Berikut ini beberapa risiko menggunakan obat antihistamin sebagai obat tidur, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Obat antihistamin generasi lama seperti diphenhydramine dan doxylamine succinate, yang sering dimanfaatkan untuk membantu tidur, memang bisa memicu kantuk dengan cara menurunkan aktivitas histamin di otak.
Akan tetapi, meski membantu tertidur, antihistamin belum terbukti meningkatkan kualitas tidur secara optimal. Bahkan, obat ini bisa membuat tidur terasa kurang nyenyak dan menyisakan efek samping keesokan harinya, seperti mulut kering, pusing ringan, atau koordinasi tubuh terganggu.
Jika antihistamin digunakan terus-menerus untuk insomnia, tubuh bisa cepat membentuk toleransi—efek mengantuknya berkurang, sehingga dosis mungkin harus dinaikkan.
Hal ini berisiko memicu ketergantungan psikologis, bahwa kamu merasa tidak bisa tidur tanpa pil. Dalam studi populasi di Arab Saudi terhadap pengguna sleep aid berbasis diphenhydramine, banyak yang melaporkan efek seperti pusing atau kehilangan keseimbangan.
Antihistamin generasi lama memiliki sifat antikolinergik, yaitu memengaruhi neurotransmiter otak yang penting untuk fungsi memori dan kognisi.
Pemakaian antikolinergik berkepanjangan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kognitif, termasuk demensia, terutama pada orang lanjut usia.
Bagi ibu hamil dan menyusui, penggunaan antihistamin sebagai obat tidur harus ekstra hati-hati. Beberapa antihistamin memang dinyatakan aman untuk alergi, tetapi tidak direkomendasikan untuk pemakaian rutin sebagai alat bantu tidur.
Karena faktor keamanan jangka panjang belum jelas, hindari penggunaan berlebihan. Konsultasikan dengan dokter sangat dianjurkan mengenai obat tidur yang aman.