Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan mengalami migrain.
ilustrasi perempuan mengalami migrain (unsplash.com/Resume Genius)

Intinya sih...

  • Migrain sering dikaitkan dengan perubahan kadar hormon, khususnya estrogen. Estrogen berpengaruh langsung pada jalur nyeri di sistem saraf dan memicu migrain.

  • Migrain yang berkaitan dengan menstruasi umum terjadi karena turunnya kadar estrogen secara alami beberapa hari sebelum menstruasi dimulai.

  • Bagi banyak perempuan, migrain justru membaik atau bahkan menghilang selama kehamilan karena kadar estrogen meningkat dengan cepat di awal kehamilan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah sadar kalau migrain sering muncul pada waktu-waktu tertentu, misalnya menjelang haid, saat hamil, atau mendekati menopause? Banyak orang mengira itu cuma kebetulan, padahal tubuh sebenarnya sedang mengalami perubahan besar di balik layar. Salah satu dalangnya adalah hormon, terutama estrogen, yang naik-turun mengikuti fase kehidupan perempuan.

Uniknya, migrain jauh lebih sering dialami perempuan dibandingkan laki-laki, dan ini bukan tanpa alasan. Fluktuasi hormon ternyata punya pengaruh langsung pada sistem saraf dan jalur rasa nyeri di otak. Dari siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan kontrasepsi, hingga terapi hormon, semuanya bisa memengaruhi seberapa sering dan seberapa parah migrain menyerang. Yuk, kita bahas kaitan antara migrain dan hormon perempuan.

1. Peran estrogen dalam migrain

Migrain sering dikaitkan dengan perubahan kadar hormon, khususnya estrogen. Kendati mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, estrogen diketahui berpengaruh langsung pada jalur nyeri di sistem saraf. Saat kadar estrogen turun atau naik secara drastis, otak menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan nyeri sehingga migrain lebih mudah muncul.

Apa pun yang memengaruhi kadar estrogen dalam tubuh berpotensi memicu migrain. Ini termasuk siklus menstruasi, kehamilan, menopause, serta penggunaan obat-obatan hormonal, seperti pil KB, terapi pengganti hormon, terapi kesuburan, hingga terapi hormon pada individu transgender.

2. Migrain dan siklus menstruasi

Migrain yang berkaitan dengan menstruasi sangat umum terjadi. Diperkirakan sekitar dua pertiga perempuan dengan migrain mengalaminya menjelang atau saat haid. Penyebab utamanya adalah turunnya kadar estrogen secara alami beberapa hari sebelum menstruasi dimulai.

Sebagian besar perempuan dengan migrain menstruasi tetap bisa mengalami serangan migrain di waktu lain dalam sebulan. Namun, jika migrain hanya muncul saat periode haid, kondisi ini disebut pure menstrual migraine. Mencatat gejala dalam buku harian selama minimal tiga bulan dapat membantu mengenali pola hubungan antara migrain dan siklus menstruasi.

3. Migrain saat kehamilan

ilustrasi ibu hamil (freepik.com/user18526052)

Kabar baiknya, bagi banyak perempuan, migrain justru membaik atau bahkan menghilang selama kehamilan. Hal ini diduga karena kadar estrogen meningkat dengan cepat di awal kehamilan dan tetap tinggi hingga persalinan. Namun, sakit kepala tipe tegang biasanya tidak ikut membaik karena tidak terlalu dipengaruhi oleh hormon.

Meski demikian, penggunaan obat migrain saat hamil perlu sangat hati-hati. Banyak obat sakit kepala yang bisa berdampak buruk pada janin. Jika migrain menghilang saat hamil, keluhannya bisa kembali setelah melahirkan akibat penurunan estrogen secara tiba-tiba, ditambah faktor stres, kurang tidur, dan perubahan pola makan.

4. Pengaruh kontrasepsi hormonal

Alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dapat memengaruhi migrain dengan cara yang berbeda-beda. Pil KB kombinasi dengan jeda tujuh hari, misalnya, dapat menyebabkan penurunan estrogen yang tajam dan memicu migrain pada sebagian orang. Mengurangi atau memperpendek masa jeda pil sering kali membantu mengurangi risiko ini.

Namun, perempuan dengan migrain disertai aura tidak disarankan menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi karena dapat meningkatkan risiko stroke, meski risikonya kecil. Jenis kontrasepsi lain seperti cincin vagina atau patch cenderung menyebabkan fluktuasi estrogen yang lebih stabil.

5. Migrain menjelang menopause dan saat menopause

Menjelang menopause, atau fase perimenopause, migrain yang dipicu hormon bisa menjadi lebih sering dan lebih menyakitkan. Ini terjadi karena kadar hormon naik-turun secara tidak teratur sebelum menstruasi benar-benar berhenti.

Setelah menopause, sebagian orang justru mengalami perbaikan migrain. Namun, sakit kepala tipe tegang bisa menjadi lebih buruk. Terapi pengganti hormon atau hormonal replacement therapy (HRT) dapat memberikan efek yang berbeda-beda: memperburuk migrain, memperbaikinya, atau tidak memberi perubahan sama sekali. Biasanya, estrogen dalam bentuk patch kulit direkomendasikan karena memberikan dosis yang lebih stabil.

6. Terapi hormon lainnya

ilustrasi migrain (pexels.com/Karola G)

Terapi kesuburan seperti IVF melibatkan suntikan hormon yang dapat meningkatkan kadar estrogen secara signifikan. Pada beberapa perempuan, kondisi ini dapat memicu atau memperparah migrain. Begitu pula pada perempuan transgender yang menjalani terapi estrogen, frekuensi migrain bisa meningkat, bahkan sebagian mengalami migrain dengan aura untuk pertama kalinya. Jika kamu merasakan perubahan pola migrain setelah menjalani terapi hormon apa pun, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menyesuaikan pengobatan.

Migrain dan hormon memiliki hubungan yang sangat erat, terutama pada perempuan. Memahami bagaimana perubahan hormon memengaruhi tubuh bisa membantu mengenali pemicu migrain dan mengelolanya dengan lebih baik. Dengan pendekatan yang tepat, termasuk pemilihan terapi yang sesuai dan konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan, migrain akibat fluktuasi hormon bukanlah sesuatu yang harus selalu ditakuti.

Referensi

Mayo Clinic. Diakses pada Desember 2025. Headaches and Hormones: What's the Connection?

The Migraine Trust. Diakses pada Desember 2025. Migraine and Hormones.

Editorial Team