nyata bagi kesehatan pernapasan.

Kenapa vitamin D sangat penting bagi paru-paru?

ilustrasi paru-paru manusia (freepik.com/Freepik)

Vitamin D berperan dalam mengatur respons imun tubuh. Selain membantu menjaga kekuatan tulang dan otot, vitamin ini memiliki sifat antibakteri dan antivirus yang membantu tubuh melawan patogen penyebab infeksi.

Menurut Abi Bournot, peneliti utama dalam studi ini, data yang mereka temukan memberikan bukti kuat bahwa vitamin D berkontribusi dalam menurunkan risiko infeksi pernapasan yang cukup berat hingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Masalahnya, banyak orang, terutama di wilayah yang paparan sinar mataharinya terbatas, tidak mencapai asupan vitamin D yang direkomendasikan.

Risiko ini menjadi makin relevan pada kelompok usia paruh baya dan lansia, yang secara global menghadapi beban besar dari penyakit pernapasan. Infeksi saluran pernapasan bawah seperti pneumonia dan bronkitis termasuk penyebab kematian utama pada kelompok usia di atas 50 tahun.

Dalam konteks ini, suplementasi vitamin D, khususnya pada bulan-bulan dengan paparan sinar matahari rendah, dipandang sebagai langkah sederhana namun bermakna untuk menurunkan risiko infeksi pernapasan serius. Bukan sebagai pengganti pengobatan, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga daya tahan tubuh tetap optimal.

Referensi

"Low vitamin D levels shown to raise risk of hospitalisation with potentially fatal respiratory tract infections by 33%." University of Surrey. Diakses Januari 2026.

Abigail R Bournot et al., “Association Between Serum 25-hydroxyvitamin D Status and Respiratory Tract Infections Requiring Hospital Admission: Unmatched Case-control Analysis of Ethnic Groups From the United Kingdom Biobank Cohort,” American Journal of Clinical Nutrition, December 1, 2025, 101179, https://doi.org/10.1016/j.ajcnut.2025.101179.

Editorial Team