Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bolehkah Makan Makanan Pedas saat Sahur? Ini Penjelasan Ilmiahnya
ilustrasi sepasang suami istri makan sahur (pexels.com/Thirdman)
  • Senyawa pedas seperti kapsaisin dalam cabai dapat mengiritasi saluran cerna, terutama jika dikonsumsi saat perut kosong seperti waktu sahur.

  • Bagi sebagian orang, makanan pedas dapat memicu peningkatan asam lambung, dispepsia, atau refluks saat atau setelah puasa.

  • Toleransi individu terhadap makanan pedas bervariasi; pilihan dan takaran pedas dapat disesuaikan untuk kenyamanan dan kesehatan pencernaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sahur adalah waktu makan penting selama Ramadan. Menjelang sahur, tubuh berada dalam kondisi perut kosong setelah jeda makan sejak waktu berbuka atau makan malam sebelumnya, dan sistem pencernaan relatif beristirahat semalaman. Pilihan menu sahur perlu disesuaikan dengan bagaimana tubuh merespons makanan dalam keadaan perut kosong sebelum kembali berpuasa sepanjang hari.

Sepintas makanan pedas menarik untuk disantap. Namun, makanan pedas terutama yang tinggi kapsaisin (senyawa aktif cabai) memiliki efek khusus pada sistem pencernaan yang bisa berbeda antara individu sehat dan mereka yang punya sensitivitas atau gangguan lambung tertentu.

1. Apa itu kapsaisin dan bagaimana kerjanya dalam tubuh

Kapsaisin adalah senyawa yang memberi sensasi pedas pada cabai dan banyak rempah lainnya. Ketika dikonsumsi, kapsaisin berinteraksi dengan reseptor TRPV1 dalam saluran cerna, yaitu reseptor yang sama yang memberi sensasi panas atau terbakar di lidah dan dinding lambung.

Studi menunjukkan bahwa konsumsi kapsaisin dalam jumlah sedang bisa memberikan manfaat kesehatan, termasuk potensi efek antiinflamasi, pengaturan metabolisme, dan perubahan mikrobiota usus yang menguntungkan. Namun, respons ini sangat tergantung pada dosis, frekuensi, dan toleransi individu terhadap makanan pedas.

2. Risiko makan makanan pedas saat sahur

ilustrasi seorang laki-laki sakit perut (freepik.com/jcomp)

Berikut ini beberapa risiko mengonsumsi makanan pedas saat sahur, apalagi dalam jumlah banyak:

  • Iritasi saluran pencernaan

Kapsaisin dapat memicu sensasi terbakar tidak hanya di lidah, tetapi juga pada lambung dan usus, terutama saat perut kosong. Hal ini dikaitkan dengan produksi asam lambung yang lebih tinggi dan iritasi pada mukosa lambung, yang dapat menyebabkan nyeri ulu hati atau perut tidak nyaman.

Penelitian observasional menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas berkaitan dengan gejala dispepsia seperti kembung, mual, dan rasa penuh, terutama saat makanan pedas dikonsumsi tanpa makanan lain yang dapat 'melapisi' lambung.

  • Peningkatan asam lambung dan refluks

Pada beberapa individu, makanan pedas mempercepat atau meningkatkan sekresi asam lambung. Ini bisa menjadi pemicu refluks gastroesofagus (GERD) atau sensasi terbakar di dada, terutama saat lambung kosong saat sahur.

  • Respons yang bervariasi berdasarkan kondisi masing-masing orang

Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa reaksi terhadap makanan pedas sangat bergantung pada faktor individual, termasuk toleransi terhadap kapsaisin, kondisi usus saat itu, dan adanya gangguan pencernaan kronis seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau gastritis. Orang-orang dengan kondisi tersebut sering mengalami gejala gastrointestinal setelah mengonsumsi makanan pedas.

3. Ada manfaatnya juga?

Meskipun risiko di atas patut diperhatikan, tetapi beberapa penelitian memang menemukan bahwa kapsaisin dan makanan pedas juga memiliki potensi manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Penelitian populasi menyebut bahwa konsumsi makanan pedas secara moderat dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa kondisi metabolik dan peningkatan diversitas mikrobiota usus.

