Comscore Tracker

Hepatitis Autoimun: Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatan

Terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati

Hepatitis adalah penyakit yang menyebabkan peradangan hati. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai virus yang menular dan maupun agen yang tidak menular. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), hepatitis menyerang 354 juta orang di seluruh dunia.

Dengan adanya kasus hepatitis akut misterius yang baru-baru ini muncul dan sudah dilaporkan di Indonesia, penting bagi kita untuk mengenal lebih dalam tentang jenis penyakit hepatitis.

Salah satu jenis hepatitis adalah hepatitis autoimun, yang mana ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati. Berikut ini informasinya yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

1. Apa itu hepatitis autoimun?

Hepatitis autoimun adalah penyakit hati yang jarang namun serius. Autoimun berarti tubuh menyerang dirinya sendiri, dan dalam kasus ini ia mengira jaringan dan sel yang terinfeksi dan mengirimkan antibodi (yang biasanya membersihkan tubuh dari infeksi) untuk menyerang sel-sel hati yang sehat, mengutip Cleveland Clinic.

Hepatitis muncul ketika jaringan hati yang sehat menjadi meradang. Apabila tidak diobati, masalah dapat berkembang menjadi sirosis (jaringan parut) hati, dan akhirnya gagal hati. Jika kerusakan hati parah, transplantasi atau cangkok hati mungkin diperlukan.

Hepatitis autoimun dikategorikan menjadi dua jenis:

  • Tipe 1: Ini merupakan jenis yang paling umum dan dapat berkembang pada usia berapa pun. Dilansir Mayo Clinic, sekitar setengah dari orang dengan hepatitis autoimun tipe 1 memiliki gangguan autoimun lainnya, seperti penyakit celiac, artritis reumatoid, atau kolitis ulseratif.
  • Tipe 2: Walaupun orang dewasa dapat mengembangkan hepatitis autoimun tipe 2, tetapi tipe ini lebih umum pada anak-anak dan usia mudah. Penyakit autoimun lainnya mungkin menyertai jenis hepatitis autoimun ini.

2. Gejala

Hepatitis Autoimun: Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatanilustrasi kelelahan ekstrem (unsplash.com/Vladislav Muslakov)

Penyakit ini memengaruhi setiap pasien secara berbeda. Beberapa pasien tidak memiliki gejala apa pun, sementara yang lain mungkin memiliki gejala seperti:

  • Kelelahan atau tingkat energi rendah.
  • Mual.
  • Kulit gatal atau ruam.
  • Kulit berwarna kuning atau di bagian putih mata (jaundice atau penyakit kuning).

Ketika jaringan parut di hati berlanjut dan fungsi hati memburuk, pasien mungkin akan menunjukkan gejala ini:

  • Nyeri sendi.
  • Sakit perut.
  • Perut buncit.
  • Memar dan berdarah.
  • Muntah.
  • Urine berwarna gelap.
  • Feses berwarna terang.
  • Hilangnya periode menstruasi pada perempuan.

3. Penyebab dan faktor risiko

Hepatitis autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang biasanya menyerang virus, bakteri, dan patogen lainnya, malah menargetkan hati. Serangan ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan serius pada sel-sel hati. 

Tidak diketahui secara pasti kenapa tubuh berbalik melawan dirinya sendiri, tetapi para peneliti menduga bahwa hepatitis autoimun dapat disebabkan oleh interaksi gen yang mengendalikan fungsi sistem kekebalan dan paparan virus atau obat-obatan tertentu.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko hepatitis autoimun, yang meliputi:

  • Jenis kelamin perempuan: Walaupun perempuan dan laki-laki dapat mengembangkan hepatitis autoimun, tetapi penyakit ini lebih umum dialami perempuan.
  • Riwayat infeksi tertentu: Hepatitis autoimun bisa berkembang setelah seseorang terinfeksi campak, herpes simpleks, atau virus Epstein-Barr. Penyakit ini juga berkaitan dengan infeksi hepatitis A, B, atau C.
  • Keturunan: Bukti menunjukkan bahwa kecenderungan untuk hepatitis autoimun dapat berjalan dalam keluarga.
  • Memiliki penyakit  autoimun: Orang-orang yang telah memiliki penyakit autoimun, seperti penyakit celiac, artritis reumatoid, atau hipertiroidisme (penyakit Graves atau tiroiditis Hashimoto) mungkin lebih berisiko mengembangkan hepatitis autoimun.

