Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kerokan.
ilustrasi kerokan (IDN Times/NRF)

Intinya sih...

  • Kerokan adalah praktik tradisional untuk mengeluarkan angin dari tubuh yang diyakini mampu meredakan masuk angin dan memberikan rasa nyaman sesaat.

  • Kerokan merupakan budaya Asia yang meliputi beberapa negara dengan teknik, nama, dan makna budaya yang berbeda.

  • Studi menyebutkan bahwa kerokan dapat memberikan rasa nyaman sementara, meningkatkan sirkulasi darah, dan menurunkan kadar prostaglandin E2 setelah dilakukan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kerokan kerap menjadi pilihan pertama masyarakat Indonesia saat merasa tidak enak badan, kembung, pegal, atau meriang—kondisi yang umum yang secara luas disebut “masuk angin”. Praktik tradisional ini diyakini mampu “mengeluarkan angin” dari dalam tubuh, ditandai dengan munculnya garis-garis merah keunguan di kulit.

Namun, di balik kepercayaan yang sudah mengakar turun-temurun tersebut, muncul pertanyaan apakah kerokan efektif secara medis, atau praktik ini cuma memberi rasa nyaman sesaat? Untuk mengetahui jawabannya, simak ulasannya di bawah ini, ya!


Budayanya orang Asia

Dalam budaya Jawa, masuk angin merupakan kondisi yang disebabkan oleh ketidakharmonisan antara unsur panas dan dingin dalam tubuh. Munculnya garis merah atau keunguan setelah kerokan dianggap sebagai tanda bahwa apa yang dianggap angin, panas, atau unsur penyakit telah dikeluarkan dari tubuh.

Keluhan seperti demam, nyeri otot, pegal-pegal, sakit kepala, hingga rasa tidak enak badan inilah yang dalam istilah awam disebut masuk angin. Namun, secara medis, ini lebih tepat dikategorikan sebagai common cold atau pilek/selesma yang disebabkan oleh virus dan umumnya bisa sembuh sendiri.

Kerokan sendiri nyatanya bukan budaya yang hanya dilakukan di Tanah Air saja, tetapi juga dikenal luas di beberapa negara Asia, meski dengan nama, teknik, dan makna budaya yang berbeda.

Berikut sebutan dan praktik kerokan di sejumlah negara Asia:

  • China: Gua sha.

  • Vietnam: Cạo gió.

  • Kamboja: Kos Kyal.

  • Laos: Khoud Lam.

  • Thailand: Kood Lom.

  • Malaysia dan Singapura: Gua sha/kerokan.

  • Myanmar: Yway Thway.

  • Filipina: Hilod/panghilot.

Kerokan memberikan rasa nyaman

ilustrasi koin untuk kerokan (vecteezy.com/Rudy Hermawan)

Menurut studi, kerokan atau coining tergolong sebagai terapi dermabrasi tradisional, yakni tindakan yang secara sengaja memberikan tekanan berulang pada kulit menggunakan benda tumpul seperti koin, batu giok, atau alat khusus, setelah sebelumnya diolesi minyak atau balsam hingga menimbulkan bekas kemerahan atau memar.

Jika dilakukan dengan tekanan yang tepat, kerokan tidak mengakibatkan kerusakan pada kulit, hanya menimbulkan reaksi peradangan akut yang normal. Proses peradangan ini yang kemudian menimbulkan rasa hangat setelahnya.

Kerokan juga mengakibatkan pelebaran pembuluh darah yang dapat meningkatan sirkulasi darah kaya akan oksigen menuju jaringan.

Studi juga menyebutkan adanya peningkatan kadar endorfin dan penurunan kadar PGE2 (prostaglandin E2) setelah kerokan. PGE2 berperan dalam pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi), peningkatan sensitivitas saraf nyeri, dan memperkuat sinyal saraf nyeri ke otak.

Sementara itu, endorfin adalah pereda nyeri alami layaknya morfin alami dan juga dapat menciptakan suasana hati bahagia dan euforia. Itulah sebabnya mengapa setelah kerokan, orang dapat merasa nyeri pegal berkurang dan tubuh terasa lebih rileks dan bahagia.

Walaupun teknik kerokan merupakan terapi yang murah dan bisa dilakukan di mana saja, tetapi kerokan hanya memberikan kelegaan subjektif sementara, tidak dapat mengatasi penyakit medis yang lebih lanjut.

Selain itu, praktik ini juga tidak dianjurkan untuk orang dengan gangguan pembekuan darah atau yang mengonsumsi obat pengencer darah, karena berisiko menimbulkan perdarahan lebih berat.

Kesimpulannya, kerokan dipahami sebagai praktik tradisional yang memiliki nilai budaya dan efek kenyamanan. Namun, dalam konteks kesehatan modern, teknik ini tetap tidak dapat menggantikan diagnosis dan pengobatan medis berbasis bukti, terutama untuk kondisi infeksi atau penyakit serius.

Referensi

“Coining: An Ancient Treatment Widely Practiced Among Asians,” PubMed, August 31, 2011, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25606235/.

Tanjung, F. F. (2014). "The Effects of Scrapping Treatment Techniques for Body Health." Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan Dan Agromedicine, 1(1), 67–71. https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/view/1341

Suhaimi, Nurnisaa & Sidiq, Fahmi & Amal, Alfi. (2024). "Analysis of the Effectiveness of kerokan (Coining) to Relieve Dizziness and Colds in Parungponteng District." International Journal of Health, Medicine, and Sports. 2. 16-20. 10.46336/ijhms.v2i1.74.

“What is coining (Gua sha)?”. Stanford Medicine. Diakses Desember 2025.

“Got a cold? In coin rubbing Indonesians trust”. The Conversation. Diakses Desember 2025.

“Kerokan”. Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Diakses Desember 2025.

Editorial Team