ilustrasi sembelit (pexels.com/Sora Shimazaki)
Selain serat dan cairan, keteraturan waktu makan juga memengaruhi kinerja pencernaan. Makan pada jadwal yang tidak teratur dapat memengaruhi mikrobiota usus, metabolisme, dan fungsi lambung-usus secara keseluruhan.
Sering makan larut, telat makan, atau makan dengan interval yang tidak konsisten, dapat mengganggu keseimbangan mikroba dan fungsi barrier usus yang penting untuk proses pencernaan normal. Perubahan ritme makan ini berpotensi mengubah produksi asam empedu dan zat-zat lain yang merangsang gerakan usus, sehingga memperlambat transit feses di usus besar dan memicu sembelit.
Beberapa studi observasional juga menunjukkan bahwa pola makan yang tidak teratur dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) dan ketidakteraturan buang air besar. Praktis mereka yang tidak menjaga jam makan secara konsisten cenderung melaporkan gangguan gastrointestinal lebih sering dibanding yang makan teratur setiap hari.
Perubahan jam makan selama periode perayaan seperti Imlek dapat mengacaukan ritme alami kerja usus yang selama keseharian mengikuti pola sirkadian tubuh. Ritme ini seharusnya membantu tubuh mengetahui kapan harus memproduksi enzim pencernaan, merangsang peristaltik (kontraksi usus yang mendorong feses), serta mengatur sekresi hormon yang mendukung proses cerna dan eliminasi. Ketika jadwal makan berubah drastis, sinyal-sinyal ini bisa tersendat, sehingga transit usus melambat dan risiko sembelit meningkat.