Lisa M Force et al., “The Global, Regional, and National Burden of Cancer, 1990–2023, With Forecasts to 2050: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2023,” The Lancet 406, no. 10512 (September 25, 2025): 1565–86, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(25)01635-6.
Beban Kanker Dunia Membesar, Negara Miskin Paling Terdampak

- Kasus dan kematian akibat kanker meningkat tajam secara global.
- Negara berpenghasilan rendah dan menengah menanggung beban terbesar.
- Hampir 4 dari 10 kematian kanker terkait faktor risiko yang bisa dicegah.
Dunia sedang menghadapi lonjakan kanker dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Antara tahun 1990 hingga 2023, jumlah diagnosis dan kematian akibat kanker meningkat tajam, bahkan ketika pengobatan dan upaya pencegahan terus berkembang. Analisis besar dari Global Burden of Disease Study yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet memperkirakan bahwa pada 2050, sebanyak 30,5 juta orang akan didiagnosis kanker, dan 18,6 juta orang meninggal karenanya.
Lebih dari separuh kasus baru dan hampir dua pertiga kematian diproyeksikan terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang ketimpangan. Negara-negara dengan sumber daya terbatas justru menghadapi beban kanker yang tumbuh paling cepat, sementara sistem kesehatannya sering kali belum siap.
Jika dilihat lebih dalam, peningkatan ini sebagian besar didorong oleh pertumbuhan populasi dan bertambahnya jumlah lansia di seluruh dunia. Setelah disesuaikan dengan usia, tingkat kejadian dan kematian kanker secara global sebenarnya tidak melonjak drastis. Namun, fakta ini tetap belum cukup untuk mengejar target Sustainable Development Goal (SDG) PBB yang menargetkan penurunan sepertiga kematian dini akibat penyakit tidak menular, termasuk kanker, pada 2030.
Ketimpangan beban kanker antarnegara
Pada tahun 2023, kanker menyebabkan 10,4 juta kematian dan 18,5 juta kasus baru di seluruh dunia, tidak termasuk kanker kulit non-melanoma. Dibandingkan 1990, angka kematian meningkat 74 persen, sementara kasus baru melonjak hingga 105 persen.
Di balik rata-rata global tersebut, terdapat jurang ketimpangan yang lebar. Angka kematian kanker yang sudah disesuaikan usia memang turun sekitar 24 persen secara global sejak 1990, tetapi penurunan ini terutama terjadi di negara berpendapatan tinggi. Sebaliknya, negara berpendapatan rendah dan menengah justru mengalami peningkatan tajam angka kejadian kanker.
Beberapa negara menunjukkan perubahan ekstrem. Lebanon mencatat kenaikan terbesar dalam angka kejadian dan kematian kanker, sementara Uni Emirat Arab dan Kazakhstan termasuk yang mengalami penurunan signifikan. Secara global, kanker payudara menjadi kanker yang paling sering didiagnosis, sedangkan kanker paru masih menjadi penyebab kematian kanker terbanyak.
Faktor risiko yang bisa dicegah dan panggilan aksi global

Sekitar 42 persen kematian akibat kanker pada 2023, setara dengan 4,3 juta jiwa, berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya bisa diubah. Merokok masih menjadi penyumbang terbesar secara global, diikuti pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, obesitas, kadar gula darah tinggi, hingga paparan polusi dan risiko pekerjaan.
Pada laki-laki, hampir separuh kematian kanker terkait faktor-faktor ini. Pada perempuan, proporsinya lebih rendah, tetapi tetap signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan memiliki potensi besar untuk menyelamatkan jutaan nyawa, jika dijalankan secara serius dan merata.
Para peneliti menekankan bahwa pengendalian kanker harus menjadi prioritas kebijakan kesehatan global, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Akses terhadap diagnosis dini, pengobatan berkualitas, dan perawatan suportif masih sangat timpang. Tanpa investasi, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan sistem surveilans kanker, lonjakan ini berisiko menjadi krisis kesehatan jangka panjang.
Masa depan pengendalian kanker sangat bergantung pada keputusan hari ini. Data sudah berbicara. Tantangannya kini bukan lagi soal mengetahui risikonya, tetapi keberanian untuk bertindak secara adil, kolektif, dan berkelanjutan.
Referensi


















