Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Penyakit yang Bisa Timbul karena Karhutla, Bisa Sebabkan Kematian!

5 Penyakit yang Bisa Timbul karena Karhutla, Bisa Sebabkan Kematian!
ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (unsplash.com/Dirk Erasmus)
  • Karhutla menghasilkan asap dan partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.

  • Paparan asap dapat memicu bronkitis, ISPA, serangan asma, PPOK, hingga penyakit kardiovaskular.

  • Kelompok rentan dan penderita penyakit tertentu berisiko mengalami gejala yang lebih parah akibat kabut asap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla memang cukup sering terjadi di Indonesia. Karhutla biasanya terjadi selama musim kemarau panjang sehingga membuat lahan gambut kering dan mudah terbakar. Terbaru, kebakaran hutan dan lahan besar juga terjadi di sejumlah titik di Kalimantan. Gak hanya menghanguskan hutan, kebakaran ini juga menyebabkan kabut asap yang tentu berdampak bagi masyarakat sekitar.

Bukan hanya menghalangi jarak pandang, asap yang muncul juga berbahaya bagi kesehatan. Itu karena asap hasil kebakaran hutan dan lahan terdiri dari partikel halus serta gas kimia yang berbahaya bagi tubuh. Dalam jangka waktu lama, paparan asap yang timbul bahkan menyebabkan penyakit berbahaya. Berikut penjelasannya!

  1. 1. Bronkitis

    ilustrasi orang yang terkena bronkitis
    ilustrasi orang yang terkena bronkitis (unsplash.com/Towfiqu Barbhuiya)

    Bronkitis merupakan kondisi saat lapisan saluran bronkial mengalami peradangan, yang ditandai dengan batuk secara terus-menerus dan disertai dengan dahak. Dilansir laman Cleveland Clinic, kondisi ini paling umum disebabkan oleh virus. Meski begitu, asap dan iritan lainnya juga dapat memicu terjadinya bronkitis. Jadi, ketika partikel asap seperti PM2.5 terhirup tubuh, partikel itu akan mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan.

    Merespon hal tersebut, sel goblet dan kelenjar yang berada di area tersebut akan memproduksi lendir lengket yang berfungsi untuk menangkap partikel halus. Setelah misi selesai, tubuh akan mendorong lendir keluar melalui batuk. Selain batuk, mengi, sesak napas, demam, pilek, dan kelelahan berlebih juga menjadi gejala yang sering muncul saat seseorang terkena bronkitis.

  2. 2. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

    ilustrasi orang yang mengalami gejala ISPA
    ilustrasi orang yang mengalami gejala ISPA (magnific.com/rawpixel.com)

    Gak hanya bronkitis, partikel halus yang masuk ke tubuh juga menyebabkan kondisi lain seperti infeksi saluran pernapasan akut atau yang lebih dikenal dengan istilah ISPA. Sesuai dengan namanya, ISPA pada dasarnya adalah infeksi yang dapat menyerang sistem saluran pernapasan atas, seperti tenggorokan, maupun sistem saluran pernapasan bawah, seperti bronkus dan paru-paru. Lagi-lagi virus menjadi penyebab paling umum terjadinya ISPA. Meski begitu, partikel asap yang masuk ke dalam tubuh secara gak langsung juga dapat memicu ISPA.

    Sama seperti virus, partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan juga dapat mengiritasi dan merusak pertahanan alami paru-paru. Ini menyebabkan peradangan yang berujung pada ISPA. Dilansir laman Healthline, dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang lemah jauh lebih berisiko terkena ISPA. Gejalanya sendiri meliputi hidung tersumbat atau saluran pernapasan di paru-paru mengalami penyumbatan, hidung berair, batuk, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, dan kelelahan. Pada kasus yang lebih serius, infeksi saluran pernapasan akut juga menyebabkan demam lebih dari 39 derajat celsius, kesulitan bernapas, pusing, dan kehilangan kesadaran.

