Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lebih dari 1 Juta Kasus TBC di Indonesia, 126 Ribu Kematian

Lebih dari 1 Juta Kasus TBC di Indonesia, 126 Ribu Kematian
Warga prasejahtera mengikuti skrining penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang, Kamis (22/5/2025). Program jemput bola tersebut merupakan bagian dari percepatan eliminasi TBC 2030 yang tidak hanya bertujuan mendeteksi penyakit, tetapi juga menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan sebagai fondasi hidup layak sehingga bisa meningkatkan produktivitas warga. (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya Sih

  • Indonesia diperkirakan memiliki 1,08 juta kasus TB dan sekitar 126 ribu kematian, menjadikannya penyumbang 10,1 persen beban TB global serta peringkat kedua setelah India.

  • Pada 2025, pelaporan kasus mencapai sekitar 80 persen estimasi, tetapi hingga 27 Juli 2026 baru 41 persen; pengobatan pasien ternotifikasi juga masih 89 persen dari target 95 persen.

  • Sebanyak 18 provinsi menjadi prioritas penanggulangan TB. Cakupan terapi pencegahan bagi kontak serumah baru 10,6 persen, sementara program Desa dan Kelurahan Siaga TB digalakkan sejak 2025.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Peta global menunjukkan bahwa diperkirakan sekitar 1 miliar kematian akibat tuberkulosis (TBC atau TB) telah terjadi dalam 200 tahun terakhir. Pada 2024, diperkirakan 10,6 juta orang jatuh sakit akibat penyakit ini, dengan sekitar 1 juta kematian di seluruh dunia.

Dalam skala global, Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC. Kontribusinya terhadap beban global mencapai 10,1 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, angka tersebut meningkat sekitar 1,3 kali lipat pada 2024. Data saat ini menunjukkan ada lebih dari 1 juta kasus Tanah Air dengan ratusan ribu kematian.

Data kasus TBC yang tercatat

Staf Tim Kerja Tuberkulosis (TBC) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Rita Aryati, mengatakan bahwa di kategori penyakit menular, Indonesia masih berada di peringkat teratas secara global, berkisar antara peringkat pertama hingga ketiga.

"Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1.080.000 kasus TBC di Indonesia, dengan sekitar 126 ribu kematian akibat penyakit tersebut," ujarnya dalam acara 'Riset Kolaboratif KONEKSI Perkuat Skrining Tuberkulosis Berbasis AI' di Jakarta, pada Senin (03/08/2026).

Data kasus dari penyakit tersebut dan yang diobati dari 2020 hingga 2026 menunjukkan adanya peningkatan penemuan kasus setelah pandemi COVID-19. Pada 2025, Indonesia berhasil menemukan dan melaporkan sekitar 80 persen dari estimasi kasus, capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, hingga 27 Juli 2026, capaian notifikasi kasus hanya mencapai 41 persen. Padahal, target pada akhir Juni seharusnya sudah mencapai 45 persen. Artinya masih ada kesenjangan sekitar 4 persen yang kemungkinan disebabkan oleh kasus yang belum ditemukan atau belum dilaporkan.

18 provinsi prioritas

Ilustrasi mikroskopis bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab tuberkulosis, bersumber dari CDC.
Mycobacterium tuberculosis. (unsplash.com/CDC)

Rita menyebut kesenjangan juga terlihat pada pengobatan pasien TBC. Target nasional adalah 95 persen dari kasus yang telah ternotifikasi mendapatkan pengobatan, tetapi hingga akhir Juli baru mencapai 89 persen.

"Hal ini menunjukkan masih ada pasien yang sudah ditemukan dan dilaporkan, tetapi belum memulai pengobatan, sehingga berpotensi menghambat upaya memutus rantai penularan," lanjutnya.

Saat ini Indonesia memiliki 18 provinsi prioritas dalam penanggulangan TBC karena memiliki estimasi dan jumlah penemuan kasus tertinggi—masing-masing lebih dari 10 ribu kasus per tahun. Provinsi tersebut meliputi:

  • Aceh.
  • Sumatra Utara.
  • Sumatra Barat.
  • Sumatra Selatan.
  • Riau.
  • Lampung.
  • Banten.
  • DKI Jakarta.
  • Jawa Barat.
  • Jawa Tengah.
  • DI Yogyakarta.
  • Jawa Timur.
  • Kalimantan Barat.
  • Kalimantan Selatan.
  • Kalimantan Timur.
  • Nusa Tenggara Barat.
  • Nusa Tenggara Timur.
  • Sulawesi Selatan.

Pulau Jawa menjadi wilayah dengan beban TBC yang sangat tinggi. Hampir seluruh provinsi masuk dalam daftar prioritas, sebagaimana juga terjadi pada sebagian besar penyakit menular, kecuali malaria.

Indikator pengobatan TBC belum tercapai

Pada indikator pengobatan, hingga akhir Juli ini belum ada provinsi yang mencapai target 95 persen untuk TBC sensitif obat. Sementara itu, untuk TBC resistan obat, baru Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau yang berhasil memenuhi target.

Dari sisi keberhasilan pengobatan, belum ada satu pun dari 38 provinsi yang mencapai target pada kelompok TBC sensitif obat.

Sebaliknya, pada TBC resistan obat, ada 10 provinsi yang mencapai target keberhasilan pengobatan sebesar 85 persen dan sebagian besar berasal dari 18 provinsi prioritas. Meski demikian, masih ada beberapa provinsi dengan capaian yang sangat rendah, seperti Maluku Utara dan Papua Pegunungan.

Cakupan TPT yang masih rendah

Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Indikator lain yang dinilai penting adalah pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah pasien TBC. Target nasional untuk cakupan TPT adalah 80 persen, tetapi dalam beberapa tahun terakhir peningkatannya hanya sekitar 5–10 persen. Hingga 26 Juli 2026, cakupan TPT baru mencapai 10,6 persen.

”Rendahnya cakupan TPT diduga dipengaruhi oleh masih kuatnya stigma terhadap TBC di masyarakat. Selain itu, masih banyak pertanyaan dari tenaga kesehatan maupun kelompok berisiko mengenai alasan pemberian TPT kepada orang yang belum menunjukkan gejala atau belum sakit," Rita mengatakan.

Sejak 2025, Indonesia juga menggalakkan program Desa dan Kelurahan Siaga TBC. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai TBC, mempercepat penemuan kasus serta mengurangi stigma terhadap penyakit tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More