Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Imbauan Kemenkes untuk Cegah Hantavirus, Termasuk Pengendalian Tikus

Imbauan Kemenkes untuk Cegah Hantavirus, Termasuk Pengendalian Tikus
ilustrasi tikus yang dapat menyebarkan hantavirus (unsplash.com/slyfox photography)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Kemenkes menyoroti kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan beberapa kematian, menegaskan virus ini sebagai zoonosis berbahaya yang menular lewat debu terkontaminasi kotoran tikus.

  • Hantavirus memiliki dua bentuk utama, HFRS dan HPS, dengan tingkat fatalitas tinggi hingga 50 persen; di Indonesia paling sering ditemukan tipe Seoul virus dari tikus rumah.

  • Pencegahan difokuskan pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi, edukasi masyarakat, serta surveilans terpadu agar risiko penularan dapat ditekan secara efektif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Beberapa waktu belakangan ramai diberitakan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik, yang dilaporkan menyebabkan 3 kematian dan setidaknya 5-8 kasus terkonfirmasi.

Infeksi hantavirus diketahui dapat berpotensi fatal. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutnya sebagai zoonosis emerging yang bisa berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang sering tidak menyadari keberadaannya. Alasannya karena penularannya melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.

Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urine, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.

Penularan terjadi melalui aerosolized excreta dari hewan pengerat. Artinya, kamu tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.

Table of Content

Bentuk infeksi hantavirus yang berbahaya

Bentuk infeksi hantavirus yang berbahaya

Hantavirus tidak hanya satu jenis penyakit. Ada dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya.

Pertama adalah hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal.

Kedua adalah hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Bentuk ini lebih sering ditemukan di Amerika, menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut dan gagal napas. 

Case fatality rate (CFR) hantavirus bisa sangat tinggi, bahkan mencapai hingga 50 persen pada beberapa tipe virus.

Di Indonesia sendiri, virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Tikus jenis ini hidup dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar.

Langkah pengendalian hantavirus

ilustrasi bersih-bersih lingkungan (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi bersih-bersih lingkungan untuk meminimalkan risiko hantavirus (pexels.com/Lara Jameson)

Pengendalian hantavirus bergantung pada pengekangan populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi masyarakat, hingga surveilans berbasis risiko.

Pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan dan edukasi risiko kepada masyarakat.

  • Integrasi surveilans. Hantavirus perlu masuk dalam sistem surveilans sindromik (demam akut tidak terdiagnosis), bukan hanya surveilans penyakit spesifik.
  • Penguatan diagnosis. Pemeriksaan serologi dan PCR harus diperluas, terutama di rumah sakit rujukan.
  • Pengendalian rodensia berbasis komunitas. Program pengendalian tikus harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan lingkungan.
  • Edukasi publik. Masyarakat perlu memahami bahwa menyapu rumah yang penuh debu tikus tanpa perlindungan bisa menjadi risiko infeksi.
  • Integrasi dengan program eksisting. Pendekatan ini dapat disinergikan dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), program kesehatan lingkungan serta pengendalian zoonosis.

Hantavirus bukan penyakit baru. Menurut bukti yang ada, virus ini sudah beredar di Indonesia, reservoirnya melimpah, diagnosisnya masih terbatas, serta dampaknya bisa fatal. Tak perlu panik, tetapi tak ada salahnya untuk lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan.

Cara mencegah terpapar hantavirus

Untuk mencegah terpapar hantavirus, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk:

  • Tetap menerapkan protokol kesehatan dengan:
    • Cuci tangan pakai sabun atau pakai hand sanitizer.
    • Terapkan etika batuk dan bersin.
  • Menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat (tikus/celurut) atau urine, kotoran, atau air liur (ekskresi dan sekresi).
  • Menjaga kebersihan area tempat tinggal dan tempat kerja.
  • Menyimpan makanan dan minuman dengan aman. Gunakan tudung saji atau wadah tertutup untuk menyimpan makanan/minuman dari kemungkinan kontaminasi hewan pengerat.
  • Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah rodensia masuk ke dalam rumah.
  • Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah ke infeksi hantavirus (demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise, ikterik/jaundice atau batuk dan sesak napas).

Referensi

"Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?". Kemenkes BKPK. Diakses Mei 2026.

"SPOT REPORT PENYAKIT INFEKSI EMERGING 4 MEI 2026." Kemenkes. Diakses Mei 2026.

"Bagaimana cara mencegah terpapar Hantavirus?" Kemenkes. Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More