Jika ibu hamil memilih berpuasa, maka minum cukup cairan antara berbuka dan sahur, konsumsi makanan tinggi protein dan energi saat sahur, hindari aktivitas fisik berat, dan segera berbuka jika mengalami:
Pusing.
lemas berat.
Pingsan.
Kontraksi.
Penurunan gerakan janin.
Usahakan tetap berada di tempat sejuk dan tidak terlalu banyak beraktivitas fisik.
Pilih makanan dengan kandungan air tinggi saat sahur dan berbuka seperti buah, sayur, sup, semur, atau bubur.
Batasi makanan terlalu asin, terutama saat sahur, karena bisa membuat kamu lebih cepat haus di siang hari.
Pilih sumber energi yang dilepas perlahan seperti roti gandum, pasta gandum utuh, sereal oat atau bran, kacang-kacangan, dan kacang tanpa garam agar kadar gula darah lebih stabil selama puasa.
Selama puasa, selain kebutuhan cairan yang cukup, juga harus dipastikan kebutuhan makronutrien dan mikronutrien tercukupi setiap harinya, dari mulai berbuka sampai hingga sahur.
Makronutrien seperti karbohidrat, protein, lemak, dan mikronutrien seperti vitamin dan mineral, sangat perlu diperhatikan saat hamil, untuk menjaga kebutuhan nutrisi selama hamil.
Jangan lupa juga untuk tetap mengkonsumsi suplemen atau vitamin hamil yang dianjurkan oleh dokter.
Puasa selama hamil tidak dilarang dan relatif aman dilakukan. Namun, tetap perlu dipertimbangkan antara ibu hamil dan dokter, untuk menilai adakah kondisi berisiko pada kehamilannya. Jika ada kondisi kondisi yang berisiko, maka berpuasa tidak dianjurkan.
Referensi
Karateke, Atilla. “The Effect of Ramadan Fasting on Fetal Development.” Pakistan Journal of Medical Sciences 31, no. 6 (November 20, 2015): 1295–99. https://doi.org/10.12669/pjms.316.8562.
Al‐Taiar, Abdullah, Md Estiar Rahman, May Salama, Ali H. Ziyab, and Wilfried Karmaus. “Impacts of Ramadan Fasting During Pregnancy on Pregnancy and Birth Outcomes: An Umbrella Review.” International Journal of Gynecology & Obstetrics 169, no. 3 (January 9, 2025): 968–78.
“Ramadan and Pregnancy”. British Nutrition Foundation. Diakses pada Februari 2026.