Evolusi pemahaman terhadap hantavirus di Indonesia dibagi menjadi empat era krusial, dari sekadar pengamatan populasi hewan hingga konfirmasi infeksi pada manusia secara molekuler.
1. Era survei awal (1984–1990): fokus pada pintu masuk negara
Pada pertengahan 1980-an, perhatian otoritas kesehatan difokuskan di pelabuhan sebagai gerbang utama penyebaran penyakit melalui kapal dagang.
1984–1985: Survei tikus di pelabuhan besar seperti Padang dan Semarang mengejutkan para peneliti. Ditemukan bahwa 7,9 persen hingga 40,3 persen populasi tikus positif terpapar virus jenis Hantaan atau Seoul. Ini membuktikan reservoir virus sudah ada ekosistem urban Indonesia.
1989: Indonesia mencatatkan kasus hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) pertama di Yogyakarta, menandakan virus mulai melompat dari inang hewan ke manusia.
1991: Data menunjukkan tingginya risiko bagi pekerja di sektor maritim, dengan prevalensi mencapai 28,9 persen pada pekerja pelabuhan di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
2. Puncak survei epidemiologi (1995–2009): pemetaan nasional
Memasuki era 90-an akhir, deteksi mulai meluas melampaui area pelabuhan.
1995–1996: Di Tanjung Priok, Jakarta, ditemukan bahwa 28,4 persen tikus got (Rattus norvegicus) membawa virus. Secara bersamaan, 10 kasus serologi positif ditemukan pada pasien di Semarang dan Yogyakarta.
2002: Sebuah temuan penting di Semarang mengungkap bahwa 10 persen pasien yang awalnya didiagnosis DBD ternyata positif hantavirus setelah diuji ulang secara spesifik. Ini memperkuat teori bahwa gejala klinis penyakit ini sering tersamarkan oleh penyakit tropis lainnya.
2000-2009: Para ilmuwan menemukan Serang virus (SERV) di Banten, sebuah strain lokal yang mengonfirmasi keberagaman genetik hantavirus di Indonesia.
3. Era konfirmasi molekuler (2015–2019): akurasi diagnostik
Sebelum 2015, sebagian besar deteksi bergantung pada uji antibodi (serologi). Namun, teknologi RT-PCR mulai mengubah peta deteksi.
2015–2016: Dua kasus infeksi Seoul virus dikonfirmasi lewat PCR di Jakarta dan Surabaya. Ini adalah bukti virus aktif bereplikasi pada pasien lokal.
2017: Seorang turis Jerman yang baru kembali dari Sulawesi didiagnosis HFRS. Melalui uji immunoblot dan PCR, terdeteksi strain virus identik dengan yang ditemukan di wilayah Indonesia Tengah, memicu perhatian internasional terhadap keamanan wisata di Indonesia.
4. Ledakan kasus dan awareness (2025–2026)
Tahun 2025 menjadi titik balik di mana hantavirus tidak lagi dianggap sebagai kasus sporadis langka.
Maret 2025: Empat kasus muncul hampir bersamaan di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Yogyakarta. Pola penyebaran yang tersebar menunjukkan pengawasan lingkungan (sanitasi) sedang mengalami tekanan besar.
Mei–Juni 2025: Klaster di Jawa Barat mencatatkan 8 kasus HFRS yang dikonfirmasi. Kasus buruh bangunan di Bandung Barat menjadi headline yang memaksa pemerintah meningkatkan protokol deteksi dini di puskesmas.
2026: Munculnya kasus-kasus sporadis di kawasan pemukiman padat sekitar pelabuhan, mengonfirmasi bahwa tikus urban tetap menjadi ancaman utama dalam transmisi virus ini.