Comscore Tracker

Disfungsi Seksual: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Perawatan

Waspada ketidaktertarikan yang nyata dalam aktivitas seksual

Disfungsi seksual adalah kondisi saat kamu mengalami kesulitan saat berhubungan atau menikmati seks, dan ini dirasa sangat mengganggu. Disfungsi seksual juga disebut sebagai gangguan seksual.

Seks bisa menjadi bagian penting dari kesehatan dan kualitas hidup, jadi menangani disfungsi seksual bisa terasa sulit secara fisik maupun emosional. Disfungsi seksual merupakan kondisi umum dan sebagian besar dapat diobati.

1. Gejala

Disfungsi seksual bisa dialami perempuan maupun laki-laki. Namun, tantangannya dalam keintiman bisa berbeda-beda.

Gejalanya pada laki-laki:

  • Kurangnya minat yang tidak dapat dijelaskan dalam hubungan seksual.
  • Kesulitan terus-menerus dalam menghasilkan atau mempertahankan ereksi yang memadai untuk seks.
  • Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme, atau penundaan klimaks yang berkepanjangan.
  • Kesulitan konstan dengan mengatur momen ketika ejakulasi terjadi.

Gejalanya pada perempuan:

  • Ketidaktertarikan yang nyata dalam aktivitas seksual.
  • Kesulitan untuk terangsang.
  • Mengalami rasa sakit saat berhubungan intim.
  • Pelumasan yang tidak memadai saat berhubungan seks.
  • Kesulitan mengendurkan otot-otot vagina untuk memungkinkan penetrasi.

Karena sifat tantangan ini, orang-orang yang mengalami disfungsi seksual sering merahasiakan kondisinya ini dari orang lain.

Menurut studi berjudul "Prevalence and risk factors of sexual dysfunction in men and women" dalam jurnal Current Psychiatry Reports tahun 2000, diyakini bahwa sekitar 43 persen perempuan dan 41 persen laki-laki mengalami tantangan selama keintiman.

2. Jenis

Disfungsi Seksual: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Perawatanilustrasi disfungsi seksual (pexels.com/Alex Green)

Dilansir Verywell Health, disfungsi seksual biasanya diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Gangguan hasrat seksual

Walaupun normal untuk memiliki periode saat seks tidak dianggap begitu penting selama kegiatan mingguan atau bahkan bulanan, tetapi kurangnya minat ini dapat digolongkan sebagai gangguan ketika berlangsung dalam jangka waktu lama dan menyebabkan kekhawatiran.

Gangguan hasrat seksual mengacu pada berkurangnya atau tidak adanya minat dalam aktivitas seksual. Dalam kasus ini, seseorang biasanya memiliki sedikit atau tidak ada fantasi atau pikiran seksual. Kurangnya minat ini juga dapat menyebabkan kurangnya respons selama situasi intim.

Gangguan hasrat seksual meliputi:

  • Gangguan hasrat seksual hipoaktif: Kondisi ini ditandai dengan kurangnya minat terus-menerus dalam aktivitas seksual. Ini adalah tidak adanya atau pengurangan dalam pikiran dan fantasi seksual. Menurut studi dalam jurnal Obstetrics & Gynecology tahun 2018, sementara laki-laki mungkin mengalami gangguan ini, tetapi gangguan ini sangat umum diamati pada perempuan dengan sekitar 40 persen dari perempuan yang melaporkan rendah minat seks. Gangguan ini menyebabkan penderitaan yang cukup besar dan kesulitan dengan pasangan seksual.
  • Gangguan aversi seksual: Ada beberapa kasus ketika pemikiran untuk terlibat dalam aktivitas seksual saja dapat menyebabkan rasa jijik. Gangguan ini adalah penghindaran yang terus-menerus, dan terkadang ekstrem dari semua atau sebagian besar bentuk kontak genital dengan pasangan. Sifat penghindaran yang terkait gangguan aversi seksual dapat menyebabkan penderitaan bagi pasangan pengidapnya dan dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan.

2. Gangguan rangsangan seksual

Beberapa jenis gangguan ini antara lain:

  • Disfungsi ereksi: Kondisi ini dapat dianggap sebagai gangguan rangsang ketika laki-laki kesulitan dalam membentuk dan mempertahankan ereksi yang memadai untuk aktivitas seksual. Namun, tanda pertama kesulitan dalam mencapai atau mempertahankan ereksi tidak secara otomatis membuat seorang laki-laki mengalami disfungsi ereksi. Akan tetapi, jika kesulitan terus berlangsung selama lebih dari tiga bulan tanpa penyebab eksternal seperti pembedahan atau trauma fisik, gejala ini mungkin merupakan indikasi gangguan rangsangan.
  • Kurangnya pelumasan vagina: Kekeringan vagina adalah suatu kondisi yang dapat memengaruhi perempuan dari berbagai usia. Tidak adanya pelumasan yang tepat meskipun terangsang secara seksual dapat menyebabkan rasa sakit dan kesulitan saat berhubungan intim.
  • Gangguan rangsangan genital persisten: Sementara gairah terus-menerus bisa menjadi hal baik, tetapi orang yang hidup dengan gangguan rangsangan genital persisten mengalami rangsangan yang tidak diinginkan di tempat kerja, di sekolah, tempat umum lainnya, atau bahkan saat di rumah sendirian tanpa peringatan atau pemicu. Perasaan spontan dan mengganggu ini mungkin atau tidak menghasilkan orgasme, dan bisa sangat menyusahkan bagi pasangannya atau yang tinggal bersama.

