Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi penyintas kanker serviks.
ilustrasi kanker serviks (IDN Times/Novaya Siantita)

Intinya sih...

  • Beban kanker leher rahim masih tinggi di Indonesia, dengan lebih dari 21.000 kematian pada 2023.

  • Proyek percontohan dilaksanakan di dua wilayah di Provinsi Jawa Timur dengan model layanan hub-and-spoke untuk meningkatkan partisipasi dan aksesibilitas skrining HPV DNA.

  • Hasil proyek percontohan menunjukkan laboratorium di Surabaya mampu memproses hingga 96 sampel per hari, sementara sistem semiotomatis di Mojokerto memerlukan keterlibatan tenaga laboratorium yang lebih banyak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Beban kanker leher rahim atau kanker serviks masih tinggi. Pada 2023 saja tercatat ada 36.964 kasus baru dengan lebih dari 21.000 kematian. Tanpa penguatan intervensi, insiden serupa bisa meningkat lebih dari 60 persen pada 2040.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bersama Jhpiego Indonesia, Roche Diagnostics Indonesia, dan Bio Farma menggelar Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dari “Studi Implementasi untuk Mendukung Program ILP: Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan Model Hub-and-Spoke menggunakan Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid (DNA HPV) dan Pengambilan Sampel Mandiri di Provinsi Jawa Timur”.

Proyek percontohan

Proyek percontohan dilaksanakan di dua wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda di Jawa TImur, yakni Kelurahan Manukan Kulon di Kota Surabaya dan Kecamatan Wonoayu di Kabupaten Sidoarjo, melalui penerapan model layanan hub-and-spoke.

Model ini membangun jaringan rujukan antara laboratorium berkapasitas tinggi di daerah perkotaan padat populasi (hub) dengan lab yang kapasitasnya lebih terbatas dan fasilitas perawatan kesehatan primer di daerah pedesaan atau semi perkotaan yang populasinya lebih kecil (spoke).

Dengan begitu, layanan skrining dapat menjangkau lebih banyak perempuan secara merata dan efisien. Model hub-and-spoke yang diujicobakan pada studi ini menunjukkan peningkatan partisipasi dan aksesibilitas skrining DNA HPV pada perempuan di Jawa Timur.

Peserta yang dijangkau

ilustrasi pasien kanker serviks berobat (pexels.com/Thirdman)

Di Surabaya, skrining DNA HPV dilakukan dengan model self-sampling dan menjangkau 5.500 perempuan (75 persen dari target total 7.333 usia sasaran). Model ini diterima dengan baik karena dinilai sederhana, privat, dan mengurangi rasa takut, diperkuat juga oleh peran aktif kader sebagai rujukan tepercaya di komunitas.

Di Kabupaten Sidoarjo, skrining dilakukan melalui pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan (provider-sampling) di Puskesmas Wonoayu dan menjangkau 923 perempuan (75 persen dari target total 1.230 perempuan usia sasaran). 

Pendekatan ini juga diterima dengan baik karena peserta langsung mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan serta penjangkauan aktif oleh kader dan kegiatan komunitas, termasuk di lingkungan kerja.

Sampel diperiksa di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kabupaten Mojokerto dengan menggunakan sistem semiotomatis dan memanfaatkan infrastruktur pemerintah yang telah tersedia.

Temuan studi

Hasil proyek percontohan menunjukkan laboratorium di Surabaya mampu memproses hingga 96 sampel per hari dengan keterlibatan tenaga laboratorium sekitar 33 persen dari total waktu proses, sementara sebagian besar tahapan berjalan secara otomatis.

Sebaliknya, sistem semiotomatis di Mojokerto dengan volume pemeriksaan yang sebanding, memerlukan keterlibatan tenaga laboratorium yang lebih banyak hingga sekitar 90 persen dari total waktu proses. 

Perbedaan ini memberikan pembelajaran penting tentang dampak tingkat otomasi terhadap efisiensi layanan dan menjadi pertimbangan strategis dalam penguatan jejaring laboratorium untuk mendukung perluasan skrining DNA HPV secara nasional.

Penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan DNA HPV menjadi krusial untuk mencapai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 90–70–90 Eliminasi Kanker Leher Rahim tahun 2030, sehingga proyek percontohan di Jawa Timur dikembangkan untuk menguji penerapan skrining yang efektif dan berkelanjutan dalam layanan kesehatan primer sesuai kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP).

Editorial Team