4. Diagnosis

Hepatitis Autoimun: Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatanilustrasi pemeriksaan MRI (pexels.com/MART PRODUCTION)

Penyedia layanan kesehatan akan melihat riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Dilansir Johns Hopkins Medicine, beberapa tes darah laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis hepatitis autoimun meliputi:

  • Tes fungsi hati: Untuk memeriksa peradangan atau kerusakan hati.
  • Tes hitung darah lengkap: Untuk melihat jumlah dan jenis sel dalam darah.
  • Panel koagulasi: Untuk melihat seberapa baik protein pembekuan bekerja.
  • Panel elektrolit: Untuk memeriksa apakah terdapat ketidakseimbangan elektrolit.
  • Antibodi autoimun: Ini digunakan untuk melihat apakah pasien mengidap hepatitis autoimun atau penyakit hati lain dengan gejala serupa.
  • Tes hati lainnya: Dilakukan untuk memeriksa kemungkinan jenis penyakit hati lainnya.

Tes pencitraan mungkin dibutuhkan, seperti:

  • CT-scan: Ini lebih rinci daripada sinar-X standar. Tes ini dapat menunjukkan gambaran rinci dari setiap bagian tubuh, termasuk tulang, otot, lemak, dan organ. Ini menggunakan sinar-X dan teknologi komputer untuk membuat gambar horizontal tubuh.
  • MRI: Tes ini membuat gambar detail organ dan struktur di dalam tubuh. Pewarna dapat disuntikkan ke pembuluh darah. Pewarna membantu hati dan organ lain di perut untuk terlihat lebih jelas pada pemindaian.
  • USG: Ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membuat gambar organ. Ini juga dapat memeriksa aliran darah di pembuluh darah.
  • Biopsi hati: Sampel jaringan kecil diambil dari hati dengan jarum. Sampel ini diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui jenis penyakit hati yang dimiliki.

Baca Juga: Waspadai Hepatitis Akut Misterius, Kenali Gejalanya!

5. Pengobatan

Terlepas dari jenis hepatitis autoimun yang dimiliki, tujuan pengobatan adalah untuk memperlambat atau menghentikan serangan sistem kekebalan pada hati sehingga membantu memperlambat perkembangan penyakit.

Untuk tujuan tersebut, pasien perlu obat yang dapat menurunkan aktivitas sistem kekebalan. Pengobatan awal biasanya prednisone. Obat kedua, yaitu azathioprine, mungkin direkomendasikan selain prednisode.

Prednisone, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan berbagai efek samping serius, termasuk diabetes, osteoporosis, osteonekrosis, tekanan darah tinggi, katarak, glaukoma, dan penambahan berat badan.

Dokter biasanya meresepkan prednisone dengan dosis tinggi selama sekitar bulan pertama pengobatan. Kemudian, untuk mengurangi risiko efek samping, dosis secara bertahap akan diturunkan selama beberapa bulan ke depan hingga mencapai dosis serendah mungkin yang mengendalikan penyakit. Menambahkan azathioprine juga membantu menghindari efek samping prednisone.

Meskipun pasien mungkin mengalami remisi beberapa tahun setelah memulai pengobatan, tetapi penyakit ini sering muncul kembali jika obat dihentikan. tergantung situasi, pasien mungkin perlu perawatan seumur hidup.

6. Komplikasi yang dapat terjadi

Hepatitis Autoimun: Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatanilustrasi hati yang normal vs hati yang mengalami sirosis (commons.wikimedia.org/BruceBlaus)

Hepatitis autoimun yang tidak diobati dapat menyebabkan jaringan parut permanen pada jaringan hati (sirosis). Komplikasi sirosis meliputi:

  • Pembesaran vena di kerongkongan (varises esofagus): Ketika sirkulasi melalui vena portal tersumbat, darah dapat kembali ke pembuluh darah lain, terutama di perut dan kerongkongan. Pembuluh darah berdinding tipis, dan karena diisi dengan lebih banyak darah daripada yang seharusnya mereka bawa, mereka cenderung mengalami perdarahan. Pendarahan besar di kerongkongan atau perut dari pembuluh darah ini adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa yang memerlukan perawatan medis segera.
  • Cairan di perut (asites): Penyakit hati dapat menyebabkan sejumlah besar cairan menumpuk di perut. Asites bisa membuat tidak nyaman dan dapat mengganggu pernapasan dan biasanya merupakan tanda sirosis tahap lanjut.
  • Gagal hati: Kondisi ini terjadi ketika kerusakan luas pada sel-sel hati membuat hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada titik ini, transplantasi hati diperlukan.
  • Kanker hati: Orang dengan sirosis memiliki peningkatan risiko kanker hati.

Apabila hepatitis autoimun didagnosis lebih awal dan diobati dengan tepat, hati mungkin mulai sembuh dan akan mampu memproduksi sel-sel sehat kembali untuk menggantikan sel-sel yang meradang dan jaringan parut. Gejala pasien akan mereda dan hati mungkin akan mulai bekerja secara normal.

Pasien perlu dipantau sepanjang hidupnya, bahkan jika sudah merasa lebih baik dan fungsi hati telah membaik. Dalam banyak kasus, pasien perlu menjalani pengobatan selama sisa hidupnya.

Baca Juga: Hepatitis Akut Misterius: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya