Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mitos atau Fakta: Ibu Hamil Tidak Boleh Puasa
ilustrasi ibu hamil (IDN Times/NRF)
  • Secara medis, ibu hamil tidak otomatis dilarang berpuasa; keputusan tergantung kondisi kesehatan ibu dan janin, serta adanya komplikasi seperti diabetes, hipertensi, atau anemia.

  • Penelitian tentang efek puasa saat hamil masih belum konklusif; sebagian studi menunjukkan risiko kecil pada berat lahir dan kelahiran prematur, sementara lainnya tidak menemukan dampak signifikan.

  • Ibu hamil yang ingin berpuasa disarankan konsultasi ke dokter, menjaga asupan cairan dan nutrisi antara sahur–berbuka, serta segera batalkan puasa bila muncul tanda dehidrasi atau lemas berat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Artikel ini memberi ruang bagi ibu hamil untuk membuat keputusan berdasarkan kondisi tubuh masing-masing. Dengan dukungan pemeriksaan medis dan panduan nutrisi yang jelas, puasa Ramadan dapat dijalankan secara aman oleh ibu hamil yang sehat. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara keyakinan, kesehatan, dan kesadaran diri selama kehamilan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh dr. Febian Nathania, Sp.OG

Beberapa ibu hamil ragu untuk berpuasa, khawatir jika puasa membahayakan baik ibu hamil maupun janin. Kekhawatiran ini sering memicu perdebatan antara mitos dan fakta.

Secara medis, ibu hamil tidak otomatis dilarang berpuasa. Keputusan akan bergantung pada kondisi kesehatan ibu, janin, ada atau tidaknya komplikasi kehamilan seperti diabetes, hipertensi, anemia, dan kemampuan ibu hamil untuk menjalankan puasa. Puasa bisa aman pada sebagian ibu hamil yang sehat, tetapi berisiko pada yang memiliki masalah medis tertentu.

Yuk, pahami lebih lanjut!

1. Fakta ilmiah soal puasa saat hamil masih belum pasti

Penelitian tentang keamanan puasa saat hamil masih terus berjalan. Bukti ilmiahnya belum benar-benar tegas. 

Beberapa studi menunjukkan kemungkinan efek negatif tertentu.

Ada penelitian yang menyatakan bahwa puasa Ramadan saat trimester kedua berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur sangat dini sekitar 1,3–1,5 kali lebih tinggi dibanding yang tidak berpuasa.

Penelitian lain menunjukkan bahwa puasa saat trimester pertama dapat berkaitan dengan penurunan berat lahir bayi sekitar ±350 gram pada sebagian kasus.

Studi tentang metabolisme pada ibu hamil menunjukkan bahwa pembatasan makanan saat puasa dapat menyebabkan perubahan kadar gula darah dan risiko hipoglikemia, sehingga pada kondisi tertentu tidak dianjurkan, terutama pada ibu dengan diabetes.

Namun, banyak penelitian lain menemukan tidak ada efek signifikan terhadap ibu hamil yang berpuasa. 

Suatu metaanalisis menunjukkan, puasa Ramadan tidak memengaruhi berat lahir bayi atau angka prematur secara signifikan.

Penelitian lainnya juga menyimpulkan tidak ada bukti kuat bahwa puasa meningkatkan risiko prematur, diabetes gestasional, atau berat lahir rendah.

Oleh karena itu penelitian masih belum konklusif, sehingga bayak praktisi menyimpulkan pada kehamilan sehat, puasa relatif aman dilakukan. Akan tetapi, pada kehamilan berisiko atau asupan nutrisinya tidak cukup, puasa dapat menimbulkan masalah, sehingga sering tidak dianjurkan secara medis.

Dan, yang tidak boleh dilupakan, keputusan untuk berpuasa dikembalikan kepada kemampuan fisik masing-masing ibu hamil.

2. Jika ingin puasa, perhatikan kondisi tubuh

ilustrasi seorang ibu hamil melakukan telemedicine dengan dokter kandungan (IDN Times/NRF)

Jika ibu hamil mau berpuasa, sampaikan kepada dokter yang merawat agar bisa dilakukan pemeriksaan dan penilaian tentang keamanannya.

Secara agama, ibu hamil secara agama diperbolehkan tidak berpuasa jika ada risiko kesehatan, dan keputusan puasa sebaiknya dibuat bersama tenaga medis.

Saat ini tidak ada bukti kuat bahwa puasa berbahaya pada semua kehamilan, tetapi penelitian masih terbatas dan hasilnya beragam.

