ilustrasi minum obat (freepik.com/prostooleh)
Beberapa obat bisa kehilangan efektivitasnya jika dikonsumsi bersamaan dengan susu atau produk tinggi kalsium. Untuk itu, penting mengetahui jenis obat yang sebaiknya dipisahkan dari susu agar tetap bekerja maksimal. Berikut beberapa contohnya:
Jika mengonsumsi obat tiroid, seperti levothyroxine, sebaiknya minum dalam kondisi perut kosong. Susu atau suplemen kalsium bisa menurunkan penyerapan obat. Untuk itu, tunggulah sekitar 4 jam jika ingin minum susu setelah konsumsi obat itu.
Beberapa antibiotik, terutama golongan tetrasiklin dan fluoroquinolon, bisa kehilangan efektivitasnya jika dikonsumsi bersamaan dengan produk susu. Jadi, pastikan memberi jeda setidaknya 2—3 jam antara antibiotik dan susu agar obat bekerja maksimal.
Zat besi paling baik diserap saat perut kosong. Jika diminum bersamaan dengan susu atau makanan tinggi kalsium, penyerapan bisa berkurang. Ada baiknya beri jarak sekitar 2 jam antara suplemen zat besi dan produk susu.
Obat seperti Actonel, Boniva, dan Fosamax bisa memperkuat tulang, tetapi susu atau makanan tinggi kalsium justru mengurangi penyerapannya. Oleh karena itu, sebaiknya tunggu beberapa jam sebelum mengonsumsi susu agar obat bekerja optimal. (Referensi: WebMD — Calcium and Drug Interactions)
Lithium yang digunakan untuk mengatur mood pada bipolar dapat berinteraksi dengan kadar kalsium dalam tubuh. Jika ingin tetap minum susu, baiknya konsultasikan dengan dokter mengenai waktu yang tepat agar tidak mengganggu kerja obat.
Untuk obat HIV, konsumsi kalsium bersamaan dapat menurunkan penyerapan obat, terutama pada golongan integrase inhibitor. Jadi, disarankan minum obat 2 jam sebelum atau 6 jam setelah mengonsumsi produk susu.