Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Risiko Serangan Jantung saat Libur Lebaran, Mitos atau Nyata?
ilustrasi serangan jantung pada lansia (vecteezy.com/Tonefoto grapher)
  • Risiko serangan jantung memang meningkat saat masa liburan, termasuk periode seperti Lebaran.

  • Faktor pemicunya meliputi pola makan, stres emosional, perubahan rutinitas, dan keterlambatan penanganan.

  • Fenomena ini didukung oleh berbagai studi internasional, sehingga bukan cuma mitos.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Periode libur Lebaran atau Idul Fitri erat dengan kumpul-kumpul, makanan berlimpah, dan perubahan rutinitas harian. Di satu sisi, ini bisa menyenangkan. Namun di sisi lain, tubuh juga menghadapi berbagai “kejutan”, dari pola makan hingga pola tidur yang berubah drastis.

Dalam dunia medis, ada fenomena peningkatan kejadian serangan jantung saat periode libur panjang. Pertanyaannya, apakah ini hanya kebetulan, atau memang ada mekanisme biologis yang menjelaskan risikonya?

1. Studi menunjukkan risiko serangan jantung meningkat saat libur

Beberapa penelitian menunjukkan adanya lonjakan kasus serangan jantung pada periode liburan.

Salah satu penelitian menemukan bahwa angka kematian akibat penyakit jantung meningkat signifikan pada akhir Desember hingga awal Januari. Pola ini menunjukkan bahwa momen libur besar berkaitan dengan peningkatan risiko kardiovaskular.

Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa risiko serangan jantung meningkat selama periode liburan, dengan faktor seperti perubahan rutinitas dan perilaku kesehatan sebagai penyebab utama.

Meski penelitian-penelitian tersebut banyak dilakukan di konteks Natal dan Tahun Baru, tetapi prinsipnya tetap relevan untuk Lebaran karena kesamaan pola, seperti:

  • Konsumsi makanan tinggi lemak dan gula.

  • Aktivitas fisik menurun.

  • Pola tidur terganggu.

  • Stres emosional meningkat.

2. Pola makan dan gaya hidup jadi pemicu utama

ilustrasi makan saat Lebaran (pexels.com/David Tumpal)

Salah satu faktor terbesar adalah perubahan pola makan yang drastis. Hidangan Lebaran cenderung:

  • Tinggi lemak jenuh (opor, rendang).

  • Tinggi gula (kue kering, sirop, minuman berpemanis buatan).

  • Tinggi garam.

Konsumsi berlebih lemak jenuh, gula, dan natrium dapat meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol, dan risiko pembekuan darah—semua merupakan faktor risiko serangan jantung.

Selain itu, porsi makan cenderung lebih besar, peningkatan frekuensi makan, serta penurunan aktivitas fisik—kombinasi ini dapat memicu lonjakan tekanan darah dan beban kerja jantung secara tiba-tiba, terutama pada individu dengan faktor risiko seperti hipertensi atau diabetes.

Penelitian juga menunjukkan bahwa makan dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kejadian jantung akut dalam beberapa jam setelah konsumsi.

3. Stres, emosi, dan keterlambatan penanganan

Lebaran bukan hanya soal makanan, tetapi juga emosi. Perjalanan mudik, kelelahan, hingga tekanan sosial bisa menjadi sumber stres. Stres emosional diketahui dapat memicu:

  • Peningkatan hormon stres (kortisol, adrenalin).

  • Lonjakan tekanan darah.

  • Gangguan irama jantung.

Stres akut diketahui dapat menjadi pemicu langsung serangan jantung, terutama pada individu dengan penyakit jantung sebelumnya.

Faktor lain yang sering terlewat adalah keterlambatan mencari pertolongan. Saat liburan:

  • Banyak orang cenderung mengabaikan gejala.

  • Fasilitas kesehatan mungkin terbatas.

  • Waktu respons menjadi lebih lambat.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien serangan jantung yang datang ke rumah sakit saat libur cenderung memiliki hasil yang lebih buruk, sebagian karena keterlambatan penanganan.

Risiko serangan jantung saat libur Lebaran bukanlah mitos. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan kejadian yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup, stres, dan pola makan selama periode liburan.

Kabar baiknya, risiko ini bisa dikendalikan. Menjaga pola makan tetap seimbang, tidak berlebihan, tetap aktif bergerak, serta peka terhadap gejala seperti nyeri dada atau sesak napas adalah langkah sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa.

Referensi

David P. Phillips et al., “Cardiac Mortality Is Higher Around Christmas and New Year’s Than at Any Other Time,” Circulation 110, no. 25 (December 21, 2004): 3781–88, https://doi.org/10.1161/01.cir.0000151424.02045.f7.

Moman A Mohammad et al., “Christmas, National Holidays, Sport Events, and Time Factors as Triggers of Acute Myocardial Infarction: SWEDEHEART Observational Study 1998-2013,” BMJ 363 (December 12, 2018): k4811, https://doi.org/10.1136/bmj.k4811.

American Heart Association. "Heart Attack and Stroke Statistics." Diakses Maret 2026.

World Health Organization. "Cardiovascular Diseases (CVDs)." Diakses Maret 2026.

Stefan N. Willich et al., “Physical Exertion as a Trigger of Acute Myocardial Infarction,” New England Journal of Medicine 329, no. 23 (December 2, 1993): 1684–90, https://doi.org/10.1056/nejm199312023292302.

Editorial Team