Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang laki-laki tampak frustrasi.
ilustrasi seorang laki-laki tampak frustrasi (pexels.com/acan-tami-3697622)

Intinya sih...

  • Diabetes tipe 2 mulai muncul pada remaja dan dewasa muda karena obesitas dan kurang gerak, meningkatkan risiko komplikasi seperti kerusakan saraf dan gagal ginjal.

  • Hipertensi kini banyak memengaruhi individu di bawah usia 45 tahun, merusak arteri dan membuka jalan bagi stroke dan serangan jantung di usia 30-an.

  • Kanker seperti kolorektal, payudara, dan pankreas kini makin sering ditemukan pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada penyakit kronis yang dulu identik dengan lansia, tapi kini makin banyak dialami oleh orang-orang berusia 20-an, 30-an, dan awal 40-an. Pergeseran ini terkait erat dengan perubahan gaya hidup, paparan lingkungan, dan pola kerja hidup modern. Memiliki penyakit kronis pada usia muda artinya hidup lebih lama dengan disabilitas, komplikasi, dan biaya pengobatan.

Bagi pemerintah, pergeseran ini membebani sistem kesehatan karena lebih banyak sumber daya dibutuhkan untuk pengelolaan jangka panjang penyakit yang sekarang dimulai pada usia produktif. Keluarga juga mungkin mengalami tekanan finansial karena biaya pengobatan, rawat inap, dan penurunan kapasitas penghasilan.

Lantas, apa saja penyakit yang dulunya identik dengan lansia, tapi kini makin umum dialami orang yang usianya lebih muda? Ini dia pembahasannya.

1. Diabetes tipe 2

Dulunya, mayoritas pengidap diabetes tipe 2 adalah individu yang berusia di atas 40 tahun. Namun, saat ini diabetes tipe 2 mulai muncul pada remaja dan dewasa muda di seluruh dunia.Ini kemungkinan didorong oleh meningkatnya obesitas dan kebiasaan kurang gerak yang memicu resistensi insulin, yang menyebabkan gula darah tinggi dan komplikasi seperti kerusakan saraf dan gagal ginjal.

Pada usia muda, penyakit ini berkembang lebih cepat, meningkatkan risiko kehilangan penglihatan dan masalah jantung lebih dini.

2. Hipertensi

Hipertensi secara historis merupakan masalah bagi mereka yang usianya di atas 50 tahun. Namun, kini banyak memengaruhi individu di bawah usia 45 tahun.

Hipertensi secara diam-diam merusak arteri, membuka jalan bagi stroke dan serangan jantung di usia 30-an. Pasien muda sering menunjukkan hipertensi resistan yang terkait dengan pola makan yang buruk dan stres.

3. Penyakit kardiovaskular

ilustrasi serangan jantung (freepik.com/KamranAydinov)

Serangan jantung dan penyakit arteri koroner kini makin sering menyerang individu di bawah usia 35 tahun. Penyebab utamanya adalah penumpukan plak di dalam pembuluh darah, yang dipicu oleh kolesterol tinggi dan peradangan.

Yang mengkhawatirkan, angka kematian akibat masalah jantung pada kelompok usia 18–34 tahun justru meningkat, meskipun secara umum angka kematian akibat penyakit jantung pada kelompok usia yang lebih tua cenderung menurun.

4. Kanker

Kanker seperti kolorektal, payudara, dan pankreas, yang dulunya hanya terjadi pada lansia, kini makin sering ditemukan pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun. Peningkatan ini sudah terlihat sejak tahun 1990 hingga saat ini.

Ironisnya, tumor pada tubuh muda justru tumbuh lebih agresif, dengan tingkat kejadian pada generasi milenial melampaui generasi sebelumnya. Sayangnya, tingkat kelangsungan hidup pada individu muda justru lebih kecil karena terlambat terdeteksi.

5. Stroke 

Stroke, yang identik dengan lansia, kini menjadi lebih umum terjadi pada orang-orang di bawah usia 50 tahun. Penyebabnya adalah sumbatan atau perdarahan di otak akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol atau gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi. Kondisi ini menghambat aliran darah ke otak dan bisa menyebabkan kelumpuhan atau penurunan kemampuan berpikir.

Yang paling berat, proses pemulihan stroke pada usia muda sering berdampak besar pada karier dan kehidupan keluarga.

6. Demensia

ilustrasi demensia pada orang muda (pexels.com/cottonbro studio)

Demensia dan penyakit Alzheimer, yang dulunya hampir secara eksklusif dikaitkan dengan lansia di atas 65 tahun, kini mulai banyak diidentifikasi pada orang dewasa muda di bawah usia tersebut, suatu kondisi yang dikenal sebagai young-onset dementia (YOD).

Gejalanya mirip dengan demensia yang menyerang orang tua, yang meliputi kehilangan ingatan, kebingungan, dan perubahan perilaku.

Tidak seperti lonjakan penyakit metabolik yang disebabkan oleh obesitas, YOD lebih banyak berasal dari faktor genetik, trauma kepala, penyalahgunaan alkohol, atau masalah vaskular.

Mirisnya, orang yang mengalami demensia di usia muda menghadapi tantangan yang lebih berat, seperti karier yang terganggu, peran keluarga, dan depresi.

Skrining dini dan memperbaiki gaya hidup merupakan langkah pencegahan untuk kasus demensia non genetik.

Apa yang dapat dilakukan oleh kaum muda?

Meskipun faktor genetik dan lingkungan berperan, tetapi banyak faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Strategi yang bisa dilakukan meliputi:

  • Mempertahankan pola makan seimbang yang kaya akan biji-bijian utuh, sayuran, buah-buahan, dan lemak sehat sambil membatasi makanan ultraproses dan minuman manis.

  • Olahraga minimal lima kali dalam seminggu, yang terdiri atas kombinasi latihan aerobik dengan latihan kekuatan untuk mendukung kesehatan jantung dan metabolisme.

  • Menghindari rokok dan alkohol, yang keduanya secara signifikan meningkatkan risiko masalah kardiovaskular dan kanker.

  • Mengelola stres melalui kebersihan tidur, teknik relaksasi, dukungan sosial, dan pengobatan dini depresi atau kecemasan.

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan berat badan sehingga masalah dapat dideteksi dan diobati sejak dini.

Dulu, kita merasa aman karena mengira penyakit-penyakit serius hanya datang di usia senja. Namun sekarang, kenyataannya sudah berbeda. Usia yang lebih muda pun makin rentan.

Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Menjaga pola hidup sehat, peka pada sinyal tubuh, dan tidak menunda periksa ke dokter bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Karena usia muda seharusnya jadi masa membangun masa depan, bukan berjuang melawan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Referensi

Cooper and Inspira Cardiac Care. Diakses pada Januari 2026. "Heart Disease on the Rise Among Young Adults."

T1D Exchange. Diakses pada Januari 2026. "Type 2 Diabetes in Youth: A Rising Concern."

The Conversation. Diakses pada Januari 2026. "Why are So Many Millennials Getting Cancer?"

VietnamNet. Diakses pada Januari 2026. "Elderly Diseases Appearing 20 Years Earlier, Affecting Young Adults."

Editorial Team