Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan hamil terkena COVID-19.
ilustrasi ibu hamil terkena COVID-19 (freepik.com/lookstudio)

Intinya sih...

  • Infeksi COVID-19 selama kehamilan dikaitkan dengan perubahan struktur otak dan risiko keterlambatan perkembangan pada anak.

  • Lebih dari 50 persen anak yang terpapar virus penyebab COVID-19 dalam kandungan masuk kelompok berisiko tinggi mengalami keterlambatan perkembangan pada usia 2 tahun.

  • Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang dan intervensi dini bagi anak yang terpapar COVID-19 sebelum lahir.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kehamilan adalah masa ketika fondasi perkembangan otak manusia dibangun dengan sangat cepat dan sensitif terhadap berbagai pengaruh. Penelitian terbaru dari Children’s National Hospital dan George Washington University menunjukkan bahwa paparan virus SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, selama kehamilan dapat meninggalkan jejak biologis yang terukur pada otak anak sejak usia sangat dini.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Brain, Behavior, and Immunity, para peneliti membandingkan 39 pasangan ibu-bayi yang terpapar COVID-19 selama kehamilan (periode 2020–2022) dengan 103 pasangan ibu-bayi dari era sebelum pandemi (2016–2019). Seluruh ibu yang terinfeksi dalam kelompok pandemi belum menerima vaksin COVID-19 saat hamil.

Ketika bayi berusia dua minggu, mereka menjalani pemeriksaan MRI volumetrik 3D kuantitatif. Hasilnya menunjukkan perbedaan struktur otak yang signifikan: bayi yang terpapar SARS-CoV-2 dalam kandungan memiliki volume korteks abu-abu dan hipokampus kiri yang lebih besar, tetapi volume materi abu-abu subkortikal dan materi putih yang lebih kecil. Pola ini mengindikasikan bahwa infeksi COVID-19 selama kehamilan berpotensi memengaruhi jalur perkembangan otak sejak awal kehidupan.

Risiko perkembangan, emosi, dan dampak jangka panjang

ilustrasi ibu menggendong anak (pexels.com/Ron Lach)

Dampak paparan SARS-CoV-2 tidak berhenti pada temuan pencitraan otak. Saat anak berusia 2 tahun, para peneliti menilai perkembangan mereka menggunakan Bayley Scales of Infant and Toddler Development edisi ketiga (BSID-III) serta Infant-Toddler Social and Emotional Assessment (ITSEA). Hasilnya cukup mencolok: 51,6 persen balita yang terpapar COVID-19 dalam kandungan masuk kategori berisiko tinggi mengalami keterlambatan perkembangan, dibanding hanya 14 persen pada kelompok sebelum pandemi.

Meski skor bahasa total tidak berbeda secara signifikan, tetapi kemampuan bahasa reseptif—yakni kemampuan memahami bahasa lisan dan tertulis—menurun secara bermakna pada anak yang terpapar virus sebelum lahir.

Dari sisi kesehatan mental, hampir 25 persen anak dalam kelompok paparan SARS-CoV-2 berisiko mengalami masalah emosi internal seperti kecemasan dan depresi dini, lebih dari dua kali lipat dibanding kelompok kontrol.

Para peneliti menekankan bahwa temuan ini tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh stres psikologis ibu, karena tingkat distres maternal relatif serupa antara kedua kelompok. Mengacu pada pengalaman epidemi virus sebelumnya—seperti H1N1 dan Zika—paparan virus pralahir memang kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan neuropsikiatri di kemudian hari. Karena itu, para penulis menilai generasi anak yang terpapar COVID-19 dalam kandungan perlu pemantauan berkelanjutan, agar anak yang berisiko dapat dikenali lebih awal dan memperoleh intervensi yang tepat.

Studi lanjutan masih berlangsung untuk melihat apakah perbedaan ini akan menetap atau berkurang seiring waktu. Namun, paparan virus selama kehamilan bukan sekadar peristiwa sementara, melainkan faktor yang berpotensi membentuk perjalanan perkembangan anak pada tahun-tahun awal kehidupannya.

Referensi

Susan Weiner et al., “The COVID Generation: The Neurodevelopmental Consequences of In-utero COVID-19 Exposure,” Brain Behavior and Immunity, January 1, 2026, 106238, https://doi.org/10.1016/j.bbi.2025.106238.

"In utero COVID exposure linked to brain changes, developmental delays, anxiety, and depression." CIDRAP. Diakses Januari 2026.

Editorial Team