Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret kemasan makanan dengan tanggal kedaluwarsa.
ilustrasi makanan kedaluwarsa (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Intinya sih...

  • Makanan kedaluwarsa meningkatkan risiko keracunan makanan dan pertumbuhan bakteri berbahaya, terutama pada produk mudah rusak seperti daging, susu, dan telur.

  • Makanan kedaluwarsa sering kehilangan nilai gizi dan bisa menghasilkan toksin atau jamur berbahaya (mycotoxin).

  • Penanganan setelah makan makanan kedaluwarsa tergantung pada gejala, dan perlu segera ke dokter jika gejala parah atau berisiko dehidrasi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap rumah tangga mungkin menghadapi dilema: makan makanan sudah lewat tanggal yang tercetak di kemasan. Bagi sebagian orang, ini hanya soal kualitas; bagi yang lain, ini bisa jadi berita buruk bagi kesehatan.

Tanggal kedaluwarsa sering dianggap “batas aman,” tetapi kenyataannya, apa yang terjadi di dalam tubuh setelah mengonsumsi makanan yang sudah lewat tanggal itu lebih kompleks.

Label tanggal pada makanan memiliki arti berbeda-beda. Ada yang menunjukkan puncak kualitas, ada yang berkaitan dengan keamanan konsumsi. Istilah seperti “Best if Used By” umumnya lebih berkaitan dengan kualitas rasa dan tekstur, sementara “Use by” adalah panduan terakhir untuk konsumsi aman, terutama pada makanan yang mudah rusak.

Meski label tersebut memberi gambaran, tetapi penting untuk diingat bahwa tanggalnya sendiri bukanlah jaminan mutlak tentang kondisi makanan. Banyak faktor lain, seperti penyimpanan, suhu, dan integritas kemasan, menentukan apakah makanan tersebut benar-benar aman atau sudah berpotensi berbahaya.

Artikel ini akan menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh ketika kamu mengonsumsi makanan kedaluwarsa, langkah apa yang perlu dilakukan jika sudah terlanjur, dan kapan sebaiknya menemui dokter.

1. Risiko keracunan dan penyakit bawaan makanan

Salah satu dampak langsung dari makan makanan yang sudah lewat masa konsumsinya adalah keracunan makanan (foodborne illness). Bakteri, virus, dan parasit dapat berkembang dalam makanan yang sudah kedaluwarsa, terutama pada makanan berisiko tinggi seperti daging, produk susu, telur, dan seafood.

Bakteri umum yang bertanggung jawab atas keracunan termasuk Salmonella, E. coli, dan Listeria, yang masing-masing dapat menyebabkan gangguan pencernaan akut hingga komplikasi berat.

Salmonella, misalnya, dapat menimbulkan diare, demam, dan kram perut beberapa jam setelah konsumsi.

Reaksi tubuh terhadap infeksi semacam itu bervariasi, tergantung pada jumlah bakteri yang tertelan dan kekuatan sistem imun individu.

Pada kasus ringan, gejala bisa terbatas pada mual dan diare, tetapi pada kasus berat dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan memerlukan rawat inap, terutama pada anak kecil, orang tua, dan individu dengan sistem imun lemah.

2. Pertumbuhan jamur dan produksi toksin

ilustrasi mengambil makanan dari kulkas (pexels.com/Kevin Malik)

Selain bakteri, jamur dapat tumbuh pada makanan kedaluwarsa, terutama yang memiliki kelembapan tinggi atau penyimpanan yang tidak tepat.

Tidak semua jamur berbahaya, tetapi beberapa jenis menghasilkan mycotoxin, yaitu racun yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Mycotoxin ini dilaporkan dapat menyebabkan reaksi alergi, gangguan pernapasan, dan bahkan kerusakan hati atau peningkatan risiko kanker dalam jangka panjang jika paparan cukup tinggi.

Bahkan jika kamu hanya menghilangkan bagian makanan yang tampak berjamur, racun bisa sudah menyebar lebih dalam daripada yang terlihat. Oleh karena itu, pedoman keamanan pangan umumnya menyarankan membuang seluruh makanan yang menunjukkan tanda jamur terlihat.

