Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mitos atau Fakta: Kurang Tidur Memicu Gangguan Mental dan Fisik
ilustrasi perempuan kurang tidur (freepik.com/benzoix)
  • Kurang tidur mengganggu fungsi otak dan emosi, menurunkan fokus, memori, serta kemampuan mengelola stres sehingga suasana hati mudah berubah negatif.
  • Kualitas tidur buruk terbukti meningkatkan risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, bahkan dapat memperburuk kondisi psikologis yang sudah ada.
  • Kebutuhan tidur tiap orang berbeda tergantung usia, namun durasi ideal 7–9 jam dengan kualitas baik penting untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kurang tidur sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, banyak orang rela mengorbankan waktu istirahat demi pekerjaan atau aktivitas lain, tanpa menyadari risiko yang mungkin muncul.

Tak sedikit pula yang mempertanyakan, apakah benar kurang tidur bisa memicu gangguan mental, atau hanya sekadar mitos? Faktanya, kualitas dan durasi tidur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan emosi, konsentrasi, atensi, memori, hingga kemampuan dalam menghadapi stres sehari-hari.

Karena itu, memahami hubungan antara kurang tidur dan kesehatan mental menjadi penting, agar kita tidak lagi menganggap kebiasaan begadang sebagai hal yang biasa, melainkan sebagai faktor risiko yang perlu diwaspadai.

1. Kurang tidur mengganggu kerja otak dan emosi

Saat tidur, otak sebenarnya tidak benar-benar beristirahat. Aktivitasnya justru berubah-ubah mengikuti setiap tahap siklus tidur, termasuk fase rapid eye movement (REM) yang berperan penting dalam memproses emosi, membentuk memori, serta mendukung kemampuan berpikir dan belajar. Proses ini krusial untuk menjaga keseimbangan mental. Maka dari itu, kualitas tidur yang baik dapat memperbaiki kinerja otak kamu.

Kurang tidur menyebabkan penurunan aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif. Akibatnya, kamu akan mengalami kabut otak (brain fog), sulit mempertahankan fokus pada satu tugas dalam waktu lama, dan waktu reaksi (reaction time) menjadi lebih lambat. Hal ini meningkatkan risiko kesalahan dalam bekerja maupun berkendara.

Selain itu, otak menggunakan waktu tidur (terutama fase deep sleep dan REM) untuk memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang, proses ini disebut konsolidasi memori. Jika waktu tidur terpangkas, informasi yang dipelajari pada siang hari tidak tersimpan dengan sempurna di otak, sehingga kamu menjadi lebih mudah lupa dan sulit mempelajari hal-hal baru.

Selain itu, tanpa tidur yang cukup, fleksibilitas kognitif menurun. Otak menjadi kaku dalam berpikir, sehingga sulit untuk mencari solusi kreatif atau membuat keputusan yang tepat di bawah tekanan.

Ketika kamu kurang tidur, terutama jika fase REM terganggu, kemampuan otak untuk mengolah informasi emosional ikut terhambat. Akibatnya, kamu bisa menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau sulit mengelola stres. Bahkan, kurang tidur juga diketahui mengganggu proses penyimpanan emosi positif, sehingga suasana hati cenderung lebih negatif.

2. Bisa meningkatkan risiko kecemasan hingga depresi

ilustrasi seorang laki-laki kurang tidur (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi psikologis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur bisa meningkatkan risiko terjadinya  berbagai gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, hingga kesehatan mental lainnya. 

Pada orang yang sebelumnya sehat secara mental, kurang tidur saja sudah bisa memicu peningkatan rasa cemas, stres, dan emosi negatif. Sementara itu, pada individu yang sudah memiliki gangguan mental, masalah tidur cenderung terjadi lebih kronis dan dapat memperburuk gejala yang ada.

Hal ini menunjukkan bahwa gangguan tidur bukan hanya sekadar “efek samping” dari masalah psikologis, tetapi juga bisa menjadi pemicu yang memperparah kondisi tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan peningkatan risiko perilaku berbahaya.

Kabar baiknya, kualitas dan durasi tidur bisa diperbaiki. Karena itu, mengenali dan mengatasi masalah tidur sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

3. Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda

Tidak semua orang butuh durasi tidur yang sama. Kebutuhan tidur sangat dipengaruhi oleh usia dan kondisi individu.

Secara umum, orang dewasa disarankan tidur minimal 7 jam per malam, dengan kisaran ideal 7–9 jam untuk menjaga kesehatan tubuh dan mental. Remaja bahkan membutuhkan waktu tidur lebih lama, sekitar 8–10 jam, sementara lansia sekitar 6-7 jam.

Namun, bukan hanya durasi yang penting, kualitas tidur serta kontinuitas tidur juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental dan fisik.


4. Gangguan metabolisme dan hormon

ilustrasi seorang perempuan kurang tidur (pexels.com/Ron Lach)

Dampak kurang tidur tidak berhenti pada fungsi otak, tetapi juga dapat mengacaukan metabolisme tubuh. Tidur memiliki peran yang besar dalam meregulasi berbagai hormon yang mengontrol energi serta berat badan.

Saat kamu kurang tidur, tubuh memproduksi lebih banyak hormon ghrelin (hormon yang memicu rasa lapar) dan menurunkan hormon leptin (hormon yang memberi sinyal kenyang). Hal ini sering menyebabkan craving atau keinginan makan berlebih, terutama makanan tinggi gula dan karbohidrat.

Kurang tidur yang kronis dapat membuat sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Akibatnya, kadar gula darah lebih sulit terkontrol, sehingga dalam jangka panjang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.

Kurangnya waktu istirahat membuat kadar hormon kortisol tetap tinggi pada malam hari. Kadar kortisol yang tinggi tidak hanya membuat kamu sulit tidur nyenyak, tetapi juga memicu penyimpanan lemak di area perut dan menghambat proses pembakaran energi.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa anggapan kurang tidur bisa memicu gangguan mental dan fisik bukan cuma mitos. Kualitas dan durasi tidur yang buruk terbukti berkaitan erat dengan berbagai masalah psikologis, mulai dari perubahan suasana hati hingga risiko gangguan yang lebih serius seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Referensi

Arambh Sanjay Shah et al., “Effects of Sleep Deprivation on Physical and Mental Health Outcomes: An Umbrella Review,” American Journal of Lifestyle Medicine, May 27, 2025, 15598276251346752, https://doi.org/10.1177/15598276251346752.

Rebecca A. Bernert et al., “Sleep Disturbances as an Evidence-Based Suicide Risk Factor,” Current Psychiatry Reports 17, no. 3 (February 20, 2015): 554, https://doi.org/10.1007/s11920-015-0554-4.

“Seven or more hours of sleep per night: A health necessity for adults”. American Academy of Sleep Medicine. Diakses pada Maret 2026. 

“How Sleep Deprivation Impacts Mental Health”. Columbia University Department of Psychiatry. Diakses pada Maret 2026.

Editorial Team