Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perubahan Payudara Usia 40-an, Mana yang Normal dan Perlu Dicek?
ilustrasi seorang perempuan tersenyum (pexels.com/Designecologist)
  • Memasuki usia 40-an, perubahan hormon dan proses penuaan dapat membuat payudara lebih lunak, kurang kencang, nyeri, atau terasa lebih bergumpal, terutama menjelang menopause.

  • Kista dan perubahan fibrokistik cukup umum pada usia 30–50 tahun, tetapi benjolan baru tetap perlu diperiksa dan tidak boleh dianggap normal hanya karena sedang perimenopause.

  • Waspadai benjolan menetap, perubahan kulit atau bentuk payudara, puting yang tiba-tiba tertarik ke dalam, serta cairan berdarah dari puting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki usia 40-an, payudara yang selama bertahun-tahun terasa hampir sama bisa mulai berubah. Bentuknya mungkin tidak sekencang dulu. Sesekali terasa nyeri menjelang menstruasi, atau muncul bagian yang terasa lebih padat dan bergumpal.

Sebagian perubahan tersebut merupakan bagian dari penuaan dan perimenopause. Namun, usia 40-an juga menjadi periode ketika risiko kanker payudara mulai makin penting diperhatikan karena risiko penyakit ini meningkat seiring bertambahnya usia.

Lalu, perubahan mana yang masih dapat dianggap normal dan mana yang sebaiknya harus dicek ke dokter? Baca ulasannya di bawah ini, ya.

1. Payudara bisa menjadi lebih lunak dan kurang kencang

Jaringan payudara tidak tetap sama sepanjang hidup. Seiring bertambahnya usia, unit kelenjar yang sebelumnya berperan dalam produksi ASI mengalami involusi atau penyusutan, sedangkan proporsi jaringan lemak meningkat. Elastisitas jaringan juga berkurang sehingga payudara dapat menjadi lebih lunak dan mengalami penurunan bentuk.

Sebuah tinjauan ilmiah menjelaskan bahwa proses penuaan payudara melibatkan berkurangnya terminal duct lobular units, bertambahnya jaringan lemak, serta perubahan hormonal dan komposisi sel.

Karena komposisi tubuh, kehamilan, perubahan berat badan, faktor genetik, dan menopause berbeda pada setiap orang, perubahan ukuran dan bentuk payudara juga tidak seragam.

2. Nyeri dan terasa bergumpal juga bisa terjadi

Pada usia 40-an, sebagian perempuan mulai memasuki transisi menuju menopause. Kadar estrogen dan progesteron menjadi lebih berubah-ubah sehingga payudara masih dapat mengalami bengkak, nyeri, atau perubahan tekstur yang mengikuti siklus menstruasi.

Perubahan fibrokistik juga umum. Kondisi jinak ini dapat membuat payudara terasa seperti memiliki area yang menggumpal atau menyerupai tali, disertai nyeri atau sensitif, terutama menjelang menstruasi. Perubahan tersebut umum dan paling sering ditemukan pada perempuan sebelum usia 45 tahun.

Kista payudara juga lebih sering muncul pada usia 35–50 tahun. Kista biasanya berisi cairan dan dapat terasa seperti benjolan bulat atau oval yang sedikit bergerak ketika ditekan. Ukurannya dan rasa nyerinya dapat berubah mengikuti siklus menstruasi.

Namun, jangan mendiagnosis diri sendiri jika menemukan benjolan. Benjolan baru atau menetap tetap perlu diperiksa.

3. Kepadatan payudara dapat berubah

ilustrasi perempuan tersenyum (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Payudara terdiri dari jaringan kelenjar, jaringan ikat, dan lemak. Proporsi ketiganya menentukan apa yang disebut breast density kepadatan payudara pada mamografi.

Kepadatan payudara secara umum cenderung menurun seiring bertambahnya usia dan memasuki menopause karena jumlah jaringan kelenjar berkurang dan jaringan non padat atau lemak bertambah. Studi longitudinal pada perempuan usia pertengahan juga menemukan penurunan persentase kepadatan mamografi selama transisi menopause.

Akan tetapi, usia 40 tidak otomatis berarti payudara sudah tidak padat. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebut hampir separuh perempuan berusia 40 tahun ke atas yang menjalani mamografi masih memiliki payudara padat. Kondisi ini normal, tetapi kepadatan yang tinggi dapat membuat kanker lebih sulit terlihat pada mamografi dan juga berkaitan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi.

Perubahan seperti apa yang tidak boleh dianggap normal?

Kenali setiap perubahan baru yang berbeda dari kondisi biasanya.

Periksakan diri jika menemukan:

  • Benjolan baru atau penebalan yang menetap.

  • Perubahan ukuran atau bentuk salah satu payudara tanpa penjelasan.

  • Kulit payudara tampak berkerut, berlesung, menebal, atau menyerupai kulit jeruk.

  • Kemerahan atau pembengkakan yang menetap.

  • Puting yang tertarik ke dalam.

  • Cairan dari puting yang muncul spontan, terutama jika berdarah.

  • Benjolan di ketiak juga perlu dievaluasi.

Nyeri payudara sendiri jarang menjadi satu-satunya tanda kanker, tetapi nyeri yang terus-menerus selama berminggu-minggu, terjadi pada satu lokasi tertentu, atau semakin berat tetap layak diperiksa.

Hal yang sama berlaku untuk benjolan. Sebagian besar benjolan payudara ternyata jinak, tetapi tekstur atau rasa sebuah benjolan saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya.

Usia 40-an menjadi waktu penting untuk skrining

Selain mengenali perubahan tubuh sendiri, usia 40-an menjadi titik penting untuk membicarakan skrining kanker payudara.

Rekomendasi umumnya adalah mamografi setiap dua tahun untuk perempuan usia 40–74 tahun dengan risiko rata-rata.

Skrining rutin ditujukan untuk orang yang tidak memiliki keluhan. Jika sudah menemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, jangan menunggu jadwal mamografi berikutnya untuk berkonsultasi dengan dokter.

Payudara memang berubah seiring usia. Menjadi lebih lunak, kurang kencang, sesekali nyeri, atau mengalami perubahan fibrokistik dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Yang tidak sebaiknya dinormalisasi adalah perubahan baru yang menetap atau terlihat jelas berbeda dari kondisi payudara biasanya.

Referensi

Junqiang Lin et al., “Changes in the Mammary Gland during Aging and Its Links with Breast Diseases,” Acta Biochimica et Biophysica Sinica 55, no. 6 (2023): 1001–1019, doi:10.3724/abbs.2023073.

Janet R. Guthrie et al., “Mammographic Densities during the Menopausal Transition: A Longitudinal Study of Australian-Born Women,” Menopause 14, no. 2 (2007): 208–215, doi:10.1097/01.gme.0000232278.82218.1f.

National Cancer Institute, “Benign and Precancerous Breast Lumps and Conditions,” diakses Agustus 2026.

American College of Obstetricians and Gynecologists, “Dense Breasts,” diakses Agustus 2026.

U.S. Preventive Services Task Force, “Breast Cancer: Screening,” diakses Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Kanker Payudara,” diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article