Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Lupus Lebih Sering Menyerang Perempuan?
ilustrasi perempuan yang hidup dengan lupus (unsplash.com/engin akyurt)
  • Lupus lebih sering menyerang perempuan karena pengaruh hormon estrogen yang membuat sistem imun lebih aktif, terutama pada masa reproduksi saat kadar hormon ini tinggi.
  • Faktor genetik turut berperan, di mana dua kromosom X pada perempuan membawa banyak gen imun yang bisa terlalu aktif dan meningkatkan risiko lupus.
  • Sistem imun perempuan secara alami lebih kuat dan responsif, namun hal ini juga membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit autoimun seperti lupus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lupus ialah penyakit autoimun kronis yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat. Penyakit ini bisa memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga otak. Menariknya, sekitar 90 persen pasien lupus adalah perempuan, terutama pada usia produktif antara 15–44 tahun.

Fakta ini sudah lama membuat para peneliti penasaran. Kenapa lupus jauh lebih sering dialami perempuan dibanding laki-laki? Ternyata, ada kombinasi faktor hormon, genetik, sistem imun, hingga lingkungan yang diduga berperan besar.

1. Hormon estrogen membuat sistem imun lebih aktif

Salah satu alasan utama lupus lebih sering menyerang perempuan adalah hormon estrogen. Hormon ini memang penting untuk sistem reproduksi perempuan, tetapi juga memiliki efek terhadap sistem kekebalan tubuh.

Estrogen dapat merangsang aktivitas imun sehingga tubuh menjadi lebih siaga. Sayangnya, pada lupus, sistem imun yang terlalu aktif justru memproduksi autoantibodi, yaitu antibodi yang menyerang sel sehat tubuh sendiri.

Itulah sebabnya lupus paling sering muncul pada masa reproduksi perempuan, ketika kadar estrogen sedang tinggi. Gejala lupus juga kerap memburuk saat:

  • Menstruasi.

  • Kehamilan.

  • Menjalani terapi hormon.

  • Kondisi lain yang meningkatkan estrogen.

Sebaliknya, setelah menopause, risiko lupus pada perempuan cenderung menurun karena kadar estrogen ikut berkurang.

Sementara itu, laki-laki memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi. Hormon ini diduga membantu menekan reaksi imun berlebihan sehingga memberi efek perlindungan terhadap lupus.

2. Perempuan punya dua kromosom X

Faktor genetik juga dianggap berpengaruh besar. Perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sedangkan laki-laki hanya memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY).

Kromosom X ternyata membawa banyak gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.

Normalnya, salah satu kromosom X pada perempuan akan dimatikan agar aktivitas gen tetap seimbang. Namun, pada beberapa kondisi, proses ini tidak berjalan sempurna. Akibatnya, sebagian gen imun di kromosom X tetap aktif berlebihan. Hal ini diduga meningkatkan risiko gangguan autoimun seperti lupus.

Selain itu, lupus cenderung muncul dalam keluarga tertentu, menunjukkan adanya faktor keturunan. Risiko penyakit ini bahkan lebih tinggi pada perempuan keturunan Afrika-Amerika, Hispanik, Asia, dan penduduk asli Amerika.

Meski begitu, genetik saja tidak cukup menyebabkan lupus. Biasanya ada faktor lain yang ikut memicu kemunculan penyakit ini.

3. Sistem imun perempuan memang lebih kuat

ilustrasi perempuan menggunakan handphone (magnific.com/rawpixel-com)

Secara alami, perempuan memiliki sistem imun yang lebih responsif dibanding laki-laki. Ini sebenarnya menguntungkan karena tubuh jadi lebih baik dalam melawan infeksi.

Namun, ada sisi negatifnya. Sistem imun yang terlalu aktif juga lebih mudah salah sasaran dan menyerang tubuh sendiri.

Pada lupus, hormon estrogen membantu meningkatkan aktivitas sel B, yaitu sel imun yang memproduksi antibodi. Akibatnya, autoantibodi lebih mudah terbentuk dan menimbulkan peradangan di berbagai organ. Inilah alasan mengapa perempuan lebih rentan mengalami penyakit autoimun. Bukan cuma lupus, tetapi juga artritis reumatoid dan multiple sclerosis.

4. Faktor lingkungan bisa menjadi pemicu

Tidak semua perempuan dengan faktor genetik atau hormonal akan terkena lupus. Biasanya ada pemicu tambahan dari lingkungan yang membuat penyakit ini aktif.

Beberapa faktor yang diketahui dapat memicu lupus antara lain:

  • Paparan sinar matahari berlebihan.

  • Stres berkepanjangan.

  • Merokok.

  • Infeksi tertentu.

  • Kurang tidur.

  • Beberapa jenis obat.

Pada perempuan yang sudah memiliki kerentanan genetik, kombinasi faktor-faktor tersebut dapat memicu sistem imun menjadi terlalu agresif.

5. Lupus paling sering menyerang perempuan usia subur

Lupus paling banyak ditemukan pada perempuan usia subur. Bahkan, sekitar 9 dari 10 pasien lupus adalah perempuan.

Selain itu, beberapa kelompok etnis diketahui memiliki risiko lebih tinggi. Perempuan kulit hitam misalnya, dilaporkan memiliki risiko lupus sekitar tiga kali lebih besar dibanding perempuan kulit putih. Hal ini menunjukkan bahwa lupus juga terkait dengan kombinasi genetik, lingkungan, dan faktor sosial lainnya.

Memahami alasan mengapa lupus lebih sering menyerang perempuan bisa membantu meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini. Dengan diagnosis yang lebih cepat dan penanganan yang tepat, kualitas hidup pasien lupus tetap bisa terjaga dengan baik.

Referensi

Baptist Health. "Why is Lupus More Common In Females?" Diakses pada Mei 2026.

Care Access. "Why are 90% of Lupus Patients Women?" Diakses pada Mei 2026.

Gleneagles Hospital. "Ladies, Let’s Talk Lupus: You’ve Heard of It, but Did You Know Lupus Mostly Affects Women. Diakses pada Mei 2026.

Office on Women's Health. "Lupus and Women". Diakses pada Mei 2026.

U.S Food & Drug Administration. "Lupus and Women." Diakses pada Mei 2026.

Editorial Team