Onn Min Kon et al., “BTS Clinical Statement for the Diagnosis and Management of Ocular Tuberculosis,” BMJ Open Respiratory Research 9, no. 1 (2022): e001225, https://doi.org/10.1136/bmjresp-2022-001225.
Vinaya Kumar Konana and Kalpana Babu, “Current Concepts in the Diagnosis of Ocular Tuberculosis: A Narrative Review,” Taiwan Journal of Ophthalmology 15, no. 2 (2025): 203–11, https://doi.org/10.4103/tjo.TJO-D-24-00115.
Rohan Chawla, Urvashi B. Singh, Devesh Kumawat, and Pradeep Venkatesh, “Presumed Ocular Tuberculosis—Need for Caution before Considering Anti-Tubercular Therapy,” Eye 37 (2023): 3716–17, https://doi.org/10.1038/s41433-023-02628-3.
Mungkinkah TBC Menyerang Mata?

TBC dapat menyerang bagian dalam mata. Bentuk yang paling sering dibahas adalah peradangan pada uvea, lapisan tengah mata.
Pandangan kabur, silau, bintik melayang, mata merah, atau tidak nyaman bisa muncul, tetapi gejala tersebut juga disebabkan banyak kondisi lain.
Tes kulit atau tes darah TBC saja tidak membuktikan bahwa keluhan mata disebabkan TBC. Diagnosis perlu mempertimbangkan pemeriksaan mata dan evaluasi TBC secara menyeluruh.
Tuberkulosis (TBC) dikenal sebagai salah satu penyakit infeksi yang paling sering menyerang paru-paru. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa bakteri penyebab TBC juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk mata.
Saat menyerang mata, TBC dapat menimbulkan peradangan dan gangguan penglihatan yang tingkat keparahannya bervariasi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas penglihatan penderitanya.
Karena itu, penting untuk memahami hubungan antara TBC dan kesehatan mata, termasuk gejala yang perlu diwaspadai.
Table of Content
1. TBC dapat menyebabkan peradangan di dalam mata
TBC mata termasuk TBC di luar paru. Kondisi ini paling sering melibatkan uvea, yaitu lapisan tengah mata yang memiliki banyak pembuluh darah. Peradangannya disebut uveitis.
Keterlibatan mata dapat terjadi ketika bakteri menyebar ke jaringan mata. Pada sebagian kasus, peradangan juga diduga muncul sebagai reaksi sistem kekebalan terhadap TBC di bagian tubuh lain. Karena itu, seseorang tidak selalu memiliki gejala TBC paru yang jelas saat mengalami keluhan mata.
2. Gejalanya bisa berupa pandangan kabur hingga mata merah
Keluhan TBC mata bergantung pada bagian mata yang mengalami peradangan.
Gejalanya dapat berupa penglihatan menurun atau kabur, sensitif terhadap cahaya, muncul bintik-bintik melayang, mata terasa tidak nyaman, atau mata tampak merah. Ada pula pasien yang tidak merasakan gejala pada tahap tertentu.
Namun, keluhan tersebut tidak otomatis berarti TBC. Uveitis juga dapat disebabkan infeksi lain, penyakit peradangan, gangguan autoimun, atau tidak diketahui penyebabnya. Pemeriksaan mata dibutuhkan untuk menentukan penyebabnya.
3. Satu hasil tes TBC belum cukup untuk memastikan penyebabnya

ilustrasi periksa ke dokter mata (magnific.com/magnific) Dokter mata dapat memeriksa bagian dalam mata dan menilai pola peradangannya. Dokter juga dapat menanyakan riwayat kontak dengan pasien TBC, gejala lain, serta mempertimbangkan pemeriksaan seperti tes kulit atau darah, foto rontgen dada, dan pemeriksaan untuk mencari TBC di bagian tubuh lain.
Pada kondisi tertentu, sampel cairan atau jaringan mata dapat diperiksa untuk mencari bukti kuman. Namun, pengambilan sampel mata tidak selalu mudah dan pemeriksaan langsung tidak selalu berhasil mendeteksi bakteri. Karena itu, diagnosis dapat memerlukan gabungan temuan pemeriksaan mata, riwayat kesehatan, hasil tes, dan penilaian dokter.
Tes kulit dan tes darah TBC juga perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Hasil positif dapat menunjukkan seseorang pernah terinfeksi TBC, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa peradangan di mata disebabkan oleh TBC aktif. Sejumlah penyakit lain dapat memiliki tampilan uveitis yang serupa.
4. Pengobatan perlu ditentukan bersama dokter
Jika dokter menilai TBC sebagai penyebab yang mungkin atau telah memastikan diagnosisnya, pengobatan dapat mencakup obat anti-TBC.
Obat untuk mengendalikan peradangan mata, termasuk kortikosteroid pada kasus tertentu, bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan. Jenis dan lamanya pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter mata dan dokter yang menangani TBC.
Jangan menggunakan obat tetes steroid atau memulai obat TBC sendiri. Penanganan yang tidak sesuai dapat mengaburkan penyebab keluhan dan menunda terapi yang dibutuhkan.
Apabila penglihatan menurun, mata terasa nyeri atau merah, atau keluhan cepat memburuk, segera temui dokter mata. TBC mata dapat mengancam penglihatan, sehingga pemeriksaan dan penanganan yang tepat penting untuk menjaga fungsi mata.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[QUIZ] Cek Level Kesabaranmu Saat Menghadapi Cuaca Panas yang Terik](https://image.idntimes.com/post/20260819/20260628-_berlin_heatwave_125049_5a12bb18-f8be-445d-be39-3b08281546d8.jpg)


.jpg)




![[QUIZ] Dari Kondisi Tubuhmu, Kami Tebak Jus Buah yang Cocok Untuk Kamu Minum](https://image.idntimes.com/post/20250405/195163-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-010ad31dcb63c5897c7dacf191f92244.jpg)







