Lebaran bukan hanya soal makanan, tetapi juga emosi. Perjalanan mudik, kelelahan, hingga tekanan sosial bisa menjadi sumber stres. Stres emosional diketahui dapat memicu:
Stres akut diketahui dapat menjadi pemicu langsung serangan jantung, terutama pada individu dengan penyakit jantung sebelumnya.
Faktor lain yang sering terlewat adalah keterlambatan mencari pertolongan. Saat liburan:
Banyak orang cenderung mengabaikan gejala.
Fasilitas kesehatan mungkin terbatas.
Waktu respons menjadi lebih lambat.
Penelitian menunjukkan bahwa pasien serangan jantung yang datang ke rumah sakit saat libur cenderung memiliki hasil yang lebih buruk, sebagian karena keterlambatan penanganan.
Risiko serangan jantung saat libur Lebaran bukanlah mitos. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan kejadian yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup, stres, dan pola makan selama periode liburan.
Kabar baiknya, risiko ini bisa dikendalikan. Menjaga pola makan tetap seimbang, tidak berlebihan, tetap aktif bergerak, serta peka terhadap gejala seperti nyeri dada atau sesak napas adalah langkah sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa.
Referensi
David P. Phillips et al., “Cardiac Mortality Is Higher Around Christmas and New Year’s Than at Any Other Time,” Circulation 110, no. 25 (December 21, 2004): 3781–88, https://doi.org/10.1161/01.cir.0000151424.02045.f7.
Moman A Mohammad et al., “Christmas, National Holidays, Sport Events, and Time Factors as Triggers of Acute Myocardial Infarction: SWEDEHEART Observational Study 1998-2013,” BMJ 363 (December 12, 2018): k4811, https://doi.org/10.1136/bmj.k4811.
American Heart Association. "Heart Attack and Stroke Statistics." Diakses Maret 2026.
World Health Organization. "Cardiovascular Diseases (CVDs)." Diakses Maret 2026.
Stefan N. Willich et al., “Physical Exertion as a Trigger of Acute Myocardial Infarction,” New England Journal of Medicine 329, no. 23 (December 2, 1993): 1684–90, https://doi.org/10.1056/nejm199312023292302.