Kathryn E McAuliffe, Madeline R Wary, Gemma V Pleas, Kiziah E S Pugmire, Courtney Lysiak, Nathan F Dieckmann, Brooke M Shafer, Andrew W McHill, Sleep insufficiency and life expectancy at the state-county level in the United States, 2019–2025, SLEEP Advances, Volume 6, Issue 4, 2025, zpaf090, https://doi.org/10.1093/sleepadvances/zpaf090
"Insufficient sleep associated with decreased life expectancy." Oregon Health & Science University. Diakses Januari 2026.
Studi: Kurang Tidur Lebih Berisiko daripada Jarang Olahraga

- Tidur cukup (minimal 7 jam) punya kaitan kuat dengan angka harapan hidup.
- Pengaruh tidur terhadap umur panjang bahkan lebih besar daripada diet dan olahraga.
- Kurang tidur kronis berpotensi memengaruhi jantung, imun, dan fungsi otak.
Dalam daftar panjang kebiasaan hidup sehat, tidur sering kali berada di posisi terbawah. Banyak orang sibuk menghitung kalori, menargetkan langkah harian, atau memilih jenis olahraga paling efektif, sementara jam tidur diabaikan. Riset terbaru menunjukkan sesuatu yang mengejutkan, bahwa tidur bisa lebih menentukan panjang usia dibanding diet/pola makan atau aktivitas fisik.
Penelitian dari Oregon Health & Science University (OHSU) menemukan bahwa orang yang secara konsisten tidur setidaknya 7 jam setiap malam cenderung memiliki harapan hidup lebih tinggi. Bukan cuma bangun merasa lebih segar keesokan harinya, tetapi juga berperan dalam umur panjang. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal SLEEP Advances dan menambah bukti bahwa tidur adalah fondasi kesehatan jangka panjang.
Tidur "mengalahkan" banyak faktor gaya hidup lain
Untuk memahami kaitan antara tidur dan umur panjang, tim peneliti menganalisis basis data nasional berskala besar di Amerika Serikat (AS). Mereka membandingkan rata-rata harapan hidup di tingkat wilayah dengan data survei kesehatan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sepanjang tahun 2019 hingga 2025.
Berbagai faktor gaya hidup dianalisis, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, isolasi sosial, hingga kebiasaan tidur. Hasilnya cukup mencolok. Kurang tidur menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan penurunan harapan hidup dibanding diet, olahraga, bahkan faktor sosial. Satu-satunya kebiasaan yang dampaknya lebih besar dari tidur hanyalah merokok.
Andrew McHill, Ph.D., penulis senior studi ini, mengakui dirinya pun terkejut. “Kami tahu tidur itu penting, tapi saya tidak menyangka korelasinya dengan harapan hidup akan sekuat ini,” ujarnya. Menurutnya, pesan dari penelitian ini cukup jelas, bahwa tidur 7 hingga sembilan jam seharusnya menjadi target kesehatan yang serius.
Temuan pola yang konsisten di banyak wilayah

Hal lain yang membuat temuan ini menonjol adalah konsistensinya. Hubungan antara tidur dan harapan hidup terlihat hampir di semua negara bagian AS dan muncul berulang dari tahun ke tahun. Ini menjadikan penelitian OHSU sebagai studi pertama yang menunjukkan korelasi tahunan antara kecukupan tidur dan umur panjang di seluruh negara bagian AS.
Selama ini, penelitian memang sudah mengaitkan kurang tidur dengan peningkatan risiko kematian. Namun, data lintas waktu dan lintas wilayah seperti ini memberi gambaran yang lebih kuat, bahwa dampak tidur sifatnya tidak kebetulan atau terbatas pada kelompok tertentu.
Dalam analisis ini, CDC mendefinisikan tidur cukup sebagai minimal 7 jam per malam, durasi yang juga direkomendasikan oleh banyak ahli.
Kenapa kurang tidur bisa memperpendek usia?
Penelitian ini tidak secara spesifik membedah mekanisme biologisnya. Namun, para peneliti menekankan bahwa tidur memengaruhi hampir semua sistem penting dalam tubuh.
Tidur berperan besar dalam menjaga kesehatan jantung, mengatur sistem imun, dan memulihkan fungsi otak. Kurang tidur kronis diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan metabolik, hingga penurunan fungsi kognitif. Semua itu adalah faktor yang dapat berkontribusi pada usia yang lebih pendek.
Dengan kata lain, ketika tidur terus-menerus dikorbankan, tubuh kehilangan waktu krusial untuk memperbaiki diri.
Banyak orang menganggap tidur sebagai sesuatu yang fleksibel yang bisa dipotong, ditunda, atau "dibayar" saat akhir pekan. Studi ini menantang cara pandang tersebut. Tidur layak mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan apa yang kamu makan dan seberapa sering kamu bergerak.
Menurut para peneliti, tidur seharusnya tidak cuma membuat kamu merasa lebih baik, tetapi juga berpotensi memengaruhi berapa lama kamu. Di tengah budaya serba sibuk dan selalu terhubung, pesan ini terasa relevan. Menjaga jam tidur bukan bentuk kemalasan, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas dan usia panjang.
Referensi


















