Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengecek denyut nadi.
ilustrasi mengecek denyut nadi (pixabay.com/kian2018)

Intinya sih...

  • Satu dari tiga orang berisiko mengalami gangguan irama jantung sepanjang hidupnya, yang sering terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi berat.

  • Pulse Day 2026 menekankan pentingnya deteksi dini aritmia melalui langkah sederhana, yakni memeriksa denyut nadi secara mandiri.

  • Gerakan "menari" untuk mengedukasi masyarakat dalam mengenali apakah denyut nadi terasa teratur atau tidak, sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai berbagai jenis aritmia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Satu dari tiga orang berisiko mengalami gangguan irama jantung sepanjang hidupnya. Namun, banyak kasus yang baru terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi berat seperti stroke dan gagal jantung.

Kondisi ini menjadi latar belakang dari kampanye kesadaran kesehatan global yang diperingati setiap 1 Maret, mengajak masyarakat lebih peduli terhadap irama jantungnya sendiri. Hal ini menjadi pembahasan dalam press conference "Pulse Day 2026: Dari Kesadaran hingga Aksi Nyata untuk Jantung Sehat" di Jakarta, pada Jumat (13/02/2026).

Aritmia kerap luput dari perhatian

Pulse Day menekankan pentingnya deteksi dini aritmia melalui langkah sederhana, yakni memeriksa denyut nadi secara mandiri. Upaya ini relevan secara global, termasuk di Indonesia, mengingat aritmia sering kali tidak menimbulkan gejala awal sehingga luput dari perhatian hingga terjadi kondisi yang mengancam jiwa. 

Melalui kampanye ini, masyarakat diingatkan bahwa pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah awal pencegahan yang sangat berarti.

"Deteksi dini sebenarnya dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan 'menari' (meraba nadi sendiri) secara rutin," kata Head of Pulse Day Task Force sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee (APHRS), Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), Subsp. K.I. (K), FIHA, FAsCC.

Gerakan "menari" untuk mengedukasi masyarakat

ilustrasi jantung (pexels.com/Ds stories)

Menurut Dr. Dicky, pesan utama Pulse Day 2026 adalah pentingnya mengenali irama jantung sendiri melalui gerakan "menari", yang mengedukasi masyarakat untuk mengenali apakah denyut nadi terasa teratur atau tidak, sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai berbagai jenis aritmia, khususnya fibrilasi atrium yang dikenal sebagai salah satu penyebab stroke yang sebenarnya dapat dicegah. 

Dengan pemeriksaan nadi secara rutin, kelainan irama jantung dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan medis dapat diberikan tepat waktu, bahkan sebelum komplikasi terjadi.

Latar belakang kampanye

Urgensi deteksi dini gangguan irama jantung juga ditegaskan oleh Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS. Menurutnya, fibrilasi atrium merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia.

"Dampaknya sangat serius karena meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. Namun, sekitar 50 persen kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung," imbuhnya.

Kondisi tersebut melatarbelakangi kampanye "menari" sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi. 

Berdasarkan sejumlah penelitian, metode ini terbukti mampu meningkatkan deteksi dini fibrilasi atrium dan membuka peluang penanganan lebih awal guna menurunkan risiko stroke.

Cara mengukur denyut nadi

ilustrasi mengukur denyut nadi (freepik.com/freepik)

"Menari" dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, lalu menghitung denyut selama 30 detik dan mengkalikannya dua untuk mendapatkan denyut per menit. Meski denyut nadi normal berkisar antara 60–100 kali per menit, tetapi keteraturan irama juga perlu diperhatikan.

Denyut nadi yang terasa tidak teratur bisa berupa terdapat denyut yang hilang, irama yang bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit, atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit, menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.

Kewaspadaan harus ditingkatkan apabila kondisi tersebut disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak. Gejala-gejala ini memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Editorial Team