Comscore Tracker

Hipogonadisme: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan

Hipogonadisme dapat memengaruhi perkembangan organ seks

Hipogonadisme adalah suatu kondisi saat kelenjar seks tubuh (gonad) membuat sedikit atau tidak memproduksi hormon seks.

Kelenjar kelamin adalah testis pada laki-laki dan ovarium pada perempuan. Selama masa pubertas, hormon seks membantu mengontrol perkembangan payudara, testis, dan rambut kemaluan. Hormon seks juga merupakan kunci untuk menstruasi dan produksi sperma.

Tergantung kapan dimulai, hipogonadisme dapat memengaruhi perkembangan organ seks, mengganggu pubertas, atau menyebabkan infertilitas dan disfungsi seksual.

1. Jenis

Ada dua jenis hipogonadisme, yaitu:

  • Hipogonadisme primer: Ini berarti seseorang tidak memiliki cukup hormon seks dalam tubuh karena masalah pada gonad. Gonad masih menerima pesan untuk memproduksi hormon dari otak, tetapi mereka tidak dapat memproduksinya.
  • Hipogonadisme sentral (sekunder): Pada jenis ini, masalahnya terletak di otak. Hipotalamus dan kelenjar pituitari, yang mengontrol gonad, tidak bekerja dengan baik.

2. Penyebab

Hipogonadisme: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatanilustrasi hipogonadisme pada pria (pexels.com/Alex Green)

Penyebab hipogonadisme primer meliputi:

  • Gangguan autoimun tertentu.
  • Kelainan genetik dan perkembangan.
  • Infeksi.
  • Penyakit hati dan ginjal.
  • Radiasi (ke gonad).
  • Operasi.
  • Trauma.

Kelainan genetik yang paling umum yang menyebabkan hipogonadisme primer adalah sindrom Turner (pada perempuan) dan sindrom Klinefelter (pada laki-laki), seperti dilansir MedlinePlus.

Jika sudah memiliki gangguan autoimun lain, kamu mungkin berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan autoimun pada gonad. Ini dapat mencakup gangguan yang memengaruhi hati, kelenjar adrenal, kelenjar tiroid, serta diabetes tipe 1.

Pada hipogonadisme sentral, pusat-pusat di otak yang mengontrol gonad (hipotalamus dan hipofisis) tidak berfungsi dengan baik. Penyebab hipogonadisme sentral meliputi:

  • Anoreksia nervosa.
  • Pendarahan di area hipofisis.
  • Mengambil obat-obatan, seperti glukokortikoid dan opiat.
  • Menghentikan steroid anabolik.
  • Masalah genetik.
  • Infeksi.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Kelebihan zat besi (hemokromatosis).
  • Radiasi (ke hipofisis atau hipotalamus).
  • Penurunan berat badan yang cepat dan signifikan (termasuk penurunan berat badan setelah operasi bariatrik).
  • Pembedahan (operasi dasar tengkorak di dekat hipofisis).
  • Trauma.
  • Tumor.

Penyebab genetik hipogonadisme sentral adalah sindrom Kallmann. Banyak orang dengan kondisi ini juga mengalami penurunan indra penciuman.

Menopause adalah alasan paling umum untuk hipogonadisme. Ini normal pada semua perempuan dan terjadi rata-rata pada usia sekitar 50 tahun. Kadar testosteron juga menurun pada laki-laki seiring bertambahnya usia. Kisaran testosteron normal dalam darah jauh lebih rendah pada pria berusia 50 hingga 60 tahun daripada laki-laki berusia 20 hingga 30 tahun.

3. Gejala

Gejala hipogonadisme pada perempuan antara lain:

  • Berkurangnya menstruasi.
  • Hot flash.
  • Kehilangan rambut tubuh.
  • Pertumbuhan payudara yang lambat atau tidak ada.
  • Keluarnya susu dari payudara.
  • Dorongan seks yang rendah atau tidak ada.

Pada laki-laki, gejala hipogonadisme dapat meliputi:

  • Kehilangan otot.
  • Pertumbuhan payudara abnormal.
  • Kehilangan rambut tubuh.
  • Disfungsi ereksi.
  • Berkurangnya pertumbuhan penis dan testis.
  • Osteoporosis.
  • Dorongan seks yang rendah atau tidak ada.
  • Hot flash.
  • Sulit konsentrasi.
  • Infertilitas.
  • Sulit konsentrasi.

Baca Juga: Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatan

4. Diagnosis

Hipogonadisme: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatanilustrasi konsultasi dokter (freepik.com/tirachardz)

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan bahwa perkembangan seksual berada pada tingkat yang tepat untuk usia. Dokter juga mungkin memeriksa massa otot, rambut tubuh, dan organ seksual.