Ini menunjukkan bahwa makanan pedas sendiri tidak secara otomatis berbahaya, yang penting adalah konteks konsumsi, frekuensi, dan bagaimana tubuh seseorang meresponsnya, terutama dalam keadaan perut kosong seperti saat sahur.

4. Siapa saja yang harus lebih waspada?

ilustrasi makanan pedas (freepik.com/KamranAydinov)

Orang-orang dengan kondisi di bawah ini sebaiknya berhati-hati dengan makanan pedas saat sahur:

  • GERD: Orang dengan GERD bisa mengalami peningkatan gejala heartburn atau refluks setelah makanan pedas karena sensasi terbakar yang dipicu kapsaisin.

  • Gastritis atau dispepsia kronis: Penyakit yang membuat dinding lambung sensitif dapat memperburuk gejala setelah makanan pedas.

  • IBS: Makan cabai bisa memperparah gejala IBS bagi sebagian orang.

5. Tips sahur untuk penyuka makanan pedas

Di bawah ini tips sahur yang sehat jika kamu doyan makanan pedas:

  • Kombinasikan dengan makanan lain: Konsumsi makanan pedas bersama dengan karbohidrat kompleks dan protein dapat membantu mengurangi iritasi terhadap lambung.

  • Mulai dengan level pedas rendah sampai sedang: Tingkatkan intensitas pedas secara bertahap apabila toleransi tubuhmu memungkinkan.

  • Perhatikan tanda-tanda tubuh: Jika kamu merasa tidak nyaman setelah makan pedas, catat gejalanya dan sesuaikan konsumsi saat sahur berikutnya.

  • Hindari jika punya riwayat masalah pencernaan yang sensitif: Bagi sebagian orang, diet rendah iritan bisa memberikan kenyamanan selama puasa Ramadan.

Senyawa kapsaisin dalam makanan pedas dapat merangsang sistem pencernaan secara berbeda pada setiap individu. Bagi sebagian orang, konsumsi pedas bersama sahur yang seimbang mungkin tidak menimbulkan masalah, bahkan mungkin membuat sahur lebih menyenangkan. Namun, pada individu yang rentan mengalami iritasi lambung, dispepsia, atau refluks, makan makanan pedas saat perut kosong berpotensi memicu ketidaknyamanan atau memperburuk gejala pencernaan.

Pilihan yang bijak, konsumsi dalam jumlah sedikit atau sedang, dan pemahaman tentang respons tubuh adalah kunci untuk menikmati hidangan pedas tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan pencernaan.

Referensi

Moh. Ubaidillah Faqih et al., “SPICY FOOD AS a TRIGGERING FACTOR FOR DYSPEPSIA IN FEMALE ADOLESCENTS AT SMP NEGERI 3 TUBAN,” International Journal of Midwifery Research 4, no. 3 (March 16, 2025), https://doi.org/10.47710/ijmr.v4i3.93.

Yiwei Xiang et al., “Beneficial Effects of Dietary Capsaicin in Gastrointestinal Health and Disease,” Experimental Cell Research 417, no. 2 (May 26, 2022): 113227, https://doi.org/10.1016/j.yexcr.2022.113227.

Zhimin Ao, Zongyue Huang, and Hong Liu, “Spicy Food and Chili Peppers and Multiple Health Outcomes: Umbrella Review,” Molecular Nutrition & Food Research 66, no. 23 (September 16, 2022): e2200167, https://doi.org/10.1002/mnfr.202200167.

Tanisa Patcharatrakul et al., “Acute Effects of Red Chili, a Natural Capsaicin Receptor Agonist, on Gastric Accommodation and Upper Gastrointestinal Symptoms in Healthy Volunteers and Gastroesophageal Reflux Disease Patients,” Nutrients 12, no. 12 (December 4, 2020): 3740, https://doi.org/10.3390/nu12123740.

Editorial Team