ilustrasi menuangkan garam (IDN Times/NRF)
Alasan seseorang menambahkan garam tidak selalu soal rasa makanan. Para peneliti menekankan, kebiasaan ini sering terbentuk dari paparan jangka panjang terhadap makanan tinggi natrium.
Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan asin, sensitivitas lidah terhadap rasa garam bisa menurun. Akibatnya, makanan yang sebenarnya sudah cukup asin terasa “kurang”, sehingga muncul dorongan untuk menambahkan garam lagi.
Dalam jangka panjang, pola ini bisa menjadi siklus:
Konsumsi garam tinggi menyebabkan sensitivitas rasa asin menurun.
Sensitivitas rasa asin yang menurun membuat tubuh butuh lebih banyak garam.
Pada akhirnya, asupan garam meningkat.
Dampaknya tidak kecil. Konsumsi garam berlebih telah dikaitkan dengan:
Ini menjelaskan kenapa para ahli terus mendorong pengurangan atau pembatasan konsumsi garam.
Kebiasaan menambahkan garam mungkin tampak sepele, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa di balik tindakan ini, ada pola perilaku yang dipengaruhi oleh gender, gaya hidup, hingga lingkungan sosial. Laki-laki cenderung lebih sering melakukannya secara langsung, sementara perempuan menunjukkan pola yang lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.
Kalau kamu punya kebiasaan ini, yuk segera ubah! Mengganti garam dengan bumbu alami seperti rempah, menggunakan asam dari jeruk, atau bahkan sekadar tidak meletakkan garam di meja makan bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Dalam jangka panjang, perubahan kecil ini bisa berdampak besar bagi kesehatan.
Referensi
Flávia Dos Santos Barbosa Brito et al., “The Habit of Adding Salt to Food at the Table and Its Association With Socio-demographic, Anthropometric and Dietary Characteristics in Brazilian Older Adults,” Frontiers in Public Health 14 (April 2, 2026), https://doi.org/10.3389/fpubh.2026.1737516.
"Older men most likely to reach for saltshakers, while women’s salt-adding behavior more nuanced, study suggests." Frontiers. Diakses April 2026.