ilustrasi makanan ultraproses (unsplash.com/Phil Aicken)
Para peneliti menyoroti bahwa perubahan kesadaran publik terhadap UPF mungkin menyerupai perjalanan panjang edukasi bahaya rokok pada abad lalu. Dibutuhkan waktu, bukti ilmiah yang konsisten, serta kebijakan yang kuat untuk mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama ketika industri pangan ultraproses didominasi perusahaan besar dengan distribusi luas.
Dampaknya juga tak berhenti pada jantung dan stroke. Faktor risiko yang serupa—pola makan tinggi UPF, gaya hidup sedenter, dan obesitas—juga beririsan dengan peningkatan kanker kolorektal, termasuk pada usia lebih muda.
Meski uji klinis acak berskala besar masih diperlukan untuk memastikan hubungan kausal, tetapi para peneliti menekankan bahwa tenaga kesehatan sudah sepatutnya menyarankan pengurangan konsumsi UPF sebagai bagian dari perubahan gaya hidup terapeutik. Upaya ini perlu dibarengi pendekatan kesehatan masyarakat yang membuat pilihan makanan bergizi lebih mudah diakses dan terjangkau.
Ini bukan cuma menahan diri dari makanan olahan atau camilan kemasan, tetapi demi menciptakan lingkungan yang memudahkan orang memilih makanan utuh dan bergizi. Kesadaran adalah langkah pertama, tetapi dukungan sistem yang kuat akan menentukan langkah berikutnya.
Referensi
Yanna Willett et al., “Consumption of Ultra-processed Foods and Increased Risks of Cardiovascular Disease in US Adults,” The American Journal of Medicine, January 1, 2026, https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2026.01.012.
"Ultra-processed Foods Linked to Greater Heart Attack, Stroke Risk." Florida Atlantic University. Diakses Februari 2026.