Kondisi-kondisi yang mungkin berisiko, sehingga biasanya tidak dianjurkan oleh dokter untuk berpuasa antara lain: pertumbuhan janin terhambat, anemia sedang–berat, diabetes gestasional atau diabetes sebelum hamil, hiperemesis gravidarum (mual muntah berat), dehidrasi, kehamilan kembar, riwayat bayi berat lahir rendah, riwayat keguguran berulang, dan perdarahan saat hamil.

Saat trimester pertama puasa sering kali lebih sulit karena sering ada mual muntah, yang mana ini meningkatkan risiko kekurangan nutrisi dan cairan. Selain itu, trimester ketiga juga perlu hati-hati karena kebutuhan energi meningkat risiko dehidrasi lebih tinggi.

Dehidrasi merupakan risiko yang perlu diperhatikan dan sering terjadi pada ibu hamil yang berpuasa. Dehidrasi terjadi ketika tubuh kekurangan cairan.

Pada ibu hamil yang berpuasa, penting untuk mengenali gejala dehidrasi, seperti

  • Gejala dehidrasi ringan:

    • Haus berlebihan.

    • Mulut dan bibir kering.

    • Urine berwarna kuning tua.

    • Jumlah urine sedikit.

    • Lemas atau mudah lelah.

    • Sakit kepala ringan.

  • Gejala dehidrasi sedang:

    • Pusing saat berdiri.

    • Jantung berdebar.

    • Kulit terasa kering.

    • Jarang buang air kecil.

    • Urine sangat pekat.

  • Gejala dehidrasi berat (bahaya):

    • Sangat lemas atau hampir pingsan.

    • Pingsan.

    • Tidak buang air kecil > 8 jam.

    • Kebingungan.

    • Kontraksi rahim atau nyeri perut pada ibu hamil.

Jika ibu hamil yang sedang puasa mengalami pusing, lemas, urine sangat gelap, gerakan janin berkurang, kontraksi atau kram perut, segera batalkan puasa. Konsumsi minuman manis untuk mengganti gula dan cairan yang hilang, serta camilan asin atau larutan rehidrasi oral untuk mengganti elektrolit. Setelahnya, hubungi dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

3. Strategi aman jika tetap berpuasa

Jika ibu hamil memilih berpuasa, maka minum cukup cairan antara berbuka dan sahur, konsumsi makanan tinggi protein dan energi saat sahur, hindari aktivitas fisik berat, dan segera berbuka jika mengalami:

  • Pusing.

  • lemas berat.

  • Pingsan.

  • Kontraksi.

  • Penurunan gerakan janin.

Usahakan tetap berada di tempat sejuk dan tidak terlalu banyak beraktivitas fisik.

Pilih makanan dengan kandungan air tinggi saat sahur dan berbuka seperti buah, sayur, sup, semur, atau bubur.

Batasi makanan terlalu asin, terutama saat sahur, karena bisa membuat kamu lebih cepat haus di siang hari.

Pilih sumber energi yang dilepas perlahan seperti roti gandum, pasta gandum utuh, sereal oat atau bran, kacang-kacangan, dan kacang tanpa garam agar kadar gula darah lebih stabil selama puasa.

Selama puasa, selain kebutuhan cairan yang cukup, juga harus dipastikan kebutuhan makronutrien dan mikronutrien tercukupi setiap harinya, dari mulai berbuka sampai hingga sahur.

Makronutrien seperti karbohidrat, protein, lemak, dan mikronutrien seperti vitamin dan mineral, sangat perlu diperhatikan saat hamil, untuk menjaga kebutuhan nutrisi selama hamil.

Jangan lupa juga untuk tetap mengkonsumsi suplemen atau vitamin hamil yang dianjurkan oleh dokter.

Puasa selama hamil tidak dilarang dan relatif aman dilakukan. Namun, tetap perlu dipertimbangkan antara ibu hamil dan dokter, untuk menilai adakah kondisi berisiko pada kehamilannya. Jika ada kondisi kondisi yang berisiko, maka berpuasa tidak dianjurkan.

Referensi

Karateke, Atilla. “The Effect of Ramadan Fasting on Fetal Development.” Pakistan Journal of Medical Sciences 31, no. 6 (November 20, 2015): 1295–99. https://doi.org/10.12669/pjms.316.8562.

Al‐Taiar, Abdullah, Md Estiar Rahman, May Salama, Ali H. Ziyab, and Wilfried Karmaus. “Impacts of Ramadan Fasting During Pregnancy on Pregnancy and Birth Outcomes: An Umbrella Review.” International Journal of Gynecology & Obstetrics 169, no. 3 (January 9, 2025): 968–78. 

“Ramadan and Pregnancy”. British Nutrition Foundation. Diakses pada Februari 2026.

Editorial Team