3. Gangguan orgasme

Jenis disfungsi seksual lainnya dapat berhubungan dengan orgasme, seperti:

  • Ejakulasi dini: Gangguan ini muncul ketika ejakulasi terjadi lebih cepat daripada yang diinginkan. Ini dapat muncul sebelum atau selama penetrasi. Laki-laki yang mengalami ejakulasi dini biasanya tidak memiliki kontrol terhadap atas pengaturan waktu ejakulasi.
  • Ejakulasi yang tertunda: Kondisi ini sering kali terasa menyulitkan, tidak hanya bagi yang mengalaminya, tetapi juga pasangannya. Ejakulasi yang tertunda mengacu pada waktu tunggu yang sangat lama untuk mencapai orgasme selama hubungan seksual.
  • Disfungsi orgasme: Ini mengacu pada gangguan pada pengalaman orgasme. Mungkin tidak adanya orgasme setelah aktivitas seksual, berkurangnya intensitas orgasme meskipun ada rangsangan yang memadai, atau penundaan yang nyata dalam mencapai orgasme.
  • Anejakulasi: Tidak adanya ejakulasi selama orgasme.

4. Rasa sakit saat berhubungan seks

Disfungsi seksual juga dapat dikaitkan dengan nyeri selama aktivitas seksual. Ini dapat mencakup:

  • Dispareunia: Perempuan yang hidup dengan dispareunia mengalami rasa sakit terus-menerus saat berhubungan seks atau ketika upaya dilakukan untuk memulai hubungan penis-vagina.
  • Vaginismus: Dalam kasus vaginismus, semua bentuk penetrasi vagina baik penis, jari, atau objek seksual lainnya menyulitkan. Ini terjadi meskipun ada keinginan berhubungan seks.

Baca Juga: Waktu Terbaik Berhubungan Seks Berdasarkan Kronotipe Tidur

3. Penyebab

Disfungsi seksual bukanlah kondisi yang terjadi dalam semalam. Misalnya, nyeri selama berhubungan seks atau tantangan dalam ejakulasi atau orgasme cenderung berakar pada kondisi lain yang memengaruhi tubuh. Inilah beberapa kemungkinan penyebab disfungsi seksual.

1. Kondisi kesehatan 

Adanya penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau masalah yang memengaruhi pembuluh darah dapat memengaruhi fungsi seksual. Ini terlihat dalam kondisi seperti disfungsi ereksi dan gangguan rangsangan perempuan.

Hipertiroidisme atau produksi prolaktin yang berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat menyebabkan ejakulasi tertunda. Begitu pula dengan kondisi medis kronis seperti gagal ginjal atau gagal hati, yang mana ini dapat memengaruhi performa selama aktivitas seksual.

2. Ketidakseimbangan hormon

Hormon berperan penting dalam kesehatan dan kebugaran seksual. Inilah sebabnya mengapa perubahan dalam produksi hormon dapat memengaruhi kinerja dan kepuasan selama aktivitas seksual.

Testosteron rendah telah dikaitkan dengan libido rendah pada laki-laki, demikian juga efeknya pada perempuan yang memiliki kadar estrogen rendah. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa perempuan menopause dengan kadar hormon yang berfluktuasi cenderung mengalami kekeringan vagina dan penurunan minat berhubungan seks, menurut laporan dalam jurnal Hormones and Behavior tahun 2016.

3. Kondisi ginekolog

Perempuan dengan kondisi seperti endometriosis, kista, dan fibroid mungkin juga menganggap seks sebagai aktivitas yang menyakitkan.

4. Alkohol dan penggunaan narkoba

Keduanya memiliki banyak kerugian termasuk dampak negatif pada kinerja seksual. Penurunan hasrat, kesenangan, gairah, orgasme, dan kesulitan ejakulasi adalah beberapa tantangan seksual yang dialami setelah penggunaan narkoba atau alkohol.

5. Faktor psikologi

Dalam beberapa kasus, stres kerja, tugas sekolah, kecemasan tentang kewajiban yang akan datang, atau bahkan kinerja saat berhubungan seks dapat menyebabkan kesulitan selama momen intim. 

Depresi, kekhawatiran tentang citra tubuh, dan rasa bersalah atas hubungan seksual juga dapat berkontribusi terhadap disfungsi seksual.

6. Obat-obatan tertentu

Beberapa obat resep dokter dan bahkan obat yang dijual bebas dapat berdampak pada fungsi seksual. Beberapa obat dapat memengaruhi libido dan beberapa obat lainnya dapat memengaruhi kemampuan untuk menjadi bergairah atau meraih orgasme. Risiko efek samping seksual meningkat saat seseorang menggunakan beberapa obat-obatan.