3. Penurunan nilai gizi dan perubahan kimia

Makanan yang melewati tanggal kualitas juga cenderung mengalami penurunan nilai gizi. Vitamin dan antioksidan, misalnya, cenderung rusak seiring waktu terutama jika makanan terpapar cairan, cahaya, atau suhu hangat.

Walaupun ini tidak langsung menyebabkan penyakit akut seperti keracunan, tetapi konsumsi makanan berulang kali yang nutrisi utamanya sudah menurun dapat memengaruhi status nutrisi jangka panjang, terlebih pada kelompok rentan seperti anak sekolah atau lansia.

Selain itu, perubahan kimia dalam makanan tersebut, seperti rancidity (bau tengik) pada lemak, dapat mengiritasi sistem pencernaan dan membuat tubuh bekerja lebih keras dalam proses pencernaan.

Apa yang harus dilakukan jika terlanjur makan makanan kedaluwarsa?

ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)

Jika kamu terlanjur makan makanan yang sudah lewat tanggal konsumsi, reaksi pertama yang perlu dilakukan adalah memantau gejala. Banyak kasus keracunan makanan akan menunjukkan gejala dalam beberapa jam hingga 48 jam setelah konsumsi, termasuk:

  • Mual dan muntah.

  • Diare atau kram perut.

  • Demam ringan.

  • Kehilangan nafsu makan.

Salah satu langkah awal yang disarankan ialah tetap terhidrasi, terutama jika muntah dan diare terjadi, karena cairan dan elektrolit penting bisa cepat hilang. Minum air putih, oralit, atau minuman yang mengandung elektrolit dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Jika gejala ringan seperti sedikit mual atau perubahan kecil dalam pencernaan muncul tetapi hilang dalam 24–48 jam, biasanya kondisi bisa membaik sendiri tanpa perlu perawatan khusus. Meski demikian, jika muncul gejala yang lebih serius, seperti darah dalam tinja, demam tinggi, tanda dehidrasi (mulut kering, urine sedikit atau berwarna gelap), atau gejala tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, segera menemui dokter.

Arti label tanggal pada kemasan makanan

Satu hal penting yang disoroti oleh otoritas keamanan pangan adalah arti label tanggal pada makanan. Di banyak negara, tanggal seperti “Use By” menandakan keamanan konsumsi dan sebaiknya tidak diabaikan untuk makanan mudah rusak, sedangkan label seperti “Best Before” lebih berkaitan dengan kualitas produk.

Oleh karena itu, memahami perbedaan istilah di label makanan dapat membantu mengurangi kebingungan, serta membantu konsumen menilai sendiri apakah makanan aman dikonsumsi atau lebih baik dibuang.

Selain itu, penyimpanan makanan yang benar seperti mendinginkan dengan cepat dan menyimpan di bawah suhu aman (<4°C) serta menghindari kontaminasi silang antara makanan mentah dan matang adalah cara penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang menyebabkan penyakit.

Makanan kedaluwarsa, terutama pada makanan berisiko tinggi seperti daging, produk susu, dan makanan yang mudah rusak, bisa menjadi sumber bakteri, jamur, dan toksin. Risiko terbesarnya adalah keracunan makanan atau infeksi pencernaan, yang bisa ringan sampai berat.

Walaupun banyak makanan masih aman dalam jangka pendek setelah tanggal pada label jika disimpan dengan benar, tetapi perhatian pada tanda-tanda kerusakan seperti bau, perubahan warna, tekstur atau rasa tetap sangat penting. Jika gejala serius muncul setelah makan makanan yang kedaluwarsa, segera temui dokter.

Referensi

"Food Product Dating." USDA. Diakses Februari 2026.

“What Happens When You Eat Food That Is Expired?" Foods.edu.vn. Diakses Februari 2026.

"What To Do If You Mistakenly Eat Expired Food? Clinical Nutritionist Explains." NDTV Food. Diakses Februari 2026.

"Best Before vs Expired Date." Foopak. Diakses Februari 2026.

"Food Safety Guide." Consumernotice.org. Diakses Februari 2026.

Editorial Team