Kamu mungkin perlu menjalani tes untuk memeriksa:

  • Kadar estrogen (perempuan).
  • Kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
  • Kadar testosteron (laki-laki), interpretasi tes ini pada laki-laki yang lebih tua dan laki-laki dengan obesitas bisa sulit sehingga hasilnya harus didiskusikan dengan spesialis hormon (ahli endokrinologi).
  • Pengukuran fungsi pituitari.

Tes lainnya dapat meliputi:

  • Tes darah untuk anemia dan zat besi.
  • Tes genetik, termasuk karyotype untuk memeriksa struktur kromosom.
  • Kadar prolaktin.
  • Analisis jumlah sperma.
  • Tes tiroid.

Terkadang tes pemindaian diperlukan, misalnya sonogram pada ovarium. Apabila penyakit pituitari dicurigai, MRI dan CT scan otak mungkin dilakukan.

5. Pengobatan

Pengobatan hipogonadisme untuk perempuan

Pada perempuan, pengobatan akan melibatkan peningkatan jumlah hormon seks perempuan. 

Perawatan lini pertama mungkin adalah terapi estrogen jika pernah menjalani histerektomi. Estrogen tambahan ini bisa diberikan dalam bentuk patch atau pil.

Karena peningkatan kadar estrogen dapat meningkatkan risiko kanker endometrium, kamu akan diberikan kombinasi estrogen dan progesteron jika belum menjalani histerektomi. Progesteron dapat menurunkan risiko kanker endometrium jika kamu menggunakan estrogen.

Perawatan lain dapat menargetkan gejala tertentu. Jika mengalami penurunan gairah seks, kamu mungkin menerima testosteron dosis rendah. Jika mengalami menstruasi yang tidak teratur atau sulit hamil, kamu mungkin menerima suntikan hormon human choriogonadotropin atau pil yang mengandung FSH untuk memicu ovulasi.

Pengobatan hipogonadisme untuk laki-laki

Testosteron adalah hormon seks laki-laki. Terapi penggantian testosteron adalah pengobatan yang banyak digunakan untuk hipogonadisme pada laki-laki. Kamu bisa mendapatkan terapi penggantian testosteron dengan:

  • Injeksi.
  • Patch.
  • Gel.
  • Lozenge.

Suntikan hormon pelepas gonadotropin dapat memicu pubertas atau meningkatkan produksi sperma.

Perawatan hipogonadisme untuk laki-laki dan perempuan

Perawatan ini serupa jika hipogonadisme disebabkan oleh tumor pada kelenjar pituitari. Perawatan untuk mengecilkan atau mengangkat tumor mungkin termasuk radiasi, pengobatan, dan operasi.

Menambahkan dari Cleveland Clinic, hipogonadisme primer dapat menjadi kondisi kronis yang memerlukan perawatan berkelanjutan. Jika terapi penggantian hormon dihentikan, kadar hormon dapat kembali menurun dan menyebabkan gejala kembali.

Apabila kondisi yang dapat diobati, seperti tumor kelenjar pituitari, menyebabkan hipogonadisme, kadar hormon akan kembali normal setelah dokter menangani tumor tersebut.

6. Komplikasi yang dapat terjadi

Hipogonadisme: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatanilustrasi infertilitas (pexels.com/Nadezhda Moryak)

Pada perempuan, hipogonadisme dapat menyebabkan infertilitas. Menopause adalah salah satu bentuk hipogonadisme yang terjadi secara alami. Ini dapat menyebabkan hot flash, vagina kering, dan iritabilitas saat kadar estrogen turun. Risiko osteoporosis dan penyakit jantung meningkat setelah menopause.

Beberapa perempuan dengan hipogonadisme menjalani terapi estrogen, paling sering orang-orang yang mengalami menopause dini. Akan tetapi, penggunaan terapi hormon jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker payudara, pembekuan darah, dan penyakit jantung (terutama pada perempuan yang lebih tua). Perempuan harus berbicara dengan dokter tentang risiko dan manfaat terapi hormon menopause.

Pada laki-laki, hipogonadisme menyebabkan hilangnya dorongan seksual dan dapat mengakibatkan:

  • Impotensi.
  • Infertilitas.
  • Osteoporosis.
  • Kelemahan.

Laki-laki biasanya memiliki testosteron yang lebih rendah seiring bertambahnya usia. Namun, penurunan kadar hormon ini tidak sedramatis seperti pada perempuan.

Hipogonadisme atau kadar hormon seks yang rendah dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Remaja mungkin sadar diri tentang penampilan diri yang kurang berkembang. Banyak orang dewasa mengalami ketidaktertarikan pada seks seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, penurunan hasrat seksual secara tiba-tiba atau penghentian total dapat mengindikasikan hipogonadisme.

Apabila kamu mengalami gejala-gejala hipogonadisme, jangan malu untuk menemui dokter. Perawatan dapat mengembalikan kadar hormon ke rentang normal.

Baca Juga: Demensia Vaskular: Gejala, Penyebab, Perawatan

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya