ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)
Menariknya, olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang justru dikaitkan dengan manfaat yang lebih konsisten dibandingkan latihan berat. Perbaikan gejala depresi paling sering terlihat pada mereka yang menyelesaikan sekitar 13 hingga 36 sesi olahraga.
Tidak ada satu jenis olahraga yang secara mutlak paling unggul. Namun, program yang mengombinasikan beberapa bentuk aktivitas—termasuk latihan kekuatan—tampak lebih efektif dibandingkan dengan aerobik saja. Beberapa bentuk aktivitas seperti yoga, qigong, dan peregangan belum banyak dikaji dalam tinjauan ini, sehingga masih menjadi ruang penelitian selanjutnya.
Meski jumlah studi bertambah signifikan dibandingkan tinjauan sebelumnya, tetapi para peneliti mengakui bahwa kualitas bukti masih perlu diperkuat. Banyak penelitian melibatkan jumlah peserta yang kecil dan minim tindak lanjut jangka panjang, sehingga belum bisa memastikan apakah manfaat olahraga dapat bertahan lama.
“Olahraga memang membantu sebagian orang dengan depresi,” kata Profesor Clegg. “Namun, untuk mengetahui jenis apa yang paling efektif, untuk siapa, dan seberapa lama manfaatnya bertahan, kita masih membutuhkan studi yang lebih besar dan berkualitas tinggi.”
Pada akhirnya, temuan ini mengingatkan bahwa langkah kecil—seperti bergerak lebih aktif—bisa memberi dampak besar. Bukan sebagai pengganti mutlak terapi atau obat, tetapi sebagai pilihan nyata yang dapat berjalan berdampingan, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing individu.
Referensi
Mateusz K. Mateuszczyk et al., “Erythroderma, Alopecia, Anhidrosis, and Vitiligo as Complications of a Red Ink Tattoo—A Case Report,” Clinics and Practice 15, no. 12 (November 28, 2025): 224, https://doi.org/10.3390/clinpract15120224.