Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ancaman Karhutla, IDAI Membagi Tips Menjaga Pernapasan Anak
ilustrasi memakaikan masker pada anak (pexels.com/August de Richelieu)
  • Kemenkes mencatat 113.336 kasus ISPA dalam situasi karhutla hingga 9 September 2026, termasuk 26.545 kasus pada balita.

  • Anak lebih rentan terhadap asap karena paru-paru dan sistem imunnya masih berkembang.

  • Orang tua perlu memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan segera mencari pertolongan jika anak sesak atau sangat mengantuk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asap kebakaran hutan mengikuti arah angin, kabut asap dapat menyebar jauh dan menurunkan kualitas udara di wilayah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kebakaran hutan dan lahan meluas di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. ASEAN juga menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam situasi karhutla hingga 9 September 2026. Sebanyak 26.545 kasus terjadi pada balita. Di Riau, 10.783 kasus ISPA tercatat selama Agustus–September 2026, dengan jumlah terbanyak pada anak usia 0–9 tahun.

Anak lebih rentan terhadap asap karhutla

Asap karhutla mengandung partikel halus, terutama PM2.5, serta gas seperti karbon monoksida. PM2.5 berukuran sama dengan atau lebih kecil dari 2,5 mikrometer sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Partikel ini berukuran sangat kecil dan dipantau sebagai salah satu indikator penting kualitas udara.

Paru-paru anak masih berkembang. Mereka juga menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa jika dibandingkan dengan berat badannya. Kondisi tersebut membuat paparan asap dapat memberi dampak lebih besar pada tubuh anak. Anak memiliki kerentanan fisiologis dan perilaku yang lebih tinggi terhadap asap karhutla.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan:

“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan.”

Menurutnya, PM2.5 dapat menembus saluran napas bagian bawah dan masuk ke aliran darah. Anak berusia di bawah 5 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling perlu dilindungi.

Anak dengan asma, alergi, bronkiektasis, penyakit jantung bawaan, atau riwayat displasia bronkopulmonal juga berisiko mengalami perburukan gejala. Asap dapat memicu batuk, mengi, sesak, iritasi mata dan tenggorokan, serta serangan asma.

Dampak asap tidak hanya ISPA

ilustrasi anak dirawat di rumah sakit (magnific.com/lifeforstock)

Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K), mengatakan bahwa dampak karhutla terhadap kesehatan pernapasan anak tidak dapat dianggap remeh.

Dalam keterangan tertulis, dr. Wahyuni menyebut PM2.5 dari asap karhutla dapat memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi lebih tinggi dibandingkan PM2.5 dari sumber lain.

Ia juga mengutip metaanalisis yang menemukan bahwa setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan instalasi gawat darurat terkait asma.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua

UKK Respirologi IDAI merekomendasikan langkah-langkah pencegahan berikut untuk melindungi anak dari dampak asap karhutla:

  • Pantau kualitas udara lokal (Air Quality Index/AQI atau Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak berada, karena asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer dari sumbernya.

  • Siapkan "ruang bersih" (clean room) di rumah/ruangan dengan sedikit jendela dan pintu, dilengkapi alat pembersih udara portabel (bukan tipe ozone-generating).

  • Selama kabut asap berlangsung, jaga anak tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup; bila menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara segar dari luar (dengan mode closed vent atau air recirculation).

  • Jaga kualitas udara dalam rumah dengan menghindari rokok, kompor gas/kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang/menggoreng daging, serta menyedot debu (vacuum)—semua ini dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan.

  • Batasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan jika udara terlihat/berbau berasap atau kualitas udara dilaporkan buruk.

  • Jika harus keluar rumah, pakai masker jika anak berusia 2 tahun atau lebih untuk mencegah menghirup partikel asap yang berbahaya, dan pakai kacamata untuk mencegah iritasi asap terhadap mata.

  • Anak dengan asma, alergi, atau kondisi kronis lain berisiko lebih tinggi, pastikan obat rutin (termasuk obat pereda cepat/rescue inhaler) selalu tersedia.

  • Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum.

Rekomendasi khusus untuk anak usia sekolah

ilustrasi belajar di sekolah (pexels.com/Ron Lach)

Mengacu pada Rekomendasi IDAI No. 011/Rek/PP IDAI/X/2015 tentang Kesehatan Anak Akibat Bencana Kabut Asap, serta Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 20 Tahun 2026, moda pembelajaran di daerah terdampak karhutla ditentukan oleh pemerintah daerah setempat berdasarkan nilai ISPU harian, yang wajib dipantau minimal dua kali sehari yaitu sebelum pembelajaran dimulai dan pada pertengahan hari, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. ISPU 1–50 (Baik): pembelajaran tatap muka berlangsung normal.

  2. ISPU 51–100 (Sedang): tatap muka tetap berjalan, namun aktivitas di luar ruangan seperti upacara, olahraga, dan ekstrakurikuler dibatasi atau dipindahkan ke dalam ruangan.

  3. ISPU 101–200 (Tidak Sehat): tatap muka dibatasi secara ketat; kelompok rentan, termasuk anak-anak, diarahkan untuk belajar dari rumah.

  4. ISPU 201–300 (Sangat Tidak Sehat): seluruh peserta didik wajib beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik secara daring, luring, maupun kombinasi keduanya.

  5. ISPU di atas 300 (Berbahaya): seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan jarak jauh secara penuh.

Kapan anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan?

Orang tua perlu segera mencari pertolongan medis jika anak mengalami sesak napas, napas berbunyi atau makin cepat, batuk yang tidak membaik, sangat mengantuk, tampak lemas, menolak makan dan minum, atau mengalami penurunan kesadaran.

Anak dengan asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter. Jika obat pereda tidak membantu atau gejala memburuk, jangan menunggu kualitas udara membaik di rumah.

“Kesehatan anak adalah prioritas utama,” tegas dr. Piprim. “Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci.”

Referensi

Stephanie M. Holm, Mark D. Miller, and John R. Balmes, “Health Effects of Wildfire Smoke in Children and Public Health Tools: A Narrative Review,” Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology 31, no. 1 (2021): 1–20, https://doi.org/10.1038/s41370-020-00267-4.

Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and Children,” diakses September 2026.

U.S. Environmental Protection Agency, “Protect Children from Wildfires, Smoke, and Volcanic Ash,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article