  3. 3. Serangan asma

    ilustrasi penderita asma sedang menggunakan inhaler
    ilustrasi penderita asma sedang menggunakan inhaler (unsplash.com/CNordic Nordic)

    Bagi mereka yang menderita asma, asap yang muncul karena karhutla bisa memperburuk gejala yang sudah ada secara tiba-tiba. Dilansir laman Mayo Clinic, asma sendiri merupakan kondisi jangka panjang yang membuat pernapasan sulit karena saluran udara yang menyempit. Kondisi ini terjadi ketika saluran yang membawa udara ke paru-paru mengalami pembengkakan dan akhirnya menyempit. Meski begitu, asma hanya terjadi jika ada sesuatu yang mengganggu paru-paru.

    Pemicu tersebut bisa berupa asap rokok, tungau debu, polusi udara, asap hasil pembakaran, bulu hewan peliharaan, hingga hama seperti kecoa. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan asma secara permanen. Pengobatan yang ada saat ini berfokus pada pengendalian asma agar gak terlalu sering kambuh dengan konsumsi obat tertentu, penggunaan inhaler, dan menghindari apa pun yang dapat memicu gejala.

  4. 4. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

    ilustrasi paru-paru manusia
    ilustrasi paru-paru manusia (unsplash.com/Aakash Dhage)

    Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK terjadi ketika paru-paru mengalami kerusakan secara terus-menerus. Kerusakan ini membuat saluran yang membawa udara keluar masuk paru-paru mengalami pembengkakan dan iritasi. Alhasil, saluran udara dari dan keluar paru-paru jadi terbatas. Dilansir laman Mayo Clinic, PPOK disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap asap, uap, debu, atau bahan kimia yang dapat mengiritasi. Gejalanya sendiri meliputi kesulitan bernapas, batuk harian yang mengeluarkan lendir, hingga mengi. Dalam banyak kasus, penderita PPOK juga kerap mengalami dada terasa sesak, penurunan berat badan, hingga pembengkakan di pergelangan kaki atau tungkai.

  5. 5. Penyakit kardiovaskular

    ilustrasi lansia terkena serangan jantung
    ilustrasi lansia terkena serangan jantung (unsplash.com/jcomp)

    Penyakit kardiovaskular merupakan kumpulan penyakit yang mempengaruhi kesehatan jantung atau pembuluh darah, termasuk di antaranya penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan beberapa penyakit lain. Beberapa penyakit kardiovaskular biasanya disebabkan oleh penumpukan plak pada dinding arteri. Meski gak menyebabkan penyakit langsung, polutan udara dapat memperburuk penyakit kardiovaskular. Dilansir United States Environmental Protection Agency, paparan konsentrasi PM2.5 yang meningkat selama beberapa jam hingga beberapa minggu pada pasien penyakit kardiovaskular dapat menyebabkan jantung berdebar, kelelahan tak biasa, pusing, sesak napas, nyeri dada, bahkan memicu serangan jantung dan kematian.

    Paparan asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla memberikan dampak yang cukup serius. Ini bukan hanya pada mereka yang memang menderita sakit tertentu. Pada mereka yang sehat pun, paparan kabut asap dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan menyebabkan masalah kesehatan lain. Jika kamu mengalami berbagai gejala seperti batuk, mengi, atau sesak napas, jangan abaikan keluhan yang ada dan segera periksakan diri ke dokter.

    Referensi
    “Acute Respiratory Disease”. Healthline. Diakses September 2026.
    “Air Pollution and Cardiovascular Disease Basics”. U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Diakses September 2026.
    “Asthma”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
    “Asthma Attack”. Mayo Clinic. Diakses September 2026.
    “Bronchitis”. Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
    “Bronchitis”. Mayo Clinic. Diakses September 2026.
    “Cardiovascular Disease”. Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
    “Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)”. World Health Organization (WHO). Diakses September 2026.
    “COPD”. Mayo Clinic. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More