Penurunan jumlah trombosit di bawah normal membuat tubuh lebih rentan terhadap perdarahan. Meski tidak selalu berujung pada gejala perdarahan besar, angka trombosit yang sangat rendah meningkatkan risiko memar, mimisan, pendarahan gusi, dan dalam kasus ekstrem perdarahan internal.
Secara klinis, rendahnya trombosit sering menjadi tanda pemantauan penting untuk memutuskan rawat inap, observasi ketat, atau bahkan transfusi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keputusan yang bijak tidak semata berdasarkan angka trombosit saja, karena kondisi pembuluh darah dan respons imun juga berperan besar dalam manifestasi klinis.
Turunnya trombosit drastis saat DBD bukan hanya soal jumlah yang menurun, tetapi mencerminkan rangkaian proses biologis yang kompleks: aktivasi yang berlebihan, apoptosis, penghambatan produksi di sumsum tulang, dan konsumsi trombosit dalam respon koagulasi. Semua ini adalah bagian dari upaya tubuh untuk menghadapi virus dengue, sekaligus tantangan bagi sistem imun yang mencoba menjaga keseimbangan antara melawan infeksi dan menjaga kestabilan darah.
Referensi
Amrita Ojha et al., “Platelet Activation Determines the Severity of Thrombocytopenia in Dengue Infection,” Scientific Reports 7, no. 1 (January 31, 2017): 41697, https://doi.org/10.1038/srep41697.
E.D. Hottz et al., “Dengue Induces Platelet Activation, Mitochondrial Dysfunction and Cell Death Through Mechanisms That Involve DC-SIGN and Caspases,” Journal of Thrombosis and Haemostasis 11, no. 5 (February 25, 2013): 951–62, https://doi.org/10.1111/jth.12178.
Anna Cecíllia Quirino-Teixeira et al., “Platelets in Dengue Infection: More Than a Numbers Game,” Platelets 33, no. 2 (May 24, 2021): 176–83, https://doi.org/10.1080/09537104.2021.1921722.
Amin Islam et al., “Coagulopathy of Dengue and COVID-19: Clinical Considerations,” Tropical Medicine and Infectious Disease 7, no. 9 (August 25, 2022): 210, https://doi.org/10.3390/tropicalmed7090210.