4. Diagnosis

Disfungsi Seksual: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Perawatanilustrasi pasangan dengan masalah disfungsi seksual menemui profesional kesehatan (pexels.com/cottonbro)

Apabila masalah seksual terus berlangsung, kedua pasangan bisa mengalami kecemasan. Kecemasan dapat meningkat jika kamu dan pasangan tidak mendiskusikannya.

Apabila situasi tidak membaik atau curiga disfungsi seksual didasari oleh kondisi medis, maka inilah waktunya untuk menemui dokter.

Nantinya, dokter akan menanyakan riwayat medis, gejala apa saja yang dialami, dan obat-obatan apa saja yang sedang dikonsumsi. Dokter dapat memesan tes diagnostik untuk mengesampingkan masalah medis yang berkontribusi pada disfungsi seksual. Biasanya pengujian laboratorium memainkan peran yang sangat terbatas dalam diagnosis disfungsi seksual.

Evaluasi sikap tentang seks, serta faktor lain yang mungkin berkontribusi—ketakutan, kecemasan, trauma atau penyalahgunaan seksual masa lalu, masalah hubungan, obat-obatan, alkohol atau penyalahgunaan obat, dan lain-lain—membantu dokter memahami penyebab yang mendasari dan merekomendasikan pengobatan yang tepat.

5. Perawatan

Dalam kebanyakan kasus, disfungsi seksual dapat diatasi dengan mengobati masalah fisik atau psikologis yang mendasarinya. Dilansir Cleveland Clinic, jenis-jenis perawatannya dapat melibatkan:

1. Obat-obatan

Ketika obat adalah penyebab disfungsi seksual, perubahan obat dapat membantu.

Laki-laki dan perempuan yang kekurangan hormon bisa mendapat manfaat dari suntikan hormon, pil, atau krim. Untuk laki-laki, obat-obatan, termasuk sildenafil, tadalafil, vardenafil, dan avanafil dapat membantu meningkatkan fungsi seksual dengan meningkatkan aliran darah ke penis.

Untuk perempuan, pilihan hormonal seperti estrogen dan testosteron dapat digunakan (walaupun obat ini tidak disetujui untuk tujuan ini). Pada perempuan pramenopause, ada dua obat yang disetujui untuk mengobati hasrat rendah, termasuk flibanserin dan bremelanotide.

2. Alat bantu mekanis

Alat bantu seperti alat vakum dan implan penis dapat membantu laki-laki dengan disfungsi ereksi. Perangkat vakum juga disetujui untuk digunakan pada perempuan, tetapi harganya bisa mahal.

Dilator dapat membantu perempuan yang mengalami penyempitan vagina. Perangkat seperti vibrator dapat membantu meningkatkan kenikmatan seksual dan klimaks.

3. Terapi seks

Terapis seks dapat membantu orang yang mengalami masalah seksual yang tidak dapat ditangani oleh dokter utama mereka. Terapis juga sering menjadi konselor hubungan atau pernikahan yang baik. Untuk pasangan yang ingin mulai menikmati hubungan seksual, waktu dan upaya untuk bekerja bersama profesional terlatih akan sepadan.

4. Perawatan perilaku

Ini melibatkan berbagai teknik, termasuk wawasan tentang perilaku berbahaya dalam hubungan, atau teknik seperti stimulasi diri untuk pengobatan masalah dengan gairah dan/atau orgasme.

5. Psikoterapi

Terapi dengan konselor terlatih dapat membantu mengatasi trauma seksual dari masa lalu, perasaan cemas, takut, merasa bersalah, dan citra tubuh yang buruk. Semua faktor ini dapat memengaruhi fungsi seksual.

6. Edukasi dan komunikasi

Edukasi tentang seks, perilaku seks, serta respons seksual dapat membantu mengatasi kecemasan tentang fungsi seksual. Dialog terbuka dengan pasangan tentang kebutuhan dan kekhawatiran juga membantu mengatasi banyak hambatan untuk kehidupan seks yang sehat.

Keberhasilan pengobatan untuk disfungsi seksual tergantung pada penyebab masalah yang mendasarinya. Prospeknya bagus untuk disfungsi seksual yang terkait dengan kondisi yang dapat diatasi.

Disfungsi seksual ringan yang terkait stres, ketakutan, atau kecemasan sering kali bisa sukses diobati dengan konseling, edukasi, dan komunikasi yang lebih baik di antara pasangan. Untuk meningkatkan kesehatan seksual, kamu perlu menemukan motivasi dan berperan aktif dalam perawatan kesehatan dan bekerja sama dengan dokter dan profesional kesehatan lainnya.

Apabila kamu merasa canggung atau malu untuk berbicara dengan dokter tentang gangguan seksual, jangan khawatir karena ini adalah hal normal. Akan tetapi, ingatlah bahwa dokter maupun perawatan telah banyak menangani kondisi ini dan mereka ada di sana untuk membantu, bukan menghakimi. Cobalah untuk terbuka dan jujur dengan dokter dan perawat tentang apa yang terjadi, sehingga mereka dapat membantu sebaik mungkin.

Baca Juga: Mengenal Ruined Orgasm, Seks Tanpa Orgasme

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya